#AksiTolakBandaraZAM

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Lombok, atau Pulau Lombok, merupakan salah satu destinasi wisata alternatif populer selain Bali. Kawasan ini menjadi tempat wisata pilihan yang menarik bagi wisatawan, baik asing maupun domestik, yang sudah terlalu “bosan” dengan keindahan Bali.

 

Karena banyak dikunjungi wisatawan, di Lombok pun dibangun sarana dan prasarana penunjang untuk menjamin kenyamanan pengunjung. Dan, salah satu fasilitas penunjang pariwisata di pulau ini adalah keberadaan Bandara Internasional Lombok yang dibangun di atas lahan seluas 550 hektar dan menelan biaya hingga Rp625 miliar, yang memiliki desain arsitektur khas rumah adat Sasak.

 

Bandara Lombok merupakan bandara domestik dan internasional yang terletak di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Jalan Tanak Awu. Bandara ini dioperasikan oleh PT Angkasa Pura I dan dibuka pertama kali pada tanggal 1 Oktober 2011 untuk menggantikan peran Bandara Selaparang, Mataram. Peresmian bandara ini dilakukan pada tanggal 20 Oktober 2011 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

 

Sebelum mengusung nama Bandara Internasional Lombok, diadakan jajak pendapat untuk mencari nama yang tepat bagi bandara ini. Pada Januari 2009, hasil jajak pendapat publik yang dilakukan di Lombok menunjukkan bahwa Bandara Internasional Lombok (BIL) dipilih oleh 40,4% responden, disusul Bandara Internasional Sasak sebanyak 20%, dan Bandara Internasional Rinjani sebesar 16,7% responden.

 

Untuk lebih mendongkrak citra bandara ini di mata internasional, pada awal tahun 2016, bandara ini resmi berganti nama menjadi Lombok International Airport. Nama baru tersebut telah disosialisasikan kepada publik sejak 1 Januari 2016. Nama bandara itu sendiri mengacu pada nama bandara terkemuka di negara lain, semisal Kuala Lumpur International Airport atau Changi Airport.

 

Selain itu, penggunaan kata “airport” juga dianggap memiliki branding yang lebih tinggi dibandingkan dengan kata “bandara”. Terlebih, kata “airport” ini juga sudah banyak dikenal oleh publik.

 

Sebagai bandara yang melayani rute domestik dan internasional, Lombok International Airport juga disinggahi banyak maskapai penerbangan. Untuk rute domestik, maskapai yang singgah di bandara ini antara lain Garuda Indonesia, Lion Air, Citilink, hingga Wings Air. Sementara untuk rute internasional, pesawat yang beroperasi di antaranya Silk Air, AirAsia, dan Jetstar.

 

Pada awal September 2018 (di masa pemulihan musibah gempa) Bandara Internasional Lombok yang sejatinya bernama Lombok International Lombok atau disingkat LIA diganti menjadi Zainuddin Abdul Madjid Internatioal Airport (ZAMIA), hal ini didasari oleh Keputusan Menteri Perhubungan RI nomor KP 1421 tahun 2018. Dalam surat tersebut disebutkan penggantian nama Bandara Lombok mendapatkan persetujuan dari Dewan Perwakilan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Mejelis Adat Sasak, dan Keputusan Presiden Indonenesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tentang penganugerahan gelar pahlawan nasional.

 

Dengan adanya Keputusan Menteri Perhubungan RI nomor KP 1421 tahun 2018 menuai polemik di masyarakat NTB, khususnya masyarakat Lombok Tengah yang sejatinya menjadi wilayah operasi Bandara International Lombok tersebut. Mereka menilai apa yang menjadi dasar pergantian nama bandara tersebut tidak tepat, sebab nama bandara tersebut sudah identik dengan masyarakat Lombok dan Lombok adalah milik semua bukan perorangan.

 

Polemik penolakan nama baru bandara terus bergulir di masyarakat Lombok khususnya masyarakat Lombok Tengah. Penolakan tersebut terus bergulir di masyarakat bahkan mereka menggelar istighosah sebagai bentuk bentuk penolakan pergantian nama Bandara Lombok menjadi Bandara Zainudi Abdul Majid (ZAM) dan dipimpin langsung oleh Bupati Lombok Tengah, H Moh Suhaili FT, dan dihadiri oleh Wakil Bupati Lombok Tengah, H Pathul Bahri, Sekda, serta Kepala SPKM Lombok Tengah. “Lombok itu artinya lurus. Maka Nama Bandara Internasional Lombok itu harga mati. Sampai kapanpun tidak boleh nama bandara itu dirubah,” ujar H Moh Suhaili FT dalam pidatonya.

