Petition Closed
Petitioning Kementerian Perhubungan
This petition will be delivered to:
Kementerian Perhubungan

MENOLAK usulan Gubernur Awang Faroek mengubah nama Bandara Sepinggan

Para sahabat,

Kita semua setuju bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Mungkin berangkat dari niat mulia tersebutlah Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengusulkan kepada Kementerian Perhubungan agar mengganti nama Bandara Internasional Sepinggan Balikpapan menjadi Bandara Internasional Aji Muhammad Sulaiman Balikpapan. Gubernur Awang juga mendapatkan masukan yang sama dari Sultan Kutai Kartanegara saat ini Sultan Aji Muhammad Salehuddin II.

Tidak bisa dibantah bahwa begitu besar jasa Sultan Aji Muhammad Sulaiman dalam membesarkan Kaltim, khususnya Balikpapan, terutama pada masa pemerintahan beliau pada 1945-1899. Pada masa pemerintahannya, beliau mengizinkan Belanda untuk membuka pertambangan migas di Balikpapan dan pertambangan batu bara di Kutai. Kawasan Balikpapan saat itu adalah bagian dari Kesultanan Kutai.

Bandara Sepinggan yang ada saat ini adalah bandara yang dibangun oleh Belanda untuk kegiatan transportasi udara perusahaan minyak Belanda. Pertambangan migas inilah yang kemudian menjadi awal kebangkitan ekonomi Balikpapan.

Pada masa beliau juga lah terjalin kesepakatan yang menyatakan bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara adalah bagian dari Pemerintahan Hindia Belanda. Atas perjanjian tersebut, Kesultanan Kutai mendapat royalti eksploitasi SDA di Kaltim.

Demikianlah sejarah dan jasa Sultan Aji Muhammad Sulaiman bagi Kota Balikpapan.

Namun dalam perjalanannya, Sepinggan dan perkembangan Kota Balikpapan melahirkan sebuah sejarah tersendiri yang terpatri sangat dalam di hati warga Kota Minyak ini. Sejarah ini lahir dari berbagai pengalaman empiris warga kota melihat bandara kesayangannya tersebut berkembang, mulai dari zaman Belanda hingga dalam waktu dekat akan menjadi bandara terbesar ketiga se-Indonesia.

Warga melihat dan mengalami sendiri bagaimana Jepang merebut bandara ini dari tangan Belanda dan menjadikannya sebagai bandara kamuflase. Ketika Jepang mulai lemah, para pejuang Balikpapan rela bertumpahdarah memperebutkan objek vital ini dari tangan Jepang dan berhasil merebutnya kembali. Sejak saat itu lah Bandara Sepinggan menjadi milik Republik Indonesia, hingga sekarang.

Dari sebuah bandara yang carut-marut karena perang dan belum stabilnya republik, Sepinggan mulai dikelola secara lebih baik oleh Jawatan Penerbangan Sipil pada zaman Presiden Soekarno. Hingga pada 1987 Perum Angkasa Pura I mengambil alih pengelolaan sampai saat ini.

Dari sebuah bandara kecil, tempat di mana darah pahlawan dan leluhur kita tumpah, berkembang sedikit demi sedikit menjadi bandara yang maju, satu per satu pesawat berdatangan membawa penumpang, hingga menjadi bandara yang modern hinga saat ini. Semua itu disaksikan dan dialami sendiri oleh warga Kota Balikpapan.

Pengalaman empiris atau kisah yang diturunkan dari para tetua tersebut adalah sejarah tersendiri bagi warga Balikpapan saat ini. Kita melihat, mengalami dan merasakan sendiri bagaimana Bandara Sepinggan tumbuh dan berkembang. Kita menjaganya dengan semangat luar biasa dan melindunginya bahkan dengan nyawa. Karena itulah nama 'Sepinggan' adalah satu-satunya nama yang tercatat di hati dan pikiran kami warga Balikpapan soal bandara kesayangan ini.

