Petition Closed
Petitioning Hakim Ketua - Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Dr. I Dewa Gede Palguna

Legalisasi Pernikahan Sesama Jenis di Indonesia

Legalisasi Pernikahan Sesama Jenis di Indonesia

Memperhatikan kondisi, Rakyat Indonesia yang kini berjumlah sekitar 250.000.000, serta peningkatan kualitas SDM. 

1. Pernikahan

 Sesuai dan mengikuti hati nurani yang paling dalam, pengertian sebuah pernikahan ialah untuk menyatukan dua insan manusia dalam sebuah hubungan suci, dan mempererat hubungan keluarga di kedua belah pihak baik dengan latar belakang yang berbeda. Sekaligus untuk menciptakan kerukunan yang tentunya dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, terlepas dan berbanding harmonis pada batasan agama, dan kepercayaan ataupun hukum perundangan dari pemerintah, atau lingkungan setempat.

Referensi: 

Pandangan dalam Islam, Surat An Nisa,Quran  4:18 - 21 (Hubungan) , Surat Al-'Aĥzāb, Quran 33: 6-7 (Kebenaran) http://quran.com

 2. LGBTQIA dan definisi orientasi seksual

Sebelumnya kita lebih sering menyaksikan seorang pria dan wanita, hubungan heteroseksual. Ketika homoseksual, hubungan sesama jenis. Ini alami, terjadi di berbagai tempat, dan waktu.

Lesbian (L), seorang yang terlahir sebagai wanita mencintai seorang wanita. Gay (G), seorang yang terlahir pria dan mencintai seorang pria. Biseksual (B), seorang yang terlahir pria atau wanita, tidak hanya mencintai lawan jenis, namun juga sesama jenis. Transgender (T), atau sering dikenal waria, yang terlahir dengan fisik pria atau wanita, namun dengan nurani wanita, atau pria, karenanya tidak sedikit yang melakukan bedah kelamin. Question (Q), bisa dikatakan dalam posisi pertanyaan, atau  tidak ingin didefinisikan dalam kata lainnya. Intersex (I), yang biasanya terlahir sebagai pria atau wanita, dengan keadaan fisik dimana diantara pria dan wanita. Asexual (A), seorang yang terlahir sebagai pria atau wanita, dengan tanpa ketertarikan pada aktivitas seksual. 

Referensi:

Pandangan dalam dunia Kedokteran: (Faktor Keturunan, 1993 Dean Hamer) http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/assault/genetics/nyreview.html

3.Melirik Sejarah, dan perkembangannya seperti apa

a. Indonesia, yang mana kental akan sejarah dan budaya, Hindu tentunya tidak jauh berbeda dengan kebudayaan Hindu di India. Bisa kita lihat disekitar kita, di seluruh Indonesia, dan di sekitar anda.   

Referensi: 

Arsitektur: https://www.sscnet.ucla.edu/southasia/Culture/Archit/Khajur.html 

Sejarah: http://www.religionfacts.com/homosexuality/hinduism.htm ;

Organisasi Keagaamaan: http://www.galva108.org/

 b. Bukanlah Penyakit, beberapa fakta

Referensi:

Klasifikasi Penyakit:http://www.who.int/classifications/icd/en/bluebook.pdf

Kesehatan Mental: http://psychology.ucdavis.edu/faculty_sites/rainbow/html/facts_mental_health.html

Orientasi Seksual: http://www.apa.org/helpcenter/sexual-orientation.aspx

 

c. Pernyataan Dunia, beberapa pengakuan 

Referensi:

Perserikatan Bangsa Bangsa: https://www.unfe.org/ ;

Principals Yogyakarta: http://www.yogyakartaprinciples.org/

 

4. Hukum dan Perundangan Indonesia, menyatakan secara terbuka 

UU Perkawinan di Indonesia, UU No 1, 1974. 

Syarat Perkawinan (interpretasi, dibawahnya. baca INT)

Pasal 6

(1) Perkawinan didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.

INT: kedua calon mempelai, menyetujui.

(2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua.

INT: setelah umur 21 tahun, mereka berhak tanpa persetujuan orang tua.

(3) Dalam hal seorang dari kedua orang tua meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin yang dimaksud ayat (2) pasal ini cukup diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya.

INT: sudah jelas, (INT.2)

(4) Dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu untuk menyatakan kehendaknya, maka izin diperoleh dari wali orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke atas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan menyatakan kehendaknya.

