Bebaskan Idris al. La diri tidak bersalah, hakim memvonis idris yang tidak bersalah;

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


INVESTASI TAMBANG TERNYATA MEMBUAT KONFLIK ANTAR WARGA DAN MENGKRIMINALKAN WARGA

Adagium dalam hukum Pidana “ lebih baik membebaskan 1000 orang bersalah daripada menghukum 1 orang yang tidak bersalah”. Adagium maknanya sangat dalam artinya satu orang yang tidak bersalah sangatlah Penting didepan hukum untuk tidak dipidana atau dijatuhkan hukuman jika tidak bersalah.

Namun Adagium ini tidak berlaku bagi Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri Unaaha yang mengadilan kasus IDRIS yang dipidana sebagai pelaku tindak pidana Penganiayaan dengan korbannya LA ABO. Majelis Hakim mengabaikan fakta persidangan. Dalam Persidangan terbukti jika IDRIS bukan pelaku tindak pidana penganiayaan terhadapa LAABO yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum. Ternyata dalam Persidangan Pelaku penganiayaan terhadap Laabo yaitu Lasite mengakui jika yang melakukan penganiayaan dengan cara Lasite membacok tangan kanan Laabo yang membawa Pisau dan mengakibatkan tangan Laabo terluka dan hampir putus. Pengakuan Pelaku di depan persidangan ternyata oleh MAJELIS HAKIM PENGADILAN NEGERI UNAAHA yang menyidangan perkara ini mengabaikan pengakuan Pelaku. Padahal sejak dari Penyidikan kepolisian sampai pada persidangan Idris menyatakan tidak melakukan Penganiayaan terhadap Laabo. Lasitepun sejak penyidikan dan didepan persidangan mengakui jika Lasite pelaku penganiayaan terhadap Laabo. Fakta persidangan dengan mudahnya diabaikan oleh Majelis Hakim. Bahkan saksi A DE CHARGE yang dihadirkan Penasehat Hukum menerangkan jika Pelaku tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan Laabo Korbannya adalah Lasite bukan IDRIS. Tetapi Dengan semangat menghukum Majelis Hakim ini tetap saja menjatuhkan putusan dengan menghukum IDRIS dengan hukuman penjara selama 3.tahun 6 bulan. Entah apa yang merasuki Majelis Hakim ini sepertinya sudah buta jika ada fakta yang sangat jelas didepan mata mereka.

Belum lagi selama persidangan terbukti bahwa ada rekayasa Penyidikan antara lain;

a.      Berita acara Pemeriksaan yang ditanda tangani oleh Laabo ternyata Cuma satu kali tetapi dalam dokumen terdapa tiga berita acara pemeriksaan.

b.      Idris saat pemeriksaan di Polsek Waworete saat melapor sebagai korban Pengancaman, dipersidangan memberikan keterangan saat di Polsek Idris diintimidasi untuk mengakui jika Idris adalah Pelaku tindak pidana penganiayaan.

c.      Salah satu saksi Jaksa Penuntut Umum  atas nama Ikbal memberikan keterangan palsu dengan menerangkan bahwa pada malam kejadian melihat Idris dilokasi kejadian, padahal dalam Pernyataan saksi IKBAL telah menyatakan mencabut keterangan Berita acara pemeriksaan didepan kepolisian.

d.      Keterangan saksi-saksi Jaksa saling bertentangan tidak bersesuaian baik dari waktu kejadian, cara melakukan tindak pidana dan barang bukti yang digunakan.

e.      Belum lagi tidak ada barang bukti berupa sebilah parang, sehingga untuk membuktikan bahwa telah terjadi tindak penganiayaan akan menjadi SUMIR atau Kabur.

Timbulnya tindak pidana ini yang membawa Idris sampai ke persidangan buntut dari adanya Investasi tambang di Desa Teporoko atau dikenal dengan ROKO ROKO RAYA kecamatan Wawonii Tenggara Kabupaten Konawe Kepulauan. Sebelum menjadi Kabupaten Konawe Kepulauan atau lebih dikenal dengan Pulau Wawonii SULAWESI TENGGARA. Perusahaan PT Gema Kreasi Perdana sebagai Pemegang Isin Usaha Pertambangan ngotot untuk melakukan eksploitasi dan eksplorasi dengan mengambil tanah warga secara sewenang-wenang, bahkan menggunakan aparat kepolisian untuk mengitimidasi warga desa. Warga desa yang tidak ingin tanahnya diolah sebagai lahan tambang mempertahankan sekuat tenaga. Kemudian ada sebagian kecil warga yang mendukung investasi tambang. Akibatnya terjadi pengelompokkan antara warga yang menerima tambang dan menolak investasi tambang. Pengelompokkan ini mengakibatkan juga terjadinya permusuhan antara saudara kandung, antara sepupu antara bapak dengan anak. Dan selanjutnya mengakibatkan terjadinya korban luka dari pihak perusahaan tambang yaitu LAABO alias Abrar (sekuriti pada Perusahaan) yang melakukan provokasi terhadap warga dengan cara menantang dan mengancam akan membunuh IDRIS. Kejadi provokasi tersebut terjadi tanggal 13 septermber 2019 dirumah Idris. Idris mengalami intimidasi dan pengancaman sebanyak dua kali pertama kali dirumahnya pada jam 18.30 wita. Karena Laabo tidak berhasil menemui Idris karena Idris menghindar, kemudian Laabo pergi tetapi tidak lama berselang sekitar pukul 19.00 wita datang lagi dengan membawa pisau bersama Latyson. Laabo memprovokasi kelompok Penolak tambang dengan cara menantang Idris. Karena tidak diladeni oleh Idris, kemudian LASITE yang melihat saudaranya terancam tanpa basa basi langsung membacok tangan Laabo dengan menggunakan parang yang biasa digunakan untuk berkebun. Tindakan Lasite ini membuat tangan Laabo hampir putus.

Sebagai Kuasa Hukum Idris sangat miris dan prihatin dengan sikap majelis Hakim yang mengabaikan keterangan dan Pengakuan Pelaku tindak pidana yaitu LASITE. Namun sebagai kuasa Hukum kami tetap berjuang dengan menyatakan banding. Kami berharap Majelis hakim pada Pengadilan Tinggi Kendari/Sulawesi tenggara bisa membebaskan IDRIS dari hukuman pidana yang telah dijatuhkan oleh Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri Unaaha.

BEBASKAN IDRIS alias LA DIRI seorang Petani yang menolak tambang nikel di kampungnya. Hakim memvonis Idris yang Bukan Pelaku tindak Pidana Penganiayaan.