PENTINGNYA PELATIHAN TANGGAP BENCANA UNTUK SEKOLAH

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


Di seluruh dunia, Indonesia adalah salah satu negara yang berada di wilayah paling rawan gempa dan letusan gunung berapi yang dikenal dengan sebutan Ring of Fire. Dengan kondisi tersebut maka selama berabad-abad negeri ini sejak dulu dan besar kemungkinan di masa-masa yang akan datang akan selalu dihantui oleh bencana-bencana alam yang berhubungan dengan aktivitas perut bumi dalam sekala kecil, menengah maupun besar. 

Gempa bumi dan letusan gunung berapi hanya sebagian dari bencana yang sering terjadi. Selain itu, penduduk negeri ini juga harus selalu was-was atas kemungkinan terjadinya bencana angin topan, angin puting beliung, tanah longsor, banjir, gelombang laut pasang, kebakaran hutan dan lain-lain. Itu belum termasuk bencana atau musibah lain yang diakibatkan oleh faktor manusia seperti kecelakaan transportasi, kebakaran rumah dan permukiman, aksi terorisme dan sejenisnya.

Itulah mengapa dirasa aneh bahwa untuk ukuran sebuah negeri yang peristiwa bencana dan musibah nyaris terjadi setiap hari, namun hingga hari ini kami melihat bahwa pemerintah seperti kurang perduli mengenai pentingnya pemberian pemahaman dan pelatihan tanggap dan waspada bencana bagi siswa sekolah. Padahal jika kita melihat di negara-negara lain, bahkan sekedar simulasi untuk kesiapan menghadapi bencana kebakaran saja sudah diberikan secara rutin bagi anak-anak sekolah sejak di pendidikan dasar. Selain itu mereka juga diberi pelatihan rutin menghadapi situasi gempa bumi hingga situasi genting jika terjadi tindak terorisme.

Itulah mengapa di negara-negara lain, setiap kali terjadi bencana alam ataupun musibah akibat manusia, jumlah korban jiwa bisa ditekan sekecil mungkin.

Di negara-negara tersebut, sejak dini anak-anak diberi pengertian bahwa jika terjadi bencana dan musibah, sebisa mungkin mereka harus menjauh dari pusat kejadian untuk menhindari hal-hal yang lebih buruk. Sementara di negara kita, bahkan jika terjadi tindak terorisme, banyak orang yang justru berkumpul dan berkerumun mendekati lokasi peristiwa dan pelaku teror. Hal yang sama juga berlaku setiap kali terjadi musibah kebakaran. Konsentrasi massa justru terpusat dari radius terdekat dari lokasi kebakaran, membuat upaya penyelamatan maupun pemadaman menjadi terganggu karena kerumunan orang.

Kita tidak dibiasakan dengan wisdom, "jika tak bisa menjadi bagian dari solusi, setidaknya jangan menjadi bagian dari timbulnya masalah baru."

Untuk itu, kami sebagai warga negara, mendesak pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk:

  1. Memasukkan unsur tanggap dan waspada bencana  bagi siswa sekolah dasar dan menengah dalam kurikulum pendidkan;
  2. Secara rutin melakukan simulasi tanggap dan waspada bencana di sekolah-sekolah dasar dan menengah di seluruh wilayah NKRI;
  3. Bekerjasama dengan lintas sektor terkait untuk merumuskan sebuah kebijakan jika terjadi bencana dan musibah lainnya, maka prioritas utama penyelamatan adalah sekolah dan siswa yang sedang belajar;
  4. Menjadikan tanggap dan waspada bencana sebagai gerakan nasional dengan memberi pengertian bahwa bencana maupun musibah bisa terjadi sewaktu-waktu, kapan saja dan berada di tempat-tempat yang tak dapat diperkirakan. Bahwa bencana bisa kapan saja terjadi dan siapapun bisa menjadi korban

Semoga kita semua, negara dan bangsa ini akan selalu berada dalam lindungan Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin.




Hari ini: Eko mengandalkanmu

Eko Visianto membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia: PENTINGNYA PELATIHAN TANGGAP BENCANA UNTUK SEKOLAH". Bergabunglah dengan Eko dan 407 pendukung lainnya hari ini.