 

Gelombak penolakan nama baru bandara tersebut terus bergulir, baik dari masyarakat Lombok Tengah, kalangan akademisi, aktivis, elemen pemuda dan mahasiswa Sasak Jakarta. Khusus untuk elemen pemuda Sasak yang di Jakarta rencananya akan menggelar aksi langsung di depan Kantor Kementerian Perhubungan dan Istana Presiden, (Rabu, 12 September 2018). Aksi tersebut sebagai langkah strategis pemuda Sasak menolak pergantian nama bandara BIL menjadi ZAMIA.

 

Hindari Konflik*

 

Sebagai masyarakat Lombok yang khas dengan kekeluargaan, keramahan, dan kereligiusanya maka Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungannya dipandang perlu meninjau kembali keputusannya. Jika tidak demikian maka dikhawatirkan konflik sosial di masyarakat akan terjadi.

 

Email Durkheim, dedengkot ahli sosiologi strukturalisme fungsional, pernah menyebutkan bahwa terdapat dua macam solidaritas yang sejauh ini muncul dalam sosial masyarakat. Dua solidarias tersebut adalah soliadaritas mekanik (mechanic solidarity) dan solidaritas organik (organic solidarity). Solidaritas mekanik adalah solidaritas yang dilandasi oleh rasa ikatan emosional, satu keluarga, satu kelompok, satu komunitas, yang menyebabkan semua individua di dalamnya merasa satu bagian yang tidak terpisahkan, yang menyebabkan semua harus seragam. Ini kemudian mewujud sebagai ikatan persaudaraan yang langgeng dan padu (Gemeinschaft). Sementara itu, solidaritas organik, sebaliknya, tidak atau kurang dilandaskan pada satu ikatan emosional melainkan dilandaskan pada pengetahuan yang sama serta pada kepentingan atau tugas tertentu. Dengan demikian, solidaritas tidaklah menjamin hadirnya kohesifitas komunal yang padu, tetapi membiarkan setiap individu berjalan secara tidak seragam (Gesselschaft).

 

Pada titik ini, masalah penggantian nama dari BIL ke ZAM benar-benar menguji sejauh mana dan seperti apa model solidaritas yang kita miliki. Cukup terasa bahwa solidaritas mekanik-lah yang lebih mencuat di ruang publik, ketimbang yang kedua. Hal ini terjadi didorong oleh sentimen-sentimen primordial yang terwujud dalam bingkai kesatuan kedaerahan dan organisasional. Yang saya maksud dengan hal ini adalah, misal, gara-gara berasal dari satu daerah maka sejumlah masyarakat ikut dan merasa terpanggil untuk menyuarakan sikap. Faktanya, sebagain besar orang dari Lombok Timur cenderung mendukung penggantian nama bandara, sebaliknya sebagian besar masyarakat Lombok Tengah merasa terpanggil untuk menolak pengganitian nama bandara dan ingin tetap dengan nama semula. Contoh lain, meskipun ini perlu dicek lebih jauh, gara-gara menjadi pengikut/abituren NW, maka merasa terpanggil untuk memperjuangkan nama ZAM sebagai nama baru bandara, dan gara-gara organisasi NU (yang kebetulan basis massanya sebagian besar di Lombok Tengah) merasa terpanggil untuk mempertahankan nama BIL. Jika begini adanya terus-menerus, penggantian nama ini sudah kontraproduktif lagi bagi kehidupan bermasyarakat kita. Karena sentimen yang berada di balik dua kekuatan adalah sentimen identitas yang sangat primordialis. Dan sungguh ini tidak menarik.

 

Konflik Sosial

Kondisi anomik yang dibumbui oleh sentimen-sentimen primordialis sejatinya akan bisa berdampak munculnya chaos atau konflik sosial yang besar. Dan, siapapun orangnya, sangat tidak mengharapkan hal ini terjadi. Terlalu besar biaya, waktu, dan energi yang harus dihabiskan untuk mengatasi ini, jikalau konflik sosial terjadi.