INT. sudah jelas (INT 2,3)

(5) Dalam hal ada perbedaan antara orang-orang yang dimaksud dalam ayat (2), (3) dan (4) pasal ini, atau salah seorang atau lebih diantara mereka tidak menyatakan pendapatnya, maka pengadilan dalam daerah tempat tinggal orang yang akan melangsungkan perkawinan atas permintaan orang tersebut dapat memberikan ijin setelah lebih dahulu mendengar orang-orang yang tersebut dalam ayat (2), (3) dan (4) dalam pasal ini.

INT. sudah jelas (INT 2,3,4)

(6) Ketentuan tersebut ayat (1) sampai dengan ayat (5) pasal ini berlaku sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.  

INT. sudah jelas, kembali ke agama dan kepercayaan masing - masing. 

 

Hak dan Kewajiban Suami Istri

Pasal 33

Suami isteri wajib saling saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain.  

INT. suami isteri, adalah penyebutan nama. selanjutnya penyebutan nama bagi calon kedua mempelai, untuk pasangan heteroseksual dan homoseksual adalah "penyebutan nama"


Referensi:

Perkawinan: http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/UU1-1974Perkawinan.pdf

Pernikahan beda agama: http://www.dw.de/uji-materi-untuk-sahkan-pernikahan-beda-agama/a-17903533

Halal tidak halal: http://muslimina.blogspot.com/2014/06/timses-jokowi-halal-menikah-sesama.html

 

 5. Pernikahan Sesama Jenis Untuk Turut Menciptakan Rakyat Indonesia Sehat 2020.

Pertama, ILUSTRASI:

Sebuah ilustrasi, seorang anak terlahir di Denpasar, Bali, Indonesia dengan ketatnya tradisi, pernikahan menjadi salah satu kewajiban setiap orang tua. Hal yang sama di setiap pulau, daerah, dan provinsi di Indonesia.

Di sisi lain, menyimak tidak sedikitnya Biseksual di Bali, atau Indonesia umumnya tentunya membuktikan bagi kita semua, pentingnya sebuah KEJUJURAN, atau KETERBUKAAN terhadap identitas diri seksualitas.

Hukum alam saat ini di Indonesia mungkin berkata lain, rakyat Indonesia dengan orientasi seksualitas yang berbeda, atau bisa dikenal dengan kaum LGBTQIA menikah (mengikuti tradisi heteroseksual ), terkadang dan hanya untuk menutupi kenyataan orientasi seksual yang sebenarnya, disisi lain kita melihat dan menyaksikan PERSELINGKUHAN terjadi di tempat, dan dalam waktu yang berbeda, berulang kali. Dengan demikian secara tidak langsung kita mendukung PERSELINGKUHAN ?

Kedua, DISKRIMINASI:

Diskriminasi, bahkan penganiayaan atau kekerasan atas seseorang dengan orientasi seksual yang berbeda, sering terjadi di keluarga, sekolah, tempat kerja, dan tempat umum. Secara tidak langsung tentunya berpengaruh pada kepribadian, dan pola pikir sang anak, dan lebih parah lagi depresi pada usia dini. Depresi ini timbul dengan tidak adanya penerimaan diri dengan orientasi seksual yang berbeda, sebagaimana masyarakat pahami secara luar dan juga tidak adanya penerimaan dari keluarga secara tidak langsung berakibat pada kecanduan murung yang tidak sewajarnya, merokok, obat-obatan, alkohol, seksual, jarum suntik, hingga bunuh diri. Hal ini mungkin mengingatkan kita kembali Pendidikan Seks sejak dini, perlu disertai bersamaan Pembentukan Karakter Anak.

Dengan melihat kejadian ini, tentunya kita telah  KEHILANGAN salah satu, ribuan, bahkan jutaan ASET BANGSA dan tanpa kita sadari kembali, tindakan dan diskriminasi kita menjadi penyebabnya. Bukankah setiap agama mengajarkan, hidup ada karena CINTA ?

Ketiga, PENERIMAAN DIRI:

Seseorang yang telah mampu menerima kenyataan akan orientasi seksual mereka, disertai dukungan keluarga, dan kerabat tentunya berdampak beda, bahkan bisa berkontribusi banyak pada nusa dan bangsa. Jika kita lihat sepanjang sejarah hingga kini dan bisa dilihat disekitar anda, dan dunia ? Penerimaan diri, berarti penerimaan akan diri baik secara fisik, dan spiritual segenap jiwa dan raga. Hal ini membangkitkan sisi positif, yang secara tidak langsung membentuk sel kekebalan tubuh. Oleh karenanya, orang demikian tampak bahagia dalam setiap kesempatan, suka dan duka.Lebih terlihat seimbang di dalam menghadapi kehidupan.

