PT. PELNI, KURANGI PEMAKAIAN SAMPAH PLASTIK SEKALI PAKAI DI ATAS KAPAL

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


BAHASA INDONESIA & ENGLISH.

TINGTONG. Pelantang elektronik di geladak kapal berbunyi, menyemburkan pesan gembira. Para penumpang berdiri, bergegas menuju Pantry. Di sana, kedatangan mereka lekas disambut petugas. Seorang petugas mengecek tiket yang dipegang si penumpang yang difungsikan sebagai kupon untuk mendapat makanan. Melewati meja pemeriksaan tiket, si penumpang lalu diberi kontainer plastik berisi sejumput lauk-pauk oleh petugas lainnya. Berjalan sikit ke depan, seorang petugas menyerahkan air mineral plastik beserta sedotannya. Seorang lagi kemudian memberi kudapan (snack) berbungkus plastik. Terakhir, sendok putih berbahan plastik diterima di penumpang. Para penumpang lalu kembali ke tempat mereka, menyantap paketan tersebut.

Siapa saja yang pernah berlayar dengan kapal PELNI pasti lekat dengan gambaran di atas. Inilah ‘ritual’ wajib di atas kapal, yang kejadiannya dua sampai tiga kali dalam sehari. Dalam satu sesi makan, ada ratusan hingga ribuan penumpang yang dilayani dalam pelayaran. Dan secara nasional, terhitung ada 25 buah kapal ‘gemuk’ yang dioperasikan oleh perusahaan plat merah ini, berlayar setiap hari dari Barat ke Timur Indonesia dan sebaliknya. Data tahun 2017, ada 573.944 penumpang yang menggunakan jasa kapal ini.

Kembali ke praktik ritual membagikan makanan. Tentu saja ini sebuah praktik yang baik dan patut kita dukung. Praktik ini bersahabat bagi penumpang dan menjadi ciri khas tersendiri bagi kapal milik negara ini. Akan tetapi, dari perspektif lain, praktik yang dilakukan di atas kapal-kapal PT. PELNI, yang sudah berlangsung puluhan tahun, SANGAT MERUGIKAN LINGKUNGAN, TIDAK MENDIDIK, DAN SAMA SEKALI TIDAK BERSAHABAT BAGI BUMI.

Bagaimana tidak, hanya dalam hitungan menit ribuan potong sampah plastik dihasilkan di sebuah kapal PELNI hanya di satu sesi makan saja. Lalu bagaimana jika ada 25 kapal yang beroperasi secara nasional yang beroperasi setiap hari dan menyelenggarakan 2-3 sesi makan per hari? Akan susah dihitung jumlah tepatnya. Yang pasti akan ada ratusan ribu potongan sampah plastik, berton-ton beratnya. Sampah-sampah plastik ini, walaupun banyak yang mengisi tempat-tempat sampah yang disediakan di atas kapal, banyak juga yang dibuang begitu saja ke laut.

Bagaimana tidak, ribuan potong plastik yang dihasilkan melalui proses yang begitu panjang, harus menjadi barang sisa tak berguna hanya dalam bilangan menit,. Plastik-plastik tersebut, yang dalam pembuatannya menghabiskan begitu banyak energi dan memakai banyak minyak bumi, harus berakhir di tempat-tempat sampah dan atau mengotori lautan kita. Plastik-plastik ini juga dalam pembuatan dan proses transportasinya menghasilkan gas buang berbahaya penyumbang Pemanasan Global. Dari sisi finansial. hanya dalam hitungan menit, puluhan juta uang yang dipakai membeli dan mengangkut plastik-plastik tersebut, menguap menjadi sampah.

Praktik ini dari perspektif lain juga tidak mendidik. Praktik ini memberikan contoh pemborosan sumber daya plastik kepada ribuan orang yang menggunakan jasa pelayaran ini. Para penumpang ini datang dari berbagai latar asal suku, dan daerah yang memiliki kearifan lokal tersendiri. Banyak diantara mereka yang belum pernah terpapar praktik yang tidak eco-friendly ini. Dengan memberikan contoh ini di kapal kepada mereka, mereka akan kembali ke daerahnya masing-masing dan mungkin mereplikasinya. 

