Petition update

THE VICTORY IS OURS NOT MINE.

Evan Tjoa
Pekanbaru, Indonesia

Mar 24, 2020 — Halo semuanya!

Ini dengan Evan Tjoa Putra pencetus dan motor dari petisi Hapuskan UN 2020. Saya ingin berterima kasih kepada seluruh pendukung karena kita telah berhasil mencapai apa yang kita inginkan bersama. Saat ini pendukung kita berjumlah 24.647 orang. Semalam, seperti yang telah kita ketahui bersama, Bpk. Syaiful Huda dan Kemendikbud saling berkomunikasi membahas penghapusan UN 2020. Telah diputuskan semalam bahwa Ujian Nasional ditiadakan karena merebaknya virus corona (COVID19) di Indonesia dan dunia.

Saudara-saudara, perjuangan kita telah selesai. Kita, pelajar Indonesia telah memenangkan perjuangan. Walaupun keputusan yang dibuat oleh pemerintah bukan berdasarkan petisi kita, tetapi kita telah hebat karena berani vokal dan menyuarakan pendapat kita.

Saya ingin menunjukkan poin-poin keberatan saya kepada pemerintah tentang Ujian Nasional, dan poin-poin solusi yang saya tawarkan, sebagai berikut:

1) Virus Corona (COVID19) mulai merebak di Indonesia, demi kesehatan pelajar-pelajar di Indonesia saya menyarankan Bapak Menteri untuk mempertimbangkan kembali pelaksanaan Ujian Nasional karena COVID19 mulai masuk ke Indonesia. Memang benar tingkat kematiannya tergolong rendah untuk usia pelajar, akan tetapi ada dua kemungkinan yang membahayakan antara lain:
a. Pelajar menjadi virus carrier yang dapat mengkhawatirkan masyarakat sekitar, sebab kita tidak tahu siswa berinteraksi dengan siapa dan apakah siswa sudah berinteraksi dengan orang yang belum menjadi ODP tetapi sudah terjangkit COVID19.
b. Apabila ada siswa yang memiliki riwayat terkena penyakit kronis, maka pelaksanaan UN dapat membahayakan siswa yang memiliki riwayat penyakit kronis. Sebab kita tidak tahu siswa berinteraksi dengan siapa dan apakah siswa sudah berinteraksi dengan orang yang belum menjadi ODP tetapi sudah terjangkit COVID19

Studi dari Imperial College London mengatakan bahwa, social distancing mungkin akan harus dilakukan kurang lebih selama 18 bulan hingga vaksin tersedia.

2) UN menjadi tekanan pelajar SD/SMP/SMA, sebab sekolah cenderung menginginkan siswa mendapatkan nilai UN tertinggi se-provinsi, se-kota, se-kabupaten menjadi beban tersendiri bagi siswa.


3) UN merupakan diskriminasi terhadap kemampuan inteligensi siswa, seperti yang kita ketahui bahwa inteligensi terbagi menjadi tiga, yaitu:
Inteligensi Emosional, yaitu kemampuan siswa untuk memahami kebutuhan, perasaan, dan motif diri dalam melakukan sesuatu
Inteligensi Encer, yaitu kemampuan siswa untuk berpikir mandiri berdasarkan pada budaya, dan

Inteligensi Terkristal, yaitu kemampuan yang mencakup pemahaman verbal, numerik, dan penalaran Induktif.

Ujian Nasional hanya menekankan kepada Inteligensi Terkristal. Hal tersebut tidak menjamin kemampuan dan kompetisi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kami percaya bahwa UN merupakan sistem penilaian pencapaian siswa yang kurang efektif. Memang kemampuan verbal, numerik, dan induktif penting bagi perkembangan kecerdasan siswa, akan tetapi dengan menyajikan soal-soal teoritis yang tidak dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari merupakan penghabisan anggaran negara (UN).


4) Sekolah telah melaksanakan UAS (Ujian Akhir Semester) dan US (Ujian Sekolah), ujian tersebut mencakup semua mata pelajaran yang telah kami pelajari selama tiga tahun, ujian-ujian tersebut juga mencakup pelajaran-pelajaran UN. Lantas, esensi dari Ujian Nasional juga tidak ada.


5) Waktu yang berdekatan dengan persiapan UTBK, pelajar Indonesia harus menjadi belajar dua kali, seperti yang kita ketahui bahwa UTBK jauh lebih penting daripada UN, dimana UTBK memiliki peluang untuk tidak lolos. Jika siswa memaksakan diri untuk belajar untuk mengejar nilai UN, maka nilai UTBK pelajar dapat terganggu. Hal tersebut justru akan semakin merusak pelajar di Indonesia, sebab akan banyak yang mengalami gap year. Siswa bagaimanapun juga akan tetap mempelajari Ujian Nasional, sebab tidak ingin dianggap remeh oleh orang lain. Kami hidup di negara dimana nilai UN menjadi penentu cerdas atau tidaknya seseorang.