Keempat, DEPRESI - (BAHAGIA, CINTA SEHAT):

Terkait menuju Rakyat Indonesia Sehat 2020, dan kembali menyimak asal usul atau akar sebuah penyakit, dan tentunya telah menjadi suatu rahasia umum bagi kita semua dimana rasa BAHAGIA adalah obat pencegah, dan obat penyembuh, serta diantaranya.  BAHAGIA itu bisa ditularkan, dan semakin banyak individu yang BAHAGIA, tentunya Indeks Kebahagiaan Indonesia akan meningkat, dan secara tidak langsung mempengaruhi peradaban budaya Indonesia yang sehat dan bahagia, termasuk penurunan angka kekerasan, dan kriminalitas. 

A. DEPRESI terjadi, secara tidak langsung karena kita tidak mampu menerima definisi BAHAGIA setiap individu. Dan hal ini banyak, dan hampir terjadi pada setiap individu, dengan orientasi seksual yang berbeda. Baik ketika, tidak diterimanya kehadiran mereka pada keluarga, sehingga harus meninggalkan keluarga, di rumah asal, begitu pula ketika mereka harus menutupi orientasi seksual mereka yang sebenarnya, hingga hari kematian tiba. Depresi yang berkepanjangan, secara  tidak langsung dapat menimbulkan rasa tidak aman dalam diri, sehingga sel kanker itu tercipta. 

B. Definisi BAHAGIA tentunya berbeda dalam setiap individu, dan melakukan aktivitas seksual sejauh berdasarkan cinta, bukanlah kriminal, namun sebuah ikatan suci sebagaimana kita berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini, tentunya berbeda ketika kita berada di tengah masyarakat yang menganut agama, dan berbudaya memandang hal seperti demikian dosa, dan tidak bermoral. Disisi lain, tindakan ini menjadi kriminal ketika mereka harus melakukan aktivitas seksual secara kucing-kucingan bersama aparat keamaanan, atau perasaan bersalah karena diskriminasi dari masyarakat, atau agama. Karenanya, penguatan definisi bahagia harus jelas, dan dipertahankan.

C. Prinsip yang sama ketika, dua pasangan pria dan wanita direstui oleh kedua orangtua akan pernikahan, bukan karena SARA, namun berdasarkan cinta. Bukankah ini yang telah kita pelajari dalam setiap agama dan kepercayaan kita. Lalu, apakah ini berbeda dengan sesama jenis, hubungan dan pernikahan berdasarkan cinta. Tidakkah kita juga berBAHAGIA ketika melihat, anak, saudara-saudari, atau mungkin orang tua, paman bibi, atau atau teman lainnya terbuka dan berbahagia sejak awal dan selamanya,  dan bukan sebaliknya DEPRESI menutupi diri dengan identitas orientasi seksual mereka seumur hidup mereka, dengan kebahagaian palsu. 

Dengan kombinasi ini, setiap level Depresi setiap individu, tentunya dapat diatasi dengan formula Bahagia, Cinta yang Sehat. Oleh karenanya, sangat penting setiap individul LGBTQIA, berbahagia dengan orientasi seksual mereka.  Sehingga cinta yang sehat, akan berakumulasi pada tingkat kebahagiaan, dan secara tidak langsung depresi dapat dikurangi, hingga nihil dalam beberapa tahun kelak. 

 

Kelima, HIV+,AIDS - 0

Hubungan Jangka Panjang, pasangan sesama jenis.

Melirik fenomena gunung es HIV+, dan AIDS di Indonesia, dan pengobatan terlepas dari kepentingan lainnya, kita tentunya memahami ada apa di balik fenomena ini ?

Poin 1. Sejauh ini banyak anak remaja terlepas dari depresi, sehingga mengenal cinta secara aktivitas seksual. Kita lihat, tidak sedikit pria dan wanita dari berbagai daerah di Indonesia, tinggal di Bali, begitu juga dari Bali keluar daerah karena orientasi seksual yang berbeda. Sehingga memiliki paling tidak angin segar akan menjadi diri sendiri. Disisi lain, peningkatan aktivitas seksual, bahkan diluar kewajaran, atau mengarah lainnya, bahkan mungkin praktik bisnis. 