SUDAH MENJADI KEWAJIBAN BAGI PT. PELNI INDONESIA, SEBAGAI PERUSAHAAN MILIK NEGARA UNTUK MEMIKIRKAN CARA MENEKAN PENGGUNAAN PLASTIK SEKALI PAKAI DALAM PENGOPERASIAN KAPAL-KAPAL MEREKA. SELAIN SUDAH MENJADI TANGGUNG JAWAB EKOLOGIS KEPADA BUMI DAN JUGA LAUT, HAL INI UNTUK MEMBERIKAN EDUKASI/PENDIDIKAN LINGKUNGAN KEPADA PARA PENUMPANG KAPAL. SELAIN ITU, INI ADALAH TANGGUNG JAWAB PROFESIONAL PERUSAHAAN INI UNTUK MENDUKUNG PROGRAM PEMERINTAH INDONESIA MENGURANGI SAMPAH NASIONAL PADA 2020.  

ENGLISH:

INDONESIA NATIONAL SAILING COMPANY (PT. PELNI) ALLEGEDLY THE BIGGEST FLOATING PLASTIC WASTE GENERATOR IN THE COUNTRY, PERHAPS IN THE WORLD.

The devices rings, telling passengers that their meal is now available at the pantry. Hundreds immediately raise from their beds, advance to the designated area, stand in line to collect their meal. Meanwhile, some others are waiting patiently on their beds until the line fades. At the pantry, few officers are hastily performing their task. One officer checks the passengers paper-made tickets. And depends on how many tickets the passenger holds, the officer then yells a number; one for one meal package, two for two meal packages, and so on. The passenger proceed to get a plastic tray containing rice, veggie, and fish. He then moves to another officer to get water bottles accompanied by plastic straws. Next, he continues to another officer for cutleries, and some snacks wrapped in plastic. In only just few minutes, thousands plastic waste are generated. Many are thrown away to waste containers, somes are scattered and abandoned and few end up to the ocean.

This is the almost complete picture of what occurs on board in an Indonesian National Sailing Company ships or famously known as Kapal PELNI at dining time. Within the 12 to 14 hours sailing time, from Makassar to Baubau for example, the company provides two to three times free meals for thousands people on boards. Currently, there are TWENTY FIVE PELNI ships operating nationally, capable to carry thousands people in just one trip, connecting the archipelago East to West and return. Based on this practice, IT IS SAFE TO SAY THAT THE BIGGEST SAILING COMPANY IN THE COUNTRY HAS BECOME THE BIGGEST FLOATING PLASTIC GENERATORS ON THE OCEAN. It is estimated that one ships might generate tons of plastic waste per day. Many of the trashes are occupying the landfill at the island where the ship stops. However, there are still many of them end up in the ocean.

Serving free meal to the passengers is a friendly practice. However, using plentiful single-use plastics in the tradition are uneducated, very harmful to the environment, and totally unfriendly practice. Badly, since the company has been operating more than fifty years ago, no one brings this issue to the surface. But now, with the ever immensely increase plastic pollution in our ocean threatening marine species, beaches and eventually humans, everybody should raise their voice. Indonesia currently is named as second biggest marine polluter in the world after China, thus immediate action should be taken to avoid prolonged shame of this country. Most importantly, the overuse single-use plastic as performed by PT. PELNI consumes huge amount of natural resources in its production and transportation, and produces tons of Carbon Dioxide (Co2), which contribute to global warming.

Due to many negative effects of the practice, the company must consider reducing their plastic waste on board. There are many ways how the company can reduce their waste while still providing the best service for the passengers. We do not need to tell this giant company on how they can do it. The company are resourceful and moneyed enough to think and implement the best way they can reduce their waste on board. What they need is willingness to act. One thing for sure, in the long run if the company discovers appropriate ways to reduce their waste on board, the company will save more money instead of buying tons of plastic just in order to end them becoming trash. And also, by reducing their waste, the company have shown their commitment to ensure the health of Earth, including the ocean, and to support national government program to reduce plastic waste by 2020.

PT PELNI. BE SMART, BE WISE, BE ENVIRONMENTALLY FRIENDLY!



Hari ini: Yamin mengandalkanmu

Yamin Yamin membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "KEMENTRIAN PERIKANAN DAN KELAUTAN: PT. PELNI KURANGI PEMAKAIAN SAMPAH PLASTIK SEKALI PAKAI DI ATAS KAPAL". Bergabunglah dengan Yamin dan 123 pendukung lainnya hari ini.