E-Voting untuk Pemilu yang Transparansi dan Efektif

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Pemilu Serentak yang dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019 merupakan gebrakan baru yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengefisiensikan kegiatan demokrasi. Pada Pemilu tersebut telah dilakukan 5 Pemilihan yaitu Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden , DPR, DPD, DPRD PRV, DPRD KAB. Dalam Pelaksanaan Pesta Demokrasi tersebut sangat menyita waktu dan tenaga dikarenakan pada pemilu-pemilu sebelumnya hanya ada 2 Pemilihan Presiden dan DPR. 

Pada Pemilu Serentak memerlukan biaya hingga 25 Triliun. Anggaran dana yang cukup fantastik. Selain anggaran dana yang dikeluarkan oleh KPU untuk Pemilu Serentak adapun dana yang dikeluarkan untuk bantuan yang diberikan kepada korban yang mengalami sakit setelah menjadi KPPS. KPPS yang menjadi korban sakit dan meninggal hingga mencapai total angka 11.000 di seluruh indonesia. hal ini sungguh sanggat memprihatinkan. KPPS adalah tombak awal berlangsungnya penyelenggaraan dan penghitungan suara di TPS masing-masing. oleh karena itu sangat disayangkan jika sampai memakan korban karena kelelahan dalam menjalankan tugasnya sebagai KPPS. 

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Menganggap soal adanya desakan masalah Sistem Informasi Penghitunagn Suara (Situng) atau Real Count yang tengah jalan dihentikan. Hal tersebut muncuk dikarenakan adanya dugaan kesalahan yang masuk pada sistem tersebut.Untuk menanggapi Hal tersebut KPU mengatakan bahwa desakan itu merupakan bentuk pemahaman yang salah , Lantaran situng tersebut sebagai bentuk upaya transparansi dari apa yang di dapat pada tiap tempat pemungutan suara (TPS). Melalui situng KPU semua pihak dapat memahami upaya memberikan keterbukaan informasi dalam data pembanding kepada masyarakat. Sekaliapun ada kesalahan dalam penjumlahan maka dapat diperbaiki di tingkat panitia pemilihan kecamatan (PPK).

Dari Tiga  hal tersebut, kita dapat meminimalisir Korban KPPS yang jatuh sakit dan meninggal karena kelelahan dalam bekerja , mengurangi Anggaran dana yang setiap 5 tahunnya akan melonjak dan Kurang Transparansinya. karena pengumuman Hasil dari pemilihan tersebut dilakukan 2-3 minggu kemudian.

Saya mengajukan Solusi untuk Pemilihan Serentak yang akan diadakan 5 tahun kemudian dengan menggunkan sistem E-Voting. Sistem ini dapat difungsikan dengan menggunakan identitas yang telah dimiliki oleh warga di TPS tersebut yaitu E-KTP.  Sistem yang digunakan yaitu dengan cara

1.Pemilik E-KTP datang ke TPS wilayahnya. 

2. Menyerahkan Kepada Petugas KPPS di TPS wlayah tersebut.

3. Pemilik menScan E-KTP pada alat sensor yang telah disediakan. 

4. Data Kependudukan dapat dilihat dilayar komputer dan KPPS mengecek apakah orang tersebut tepat beralamat dan pemilih tetap pada TPS yang ditentukan 

5. Pemilih Tetap tersebut diberikan Kode angka untuk memilih 

6. Pemilih tetap memasuki bilik dan memasukkan Kode angka yang telah diberikan

7. Dilayar Komputer tersebut akan muncul pilihan yang akan dilakukan pemilikan 

8. Pemilih Tetap bisa langsung untuk menekan dilayar sesuai dengan pilihan yang telah ditentukannya sendiri

9. Setelah selesai dalam pemilihan klik Selesai pada pilihan tersebut 

Pada Ruang tunggu yang disediakan TPS terdapat TV besar yang memperlihatkan angka pemilih yang telah hadir, dan terdapat kolom untuk pada tiap pemilihan serentak. pada tiap 5 pemilihan tersebut terdapat 2 kolom yaitu kolom pemilih dan tdk memilih (atau dpt dikatakan pemilih tetap tidak melakukan pemilihan pada saat dibilik ). Itulah Model Transparansi modern yang memberikan data secara langsung tanpa ada jeda waktu yang cukup lama dalam proses Pengumuman Hasil dari pemilihan tersebut.

SALAM INDONESIA CERDAS !

UNTUK INDONESIA YANG LEBIH KEREN