Poin 2. Terlepas dari rasa kemarahan, dendam dimana kita pahami tidak sedikit penderita HIV+, AIDS tidak bercerita status mereka, terus terang, sehingga ini tidak hanya membuat deteksi, atau pengobatan HIV+, dan AIDS menjadi lahan bisnis masa depan, tanpa kendali. Terlebih lagi, secara tidak langsung menjadi angin lalu bagi kebanyakan, karena iklim bisnis itu telah tercipta ibarat perang dingin. Perang Dunia Ke-3, baca Sejarah HIV+,AIDS dan penyebarannya. Hingga, ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, hingga akhir kiamat.

Seorang suami, ke tempat lokalisasi, terinfeksi kemudian menularkan ke istri dan (anak dalam kandungan) di rumah. Hal yang sama, terjadi jika beliau Biseksual, pria dan wanita. Dan selanjutnya, hal yang sama terjadi berulang kali.

Hipotesis. 

Kembali kita melihat poin 1,dan 2. Seandainya kita mampu untuk menerima apa adanya, status dan kenyataan orientasi seksual setiap individu, dan merestui hubungan cinta setiap pasangan, secara tidak langsung kita telah mengurangi kasus HIV+, AIDS di Indonesia dari kalangan LGBTQIA, dengan hubungan relasi jangka panjang hingga pernikahaan seumur hidup, disamping dengan adanya pendidikan seksual sejak dini. Penderita HIV+,AIDS diasumsikan juga bertahan karena adanya cinta, dan dukungan, karena hal ini yang menjadi motor penggerak dalam kekebalan tubuh, kembali prinsip BAHAGIA.

 

Keenam, TERAPI dan KONVERSI

Mungkin tidak jarang kita mengalami ketika remaja, atau dalam kesulitan. Kerabat, dan keluarga bahkan menyarankan, atau secara paksa untuk terapi, untuk sebuah konversi orientasi seksual sebagaimana yang mereka diharapkan. Sayangnya jika kita lemah dalam keseimbangan hidup individu dan menyaksikan secara jujur akan dampak negatif dari terapi konversi seperti ini bahkan lebih buruk, terlebih lagi akan mengarah pada keinginan besar dan berulang kali akan bunuh diri daripada penerimaan mereka apa adanya yang tentunya dapat kita lakukan, untuk bertahan hidup dan hidup yang berkualitas.

Secara hukum alam sebuah konversi, untuk mengubah sesuatu tersebut memiliki konsekuensi terburuk, tidak hanya dalam waktu pendek, namun jangka panjang. Sebuah destruksi diri, yang tentunya berdampak pada diri setiap individu, keluarga, hingga pada masa depan nusa dan bangsa. Bisa dilihat bagaimana kehidupan militer berlaku di hampir setiap keluarga di Indonesia. 

 

Pernikahan Sesama Jenis, secara tidak langsung, bertujuan untuk mengurangi bahkan menghilangkan diskriminasi selama ini pada kaum LGBTQIA, atau individu dengan orientasi seksual yang berbeda di Indonesia, dengan berbagai usia, agama, dan kepercayaan serta latar belakang. Dengan demikian proses edukasi, berjalan ibarat dalam tatanan tata surya, fokus dan dan sekitarnya sebagai pendukung. Fokus disini mengarah pada individu LGBTQIA, dan dimana di kelilingi pendukung keluarga, kerabat, dan teman.

Dengan demikian, diharapkan pernikahan ini meningkatkan kualitas cinta yang sehat, serta peningkatan perasaaan bahagia setiap individu, dan mengurangi depresi, bahkan penyakit lainnya yang mungkin timbul.

Pada akhirnya kita dapat ambil kesimpulan, Pernikahan Sesama Jenis dapat dan mampu untuk berakumulasi pada peningkatan kualitas setiap Individu LGBTQIA, serta keluarga, kerabat dan teman lingkungan sekitar. Kebahagiaan setiap individu LGBTQIA, dengan berbeda orientasi seksual merupakan kebahagiaan kita bersam. Ibarat sebuah sapu lidi, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Akhirnya, dengan harapan Ketahanan Nasional sebuah bangsa bisa terwujud secara nyata.  

Terima kasih, dan semoga yang terbaik untuk Indonesia.

 

Hormat Saya,

I Nyoman Tenaya Santika 

 

This petition was delivered to:
  • Hakim Ketua - Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
    Dr. I Dewa Gede Palguna


    I Nyoman Tenaya Santika started this petition with a single signature, and now has 138 supporters. Start a petition today to change something you care about.




    Today: I Nyoman Tenaya is counting on you

    I Nyoman Tenaya Santika needs your help with “Legalisasi Pernikahan Sesama Jenis di Indonesia”. Join I Nyoman Tenaya and 137 supporters today.