NEGARA INI TERTINGGAL! PERCEPAT DIGITALISASI PENYIARAN! SELESAIKAN RUU no. 32 th. 2002

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Siaran Digital Terrestrial bukanlah teknologi baru, mereka sudah bersiaran sejak 1998 di beberapa negara maju. meskipun demikian Digital Terrestrial akan membawa perubahan yang sangat signifikan dalam kualitas gambar dan suara serta pengelolaan frekuensi dan sumber daya spektrum frekuensi yang sangat terbatas ini. 5 tahun kemudian, teknologi ini masuk ke negara Jepang dan disusul 5 tahun setelahnya yaitu 2008, teknologi ini masuk kepada Negara kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Akan tetapi pada 2015 tiba-tiba regulasi tentang teknologi yang sangat baik sekali ini mendadak dibatalkan karena pengelolaan yang tidak baik dari LP3M swasta. Revisi UU Penyiaran no. 32 th. 2002 yang diharapkan menjadi payung hukum tentang teknologi yang mulia ini tak kunjung selesai, sementara teknologi usang dan buruk yang bernama "Analog" malah dibiarkan menjarah frekuensi negara ini, yang dimana teknologi buruk yang bernama "Analog" ini mulai dibunuh hampir 98 % negara di Dunia ini, negara kita malah memanjakan teknologi yang sebenarnya telah Usang, lama dan Mahal ini. 

 

Ada apa dengan transisi penyiaran di negara kita ? mengapa kita masih tertinggal ? mengapa kita masih bangga akan teknologi lama ? mengapa kita masih betah dengan teknologi lama yang sebenarnya itu akan menyusahkan anda ? 

Negara kita SANGAT TERTINGGAL jika dibandingkan dengan negara Asia bahkan ASEAN dalam urusan Digitalisasi Penyiaran ? mengapa ? apa karena negara kita TIDAK SIAP ? Saya rasa tidak mungkin karena semua stasiun TV di Indonesia dalam produksinya sudah 100 % Digital (yang pada akhirnya harus dikonversi ke Analog ... cukup menyusahkan bukan ? ) mengapa mereka (stasiun TV) sangat TEGA untuk menurunkan kualitas gambar dari stasiun TV mereka ke kualitas gambar yang sangat jelek yaitu kualitas Analog ? apa yang mendalangi ini semua ? 

Ternyata ... molornya Revisi UU no. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran lah yang mendalangi "Setan Analog" ini mengudara sehingga mengalahkan tugas mulia "Malaikat Digital" untuk memajukan penyiaran Negara kita ... 

Mengapa RUU ini tak selesai ? iya ... Single Mux dan Multi Mux masih menjadi perdebatan ... dikala semua pasal telah selesai ... hanya pasal yang mengatur inilah yang tiba-tiba deadlock (tuh kan lagi lagi kemajuan negara kita dipersulit lagi oleh oknum-oknum) harusnya ada solusi ... 

 

Maka dari itu .. saya meminta dukungan rakyat Indonesia agar DPR-RI segera menuntaskan RUU no. 32 th. 2002 tentang penyiaran 

Gresik 14 Juni 2018 

Alif Nizar

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Gini aja .. ketimbang aku cuman koar-koar .. mending kukasih solusi Hybrid aja ...

kesalahan terbesar penyiaran Digital Negara ini adalah karena negara ini LUPUT dengan salah satu kemampuan siaran Digital yaitu LCN (Logical Channel Number), Negara ini selalu bergantung kepada Physical Frequency, Physical Channel aja ... tanpa mengindahkan Logical Channel.. padahal kalau ini diterapkan .. masalah ini gak akan pernah ada ... mengaapa ? 