6) UN sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan pendidikan pada saat ini, UN seolah-olah hanya menjadi sebuah formalitas yang dapat membuat siswa menjadi tertekan. Kami hanya melanjutkan tradisi-tradisi pendidikan kuno yang tidak selaras lagi dengan perkembangan zaman.


7) Keterampilan dan skill siswa dalam bidang tertentu lebih penting dibandingkan dengan ujian tertulis yang bersifat teoritis dan hafalan.


8) Penghapusan Ujian Nasional juga telah didukung oleh Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia, Bapak Muhammad Ramli Rahim, beliau menyampaikan bahwa penghapusan UN 2020 merupakan salah satu langkah yang tepat guna menghindari penyebaran COVID19. Statement beliau adalah "Tak layak anak-anak bangsa ini dikorbankan untuk sesuatu yang tahun depannya juga sudah akan dihapuskan"


9) Masih banyak sekali sekolah-sekolah tidak dapat menyelanggarakan sistem pembelajaran online untuk mendukung pembelajaran siswa selama COVID19 berlangsung. Hal tersebut disebabkan masih banyak tenaga pengajar yang sudah tua, dan masih culture lag dengan pembelajaran online. Sehingga, apabila UN masih tetap dilaksanakan, siswa tidak memiliki persiapan yang matang untuk Ujian Nasional.


10) UN sebagai rujukan dinas pendidikan dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kompetisi guru adalah cara yang kurang efektif. Guru memang berfungsi sebagai pendidik dan pengajar. Akan tetapi, rendahnya nilai Ujian Nasional bukan berarti guru tersebut telah gagal dalam mengajar dan mendidik siswa. Seperti yang telah saya sebutkan diatas, bahwa tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama dalam belajar. UN sebagai rujukan kompetisi guru seolah-olah membuat guru tersebut terlihat tidak memenuhi kompetisi sebagai pengajar dan pendidik. Realitas sosialnya adalah, nilai UN dijadikan sebagai pembanding antara siswa yang cerdas dengan siswa yang tidak cerdas, dan guru yang pintar mendidik dan mengajar dengan yang tidak. Hal tersebut dapat menimbulkan kecemburuan sosial dan kesenjangan di dalam dunia pendidikan.

Ada pula solusi yang saya tawarkan sebagai berikut:

1) Apabila kemdikbud tetap ingin ada kompetisi penilaian lanjutan setelah USBN, maka saya menyarakan kemdikbud untuk menggunakan portfolio atau praktek sebagai penilian akhir. Mata pelajarannya bebas dipilih oleh siswa sebagaimana kesukaan dan hobi siswa berbeda-beda


2) Untuk sekolah SMA/SMK yang telah melakukan Ujian Nasional kami berharap hasil dari Ujian Nasional yang telah dilaksanakan menjadi nilai tambahan untuk nilai USBN. Sistem pembagiannya adalah (US+UN/2), kami berharap tidak ada ijazah khusus yang memaparkan hasil nilai Ujian Nasional kami sebagaimana yang telah saya sebutkan diatas menjadi alat gengsi atau pamer.


3) Apabila kemdikbud tetap mengingkan penilaian tertulis maka, soal yang telah kemdikbud siapkan untuk keberlangsungan Ujian Nasional dialihfungsikan sebagai Ujian Tambahan untuk menambah nilai US dan tidak ada ijazah khusus untuk Ujian Nasional, atau

4)Hapuskan Ujian Nasional sepenuhnya tanpa ada ujian-ujian tambahan lainnya.

Kesepakatan berhasil dicapai dengan Menghapuskan Ujian Nasional SEPENUHNYA tanpa ada ujian-ujian tambahan lainnya. Faktor penentu kelullusan kita adalah nilai kumulatif dari rapor atau nilai dari hasil USBN.

Sekali lagi saya ingin mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada seluruh pendukung petisi saya, hari ini saya akan menyatakan kemenangan di petisi kita sebagaimana kesepakatan telah berhasil dicapai.

This is not my fight, our fight. Thus, it is our victory, not mine.

Sekali lagi terima kasih semuanya!

Salam hangat,

Evam Tjoa Putra.


Keep fighting for people power!

Politicians and rich CEOs shouldn't make all the decisions. Today we ask you to help keep Change.org free and independent. Our job as a public benefit company is to help petitions like this one fight back and get heard. If everyone who saw this chipped in monthly we'd secure Change.org's future today. Help us hold the powerful to account. Can you spare a minute to become a member today?

I'll power Change with $5 monthlyPayment method

Discussion

Please enter a comment.

We were unable to post your comment. Please try again.