Menteri LHK, cabut konsesi hutan bermasalah di Papua dan alokasikan untuk masyarakat adat!

0 have signed. Let’s get to 25,000!


Namanya Alex Waisimon. WWF menyebutnya Sang Penjaga Cendrawasih dan ASEAN Center for Biodiversity memberinya penghargaan ASEAN Biodiversity Heroes karena perjuangannya.

Walaupun sudah bekerja di berbagai belahan dunia, tahun 2014 Pak Alex memutuskan untuk kembali ke tanah Papua, karena ingin membangun tanah kelahirannya sendiri.

“Saya sudah pergi kemana-mana, tapi tak pernah menemukan tempat seindah tempat kelahiran saya. Bangun pagi sudah ada suara burung. Pagi-pagi burung memuji Yang Kuasa dengan suara indahnya. Saya tak bisa menemukan sungai yang jernih di negeri orang lain,” kata Pak Alex yang memutuskan kembali ke Nimbokrang, Jayapura.

Hanya dalam beberapa bulan setelah kembali, Pak Alex sudah dapat mengenali suara berbagai jenis burung hingga sifat-sifatnya. Ia pun membangun gubuk yang menyatu dengan alam, agar masyarakat dan wisatawan bisa mengamati dan menikmati perilaku unik burung-burung Cendrawasih tanpa mengganggunya.

Tak hanya itu, Pak Alex menyerahkan tanah milik marganya, Waisimon, seluas 19 ribu hektar untuk keperluan konservasi! Ia juga mengajak berbagai kepala suku di sekitar tanah marganya  agar turut menyerahkan tanahnya untuk melindungi burung-burung surga. Akhirnya, tahun 2016 tanah seluas 98 ribu ha dari berbagai marga terkumpul untuk dijadikan wilayah konservasi!

Berkat perjuangan Pak Alex dan masyarakat yang menjaga hutannya untuk tetap lestari, kini tempat itu menjadi rumah bagi 84 spesies burung dari 31 famili. Bahkan lima spesies diantaranya merupakan burung terancam punah. Lokasi itu lalu menjadi sangat terkenal sebagai lokasi pengamatan burung (birdwatching) yang didatangi banyak wisatawan mancanegara.

Pak Alex dan masyarakat di sana tak ingin perjuangan mereka berhenti sampai disitu. Mereka berharap ada dukungan pemerintah dalam upaya konservasi dan ekowisata birdwatching ini.

Tahun 2018, tercatat ada sedikitnya 10 perusahaan HPH dan 7 perusahaan HTI yang tidak berproduksi dengan luasan mencapai 2,4 juta hektar di Jayapura, dekat kawasan birdwatching ini. Lahan hutan itu tak terawat dan rentan menjadi sumber illegal logging dan perambahan lahan. Masyarakat adat  ingin agar kawasan hutan lain yang tidak aktif tersebut dikelola oleh kelompok masyarakat untuk ekowisata hutan adat. 

Melalui petisi ini, kami meminta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menon-aktifkan izin pemanfaatan hutan di Tanah Papua, khususnya di kawasan yang sekarang sudah tidak berproduksi di Jayapura, dan agar memberikan wilayah-wilayah hutan tersebut kepada kelompok masyarakat adat untuk dikelola.  Berkaca dari keberhasilan Pak Alex dan koleganya, di bawah pengelolaan masyarakat adat hutan bisa kembali asri, menjadi tempat tinggal burung-burung surga, dan menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia.

Dukung petisi ini, kita bantu Pak Alex melestarikan lebih banyak burung-burung surga di Bumi Papua. Jika kita menjaga bumi, maka bumi akan menjaga kita. 


Salam,

Auriga Nusantara