Logical Channel bisa kita main-mainkan .. bahkan Logical Channel bisa juga diatur untuk Single Mux, Multi-Mux atau bahkan Hybrid :D ... Penasaran yak ? ahh masa teknisi pemancar hingga Dirjen Penyelenggaraan Informatika bahkan Kominfo gatau trik memainkan Logical Channel pada Multiplexing sehingga bisa menghasilkan sistem Single Mux atau Multi Mux atau Bahkan Hybrid ? salah sendiri sih tidak melibatkan aspirasi rakyat dalam revisi UU penyiaran .. Oke kukasih SOLUSI nih

Asumsikan LCN diatur dalam skala Ratusan antara 011-149 dan ... kita buat regulasi tentang LCN yang mengatakan "2 Digit pertama ialah LCN untuk Multiplexer dan 1 Digit terakhir ialah LCN untuk Sub-Channel (Service ID)"

Jadi nanti ... channel 015 itu artinya Mux 1 dengan Service (Video-Audio (TV) atau Data) channel 5 begitupun dengan 101 artinya Mux 10 dengan service ID di channel 1 

Seandainya ... Jika hal seperti ini diterapkan sejak dulu dan pemerintah juga sangat lihat, pintar, cerdik, cekatan tetapi adil dalam mengatur LCN ini ... sudah kita tak perlu lagi mengatur Physical Channel (UHF) secara belibet yang ujung ujungnya mendatangkan konflik, kita hanya perlu memainkan dan mengatur Logical Channel (LCN) dengan cerdik tetapi memegang prinsip keadilan dan anti monopoli ... 

lalu untuk pengaturan LCN nya ? sederhana ... KREATIFLAH ... Jangan terpatut 1 Mux bisa 6 Channel untuk DVB-T dan 12 channel untuk DVB-T2 tetapi bagaimana kita bisa membuat standar kita sendiri ... 9 CHANNEL UNTUK 1 FREKUENSI UHF DVB-T2, sesuai dengan kesepakatan LCN tadi antara channel 011-149 (baca aja 01-1 - 14-9) dan subchannel (1 digit terakhir) yang tersedia antara 1-9 kanal ... cukup untuk Single Mux ? TIDAK Tetapi untuk Multimux ? 9 kanal mah lebih dari cukup ... Hybrid Mux ? CUKUP ! Oke ... karena DPR-RI dan Kominfo menghendaki Hybrid Mux .. maka ... Ayo kita atur sesuai Hybrid Mux :v 


Sederhana Bagi aja Subchannel nya antara Swasta dan Negara ... 5 Sub channel kita berikan ke pemilik Mux dan 4 nya kita kembalikan ke Negara dan biarkan negara mengaturnya ... dan disini peran Negara untuk melindungi bisnis dan infrastruktur TV Lokal akan kerasa karena TV Lokal akan mendapatkan posisi LCN yang telah diatur negara ... dan mau gak mau Mux yang ditunjuk (2 Digit awal LCN) harus bersedia menampung stasiun TV tersebut (dengan service id antara 6-9 (1 Digit akhir LCN)) pastinya dengan kesepakatan antara 3 pihak (pemohon kanal - negara - pemilik/pengelola mux) (sistem ini sudah kelihatan seperti penggabungan Single Mux dan Multimux) 

Untuk Parameter DVB-T2 nya ... survey aja se-Indonesia raya .. baik antara TVRI ataupun LPS ... mana yang memiliki parameter terbaik (yang mampu diterima semua jenis antena, semua posisi antena dan yang memiliki bitrate tertinggi) maka itulah yang akan menjadi parameter Nasional (bukan lagi Single Mux daerah/zonasi tetapi Single Mux Serentak Nasional) .. kalau parameter dari TVRI stasiun "salah satu daerah" yang terbaik, maka parameter ini harus disetting di pemancar-pemancar DVB-T2 baik LPS ataupun TVRI se-Indonesia, dan sebaliknya kalau parameter dari LPS "suatu daerah" yang terbaik .. maka parameter ini jug harus disetting di pemancar DVB-T2 baik LPS ataupun TVRI Tetapi Tidak termasuk daya pancar 

Seolah-olah dalam prakteknya... LCN (Logical Channel Numbering) akan menggabungkan antara Single Mux dan Multimux dengan peraturan yang simpel, mudah, adil dan kreatif

Terima Kasih

Gresik 14 Juni 2018

Alif Nizar 



Hari ini: Alif mengandalkanmu

Alif Nizar membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "KOMISI 1 DPR-RI: NEGARA INI TERTINGGAL! PERCEPAT DIGITALISASI PENYIARAN! SELESAIKAN RUU no. 32 th. 2002". Bergabunglah dengan Alif dan 49 pendukung lainnya hari ini.