 

Dalam sosiologi, teori konflik merupakan tandingan dari teori strukturalisme fungsional. Apabila teori yang kedua, menurut Talcot Parsons, menekankan pada aspek keterpaduan, keteraturan, dan keharmonisan setiap elemen di dalam masyarakat, maka teori pertama (teori konflik) memandang bahwa konflik (sosial) sudah menjadibagian yang lumrah terjadi. Menurut Lewis Coser, segregasi sosial yang bermula dari konflik bisa mnjadi awal untuk munculnya sebuah perubahan dan kemajuan suatu masyarakat untuk menjadi lebih baik. Ketika teori struktural fungsional mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu selaluterjadi pada titik equilibrium, maka teori konflik melihat perubahan sosial disebabkan karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan.

 

Dalam kerangka ini, tampaknya kegaduhan yang terjadi dengan isu penggantian nama bandara ini jelas terlihat disebabkan oleh kepentingan masing-masing pihak yang berbeda. Kepentingan-kepentingan tersebut disleubungi dengan argumentasi yang sangat beralasan, menurut masing-masing pihak. Di satu pihak, penggantian nama bandara adalah perlu karena hampir semua bandara yang ada di Indonesia ini menggunakan nama pahlawan nasional sebagai nama/identitas resminya. Dan jelas adanya, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah Pahlwan Nasioanl satu-satunya dari NTB, yang kemudian menjadi milik dan kebanggaan bersama. Atas dasar itulah, menurut mereka, sudah sepantasnyalah dan seyogyanyalah nama beliau menjadi nama baru bandara. Sementara di pihak yang lain, penamaan dengan menggunakan TGKH ZAM ini dilihat sangat politis, dan terkesan nama ini menjadi “hegemoni simbolik” dari organisasi sosial keagamaan yang didirkikan oleh Maulana Syekh sendiri.

 

Akibatnya, atas dasar ini, kemarin pagi sejumlah kelompok masyarakat yanng digawangi oleh Bupati Lombok Tengah dan tokoh masyarakatnya melakukan istigosah dan melakukan cap jempol darah sebagai wujud protes dan penolakannya atas nama tersebut. Tidak kalah sengitnya, kelompok yang pertama pun sudah mulai ancang-ancang untuk melakukan hiziban dan doa bersama di bandara. Jika ini dibiarkan, mau bagaimana jadinya daerah kita ini? Apa iya energi kita akan dihabiskan gara-gara nama baru ini dan kemudian melalaikan tugas dan tanggung jawab yang lebih besar di dalam membangun daerah ini? Lebih-lebih, saat ini, saudara-saudara kita di Lombok Utara dan Lombok Timur hmasih sangat membutuhkan uluran tangan kita untuk memulihkan dari peristiwa gempa.

 

Sumber:

 

Apalah Arti Sebuah Nama (Membaca Kekisruhan Penggantian Nama Bandara Bil Menjadi Zam) Bagian 1

https://artikel.berugaklombok.org/2018/09/apalah-arti-sebuah-nama-membaca.html

 

Hindari Konflik, Pikirkan Solusi! (Membaca Kekisruhan Penggantian Nama Bandara BIL Menjadi ZAM) Bagian 2/Selesai

https://artikel.berugaklombok.org/2018/09/hindari-konflik-pikirkan-solusi-membaca.html

 

Hasil Diskusi Berugak Lombok Membahas Isu Perubahan Nama Bandar Udara di Lombok

https://artikel.berugaklombok.org/2018/09/hasil-diskusi-berugak-lombok-membahas.html

 

Catatan:

* Saya sebagai inisiator petisi online ini mengucapkan beribu minta maaf kepada saudara/kakanda/mamik H. Nuriadi Sayip atas kelancangan saya pribadi mencomot karya pelungguh untuk ditampilkan sebagai bahan logis di petisi online ini.

 



Hari ini: Aliansi Pemuda Sasak Jakarta mengandalkanmu

Aliansi Pemuda Sasak Jakarta membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Kementerian Perhubungan: #AksiTolakBandaraZAM". Bergabunglah dengan Aliansi Pemuda Sasak Jakarta dan 100 pendukung lainnya hari ini.