Dimana keadilan hukum untuk kelima ibu rumah tangga ini...

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Pernah mendengar pesan berantai kasus Nenek Pencuri Singkong? Hakim menghukum nenek tersebut dengan hukuman penjara selama 2,5 tahun dan denda sejumlah 1 juta Rupiah. Seraya membacakan putusan akhir, Hakim menangis membacakannya. Pula, hakim memberikan hukuman denda kepada setiap orang yang ada di dalam ruang sidang untuk membayar sejumlah 50 ribu Rupiah karena telah membuat Nenek tersebut terpaksa mencuri karena kelaparan.

Benar atau tidaknya kasus tersebut, hal serupa dialami oleh 5 orang Ibu Rumah Tangga dari Dusun 1, Desa Tomuan Holbung, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Polres Asahan, Sumatera Utara (Sumut) memenjarakan lima orang ibu rumah tangga tersebut karena telah memungut dua karung brondolan sawit dan lima janjang sawit di perkebunan milik PT SPR dengan kerugian seninal Rp.450.000,00. Kelima ibu rumah tangga itu berinisial LM (37), SN (48), HS (39), DS (32) serta MT (38) diketahui ditangkap pihak keamanan perusahaan pada 1 Mei 2018 lalu.Terhitung dari tanggal tersebut, kelima Ibu Rumah Tangga malang itu sudah 43 hari mendekam dipenjara.

Disamping itu, Para suami dari para terdakwa tersebut hanya bisa pasrah dan berharap bahwa keadilan akan datang kepada mereka karena ada anak-anak dari kelima ibu rumah tangga tersebut yang akan terlantar nantinya. Lantas, apakah ini keadilan?

Bicara tentang keadilan, semua orang pasti sepakat keadilan itu hanya memihak kebenaran. Bahkan, keadilan dianggap sebagai satu-satunya prinsip hukum yang paling diutamakan diantara 2 prinsip hukum lain yakni kemanfaatan dan kepastian. Adil berarti mendudukkan sebagai mana mestinya (sesuai porsinya) suatu perkara. Sikap adil memunculkan hak dan kewajiban bagi pihak-pihak yang bersangkutan. Namun, banyak sekali ketidakadilan terjadi dalam penegakkan hukum di Indonesia. Kasus diatas bukanlah yang pertama kali terjadi.

Ada banyak sekali kasus besar yang jelas-jelas merugikan negara karena ulah para koruptor yang berbuntut ketidakjelasan dalam penyelesaiannya. Mereka bebas berlenggang, berleha-leha di luar negeri, tidak tersentuh hukum. Sebut saja kasus Cendana, Hambalang, Bank Century, BLBI, dan kasus-kasus terkenal lainnya.

Lex Dura Sed Ita Scripta (Hukum memang kejam, namun begitulah yang tertulis) adalah sebuah adagium hukum yang mensyarakan bahwa hukum memanglah kejam sebagaimana telah diatur dan tanpa memandang siapapun itu baik jabatan, agama, ras, suku, bangsa, dll. Namun dalam konteks ini, hakim telah melakukan hal yang benar secara hukum yaitu menegakkan hukum dengan memvonis kelima ibu rumah tangga tersebut dengan dalih Pasal 362 KUHP tentang Pencurian.

Akan tetapi, Hakim dalam memutuskan harus menggali, mengikuti, serta memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat (Pasal 5 (1) UU No. 48/2009 tentang Kekuasaan Kehakiman). Hal lain diatur pada Pasal 1 (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) mengatur tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (Corporate Social Responsibility) dimana setiap perusahaan wajib ikut serta dalam pembangunan ekonomi masyarakat setempat.

Jika dakwaan ini diterima secara penuh tanpa adanya pertimbangan berdasarkan hal diatas oleh hakim, maka keadilan hukum di Indonesia ini sudah lenyap. Hukum semakin tajam kebawah dan tumpul keatas.

Demi menegakkan keadilan hukum, saya Tareq M. Aziz Elven mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk menadatangi petisi ini. Agar Pengadilan Negeri Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara menolak tuntutan PT. SPR terhadap kelima orang Terdakwa.



Hari ini: Tareq mengandalkanmu

Tareq M. Aziz Elven membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia: BEBASKAN 5 IBU RUMAH TANGGA PEMUNGUT SAWIT DARI KETIDAKADILAN!". Bergabunglah dengan Tareq dan 164 pendukung lainnya hari ini.