Sejarah ini sangat berarti dan sangat layak diperhatikan. Tidak ada yang mengenal Bandara Sepinggan lebih dari warga Kota Balikpapan sendiri.

Kita warga Balikpapan adalah para warga terdidik, bermoral, berbudaya dan pekerja keras. Kita selalu membuka peluang terhadap masukan dan ide-ide baru, karena itulah kota kita begitu cepat berkembang. Namun kita percaya bahwa ide-ide kita yang bertautan dengan sejarah dan pengalaman kita terhadap apapun yang ada di kota ini, adalah bagian terpenting dalam merumuskan sebuah kebijakan yang akan diambil oleh para penguasa terhadap nasib kota kami.

KITA MENOLAK USULAN GUBERNUR KALTIM AWANG FAROEK ISHAK YANG MENGUSULKAN KEPADA KEMENTERIAN DALAM NEGERI UNTUK MENGUBAH NAMA BANDARA INTERNASIONAL SEPINGGAN BALIKPAPAN MENJADI BANDARA INTERNASIONAL AJI MUHAMMAD SULAIMAN BALIKPAPAN.

KITA MEMINTA KEPADA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN UNTUK IKUT MENOLAK USULAN GUBERNUR AWANG TERSEBUT.

Alasan kita:

1. Tidak ada urgensi atau keterdesakan untuk mengganti nama Bandara Sepinggan.

2. Nama Bandara Sepinggan telah tercatat dalam berbagai lembaga dan asosiasi yang berhubungan dengan penerbangan dan pariwisata. Perubahan nama kelak akan berdampak pada performa teknis penerbangan dan pariwisata.

3. Nama Bandara Sepinggan sudah sangat dikenal di dalam dan di luar negeri dan telah menjadi salah satu identitas terpenting Kota Balikpapan. Mengubah namanya akan mengubah identitas terpenting tersebut dan memerlukan banyak upaya dan dana untuk 'rebranding'. Padahal upaya dan dana tersebut bisa digunakan untuk kepentingan yang jauh lebih mendesak.

4. Dengan telah dikenalnya nama Bandara Sepinggan di kalangan masyarakat dunia khususnya pariwisata dan bisnis, akan mengakibatkan 'misleading' dan memberi kesulitan pada masyarakat pendatang yang merupakan salah satu sumber investasi Balikpapan dan Kaltim.

5. Nama 'Sepinggan' memiliki keterpautan sejarah empiris bagi seluruh masyarakat Balikpapan. Kita hanya mengenal nama bandara kesayangan kami sebagai 'Sepinggan', yang kita jaga dengan tumpah darah, kita kembangkan dengan kerja keras dan kita rawat dengan penuh kasih sayang. Tidak ada nama lain selain Sepinggan di benak kita soal bandara kota ini.

Demikian petisi ini.

Salam


Letter to
Kementerian Perhubungan
Kami warga Balikpapan memohon kepada Kementerian Perhubungan RI agar MENOLAK usulan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak yang tengah mengusulkan mengubah nama Bandara Internasional Sepinggan Balikpapan menjadi Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Balikpapan.

Bandara Sepinggan memiliki keterikatan sejarah peristiwa dengan seluruh warga Balikpapan mulai dari zaman penjajahan hingga berkembang sangat modern saat ini. Selain tidak ada urgensinya mengubah nama bandara kami, pengubahan nama bandara kesayangan kami ini akan mengakibatkan 'misleading' di kalangan pelancong, investor, lembaga penerbangan, dan pastinya akan membutuhkan dana tidak kecil untuk melakukan 'rebranding' nama bandara baru tersebut. Kami menyarankan agar uang negara dipakai untuk masalah bangsa ini yang lebih strategis dan krusial.

Tak ada yang mengenal, menyayangai, merawat dan menjaga Bandara Sepinggan lebih dari kami, warga Kota Balikpapan.

Demikian petisi kami.