Boikot LGBT!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Saya pun pencinta seni, art lover, linguist lover & dulu jg pernah ikut seni tari, semua bidang seni pernah sy ikuti �, memang dlm seni/art terdapat kebebasan berpikir, memang secara alur, sound, plot, pun dialognya penuh filosofi kehidupan, hanya saja dalam film ini bisa berbahaya jika ditonton oleh anak2 kita yg belum matang secara pemikiran, karena di film ini menampilkan gagasan utama *"dunia maskulin sekaligus feminin"*, yg justru "menarik" utk *"menjadi bagian yg wajar"* dari ruang publik kita �. 

 

Disini ditampilkan pula sosok wahyu yg memiliki masa lalu yg kelam & haus akan kasih sayang, & membiarkan *hatinya diisi oleh cinta dari siapapun termasuk laki2*. Disini bahayanya, kalau anak2 ABG yg labil bisa terjerumus utk bisa membahagiakan tubuhnya sendiri dg *menerima kasih sayang* dari siapapun jg termasuk sesama jenis, karena pesan di film ini bahwa anak manusia memiliki hak penuh atas tubuh yg dicintainya. Dan dari tubuh maskulin femininnya dia sukses bisa keliling dunia. Menunjukkan seorang LGBT bisa sukses secara "duniawi". Yg jika anak muda berpikir maka bisa jadi kalau jadi maskulin & feminin ternyata bisa sukses, bs keliling dunia, jd tdk perlu takut masa depan suram krn menentukan jalan hidup sebagai homoseksual.

 

Dan saya termasuk salah satu ibu yg tidak rela jika anak muda kita terbawa kedalam pemikiran liberal yg melegalkan hubungan sesama jenis, & mengganggap itu sbg kebebasan atas nama HAM, belajar mencintai tubuh sendiri dan menerima kasih sayang dari siapapun tanpa batas. 

 

Dan memang lebih baik tidak tayang, karena Indonesia adalah negara Timur, bukan negara liberal, memang film ini pun mendapat Award tentu saja Awardnya didapat dr negara yg menghalalkan kebebasan mencintai sesama jenis. Mungkin secara dialog filosofis bisa berbeda tafsir & tdk semua bisa sama memaknainya, tapi dari bahasa tubuh di film ini lebih jelas terbaca oleh generasi muda dan ini jauh lebih berbahaya. ��.