Bebaskan Mursidah Dari Semua Tuntutan

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


LHOKSEUMAWE — Seorang ibu rumah tangga dari Gampong Meunasah Mesjid Cunda Lhokseumawe, Mursidah harus berurusan dengan hukum lantaran memprotes dugaan kecurangan harga gas elpiji yang dilakukan sebuah pangkalan gas elpiji di Lhokseumawe.

Informasi yang dihimpun ACEHSATU.com, kejadian itu terjadi setahun lalu atau tepatnya pada Oktober 2018.

Hingga Kamis (31/10/2019), kemarin, Mursidah sudah mengikuti 12 kali persidangan.

Kronologi kasus itu dimulai saat Mursidah membongkar salah satu pangkalan LPG yang menimbun Gas 3 Kg yang notabene gas bersubsidi untuk masyarakat miskin.

Trik yang diduga digunakan pihak pangkalan adalah dengan melepas segel penutup untuk membuktikan gas sudah kosong dan diletakkan paling bawah dalam penyusunan gas.

Sehingga ketika masyarakat miskin datang membeli, pihak pemilik pangkalan menyampaikan sudah habis.

Namun Mursidah dengan beraninya menerobos masuk ke dalam untuk melihat langsung dan ternyata setelah Mursidah mengambil gas yang ditelakkan paling bawah dan segel telah terbuka ternyata masih ada isinya.

Namun pemilik pangkalan gas melaporkan Mursidah ke polisi.

Mursidah lalu ditetapkan sebagai tersangka dalam pasal 406 KUHP perusakan barang.

Setelah melalui 12 kali persidangan, majelis hakim Pengadilan Negeri Lhokseumawe akan memutuskan perkara tersebut pada 5 November 2019.