Korban Rekayasa Narkoba; Bebaskan Sahabat Kami Soni dari Dakwaan @MahkamahAgungRI

0 telah menandatangani. Mari kita ke 2.500.


Terjerat kasus penyelundupan narkoba akibat jebakan oknum bukan hal baru di Indonesia. Kali ini yang menjadi korban adalah salah seorang sahabat kami bernama Muhammad Soni. Soni, begitu sapaan akrab pemuda asal Riau ini, didakwa membawa 9.5 gram narkotika golongan 1 (satu) jenis shabu-shabu. Saat ini Soni melalui kuasa hukumnya sedang mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia. Sebelumnya ia masih dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Tinggi Negeri Provinsi Riau. 

Bermula pada 26 Juni 2016, kala itu Soni sedang menunggu speedboat di Pelabuhan Batam  yang akan membawanya pulang ke Tembilahan, Riau. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Soni lantas memohon bantuan berupa titipan sebuah barang beserta ongkosnya. Ia meminta agar barang dan ongkos tersebut diberikan kepada Anak Buah Kapal (ABK) speedboat yang akan Soni tumpangi. Soni sendiri sama sekali tidak kenal dengan orang tersebut.

Tanpa menaruh curiga, Soni mengabulkan permintaan orang yang tidak ia kenal tersebut kemudian mereka bertukar nomor telepon. Setelah menaiki speedboat, Soni menyerahkan titipan tersebut kepada salah satu ABK. Selang satu jam ABK yang menerima titipan tersebut sebelumnya, malah mengembalikan barang kepada Soni. Melalui pesan pendek, Soni yang curiga lantas menanyakan kepada si penitip “isinya apa bang? Abk kapal tidak berani membawa titipan itu”. Orang yang ditanya menjawab dengan santai seraya meminta Soni membawa titipan tersebut sampai ke Pelabuhan Tembilahan. “Gak papa bg, nanti sampai ditembilahan sodara saya yang ambil,” ujarnya.

Rupanya kecurigaan Soni berdasar. Sesampainya di Pelabuhan Tembilahan, Soni ditangkap Polisi karena barang titipan tersebut berisi shabu-shabu.

Ironisnya, berdasarkan keterangan orang tua Soni, setelah beberapa hari Soni tertangkap oleh oknum kepolisian. Orang tua soni yang ekonominya lemah diperas dengan cara diminta uang tebusan sebanyak Rp. 19.000.000 rupiah oleh oknum yang mengaku dari pihak kepolisian.  Namun, setelah mendapatkan pinjaman dari orang-orang terdekat dan uangnya ditransfer (oknum meminta uang tersebut dikirimkan melalui rekening), pihak kepolisian mengatakan bahwa tidak pernah meminta uang tebusan dan uang itu tidak pernah dikembalikan, hingga Soni sampai hari ini masih mendekam dibalik jeruji sebagai tahanan.

            Seolah belum cukup, proses hukum dari pemeriksaan hingga putusan Pengadilan tingkat pertama juga dipenuhi oleh kejanggalan. Beberapa diantaranya (keterangan sesuai dengan yang tertera dalam Memori Banding), yaitu:

(1) Tes urine pertama yang hasilnya negatif pada saat di kepolisian tiba-tiba berubah menjadi positif setelah dilakukan tes selanjutnya di Laboratorium Forensik Medan.

(2) ABK yang menerima titipan, telah membuka dan seketika itu juga mengetahui bahwa barang tersebut berisi narkotika, tidak lantas memberitahu Soni.

(3) Bukti pesan pendek antara Soni dengan orang yang menitipkan barang dan seorang lainnya yang mengaku sebagai saudara si penitip barang tidak ditampilkan di muka Persidangan.

(4) Si penitip barang tidak dicari tahu keberadaannya dan dihadirkan di Persidangan sebagai saksi kunci.

Sesungguhnya, sesuai dengan kronologi diatas, dapat terlihat bahwa Soni tidaklah seharusnya dijatuhi hukuman Pasal 115 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 tentang Narkotika dengan alasan bahwa konotasi Unsur yang tanpa hak atau melawan hukum membawa, mengirim, mengangkut atau mentransito narkotika golongan I tidaklah ditemukan dan tidak terbukti berdasarkan fakta persidangan (merujuk pada Memori Banding), karena Soni sama sekali tidak mempunyai niat secara tanpa hak dan melawan hukum membawa, mengirim, mengangkut atau mentransito narkotika golongan I. Posisi Soni disini adalah orang yang dimintai pertolongan oleh seseorang untuk mengantarkan barang yang tidak diketahui isinya tersebut kepada ABK.

Soni, sahabat kami yang juga alumni salah satu Pesantren besar di Jawa Timur dan Fakultas Hukum sebuah Universitas di Yogyakarta, didakwa melakukan kesalahan yang sama sekali tidak pernah ia lakukan. Miris memang. Namun bukan berarti harapan sudah tidak ada. Majelis Hakim Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia bisa mengeluarkan putusan yang menyatakan bahwa Soni dijebak, sama sekali tidak bersalah—oleh karena itu—dapat bebas. Atas dasar harapan itulah kami membuat petisi ini, Petisi ini bukan hanya mewakili Sahabat kami saja, namun sudah menjadi rahasia umum direpublik ini bahwa kasus jebakan penangkapan narkotika yang direkayasa oleh oknum penegak hukum bukanlah merupakan hal baru, banyak yang sudah menjalani hukuman atas kasus serupa yang tidak pernah dilakukanya. Kami mengajak seluruh masyarakat agar ikut serta dalam proses penegakan hukum yang adil atas kasus serupa. Sehingga tidak ada proses hukum dan peradilan sesat di republik yang kita cintai ini, terlebih lagi tidak ada lagi orang yang tidak bersalah menjalani hukuman atas perbuatan yang tidak pernah ia lakukan. Jika anda sadar bahwa masih banyak kejadian yang serupa dengan soni, maka kami mengajak anda untuk menandatangani petisi ini.

Besar harapan kami agar proses peradilan di republik yang kita cintai ini dapat berjalan dengan seadil-adilnya. 



Hari ini: Indonesia Sadar Hukum mengandalkanmu

Indonesia Sadar Hukum membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Korban Rekayasa Narkoba; Bebaskan Sahabat Kami Soni dari Dakwaan @MahkamahAgungRI". Bergabunglah dengan Indonesia Sadar Hukum dan 2.022 pendukung lainnya hari ini.