Wisata New Normal: Hargai Nyawa Pengunjung, Tetapkan Sistem Daring!

Wisata New Normal: Hargai Nyawa Pengunjung, Tetapkan Sistem Daring!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.
Dengan 100 tanda tangan, petisi ini akan lebih mungkin ditampilkan di halaman rekomendasi!
Andina Mega memulai petisi ini kepada Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif dan

Pandemi Corona sangat berdampak terhadap berbagai sektor kehidupan dan kalangan masyarakat, entah sampai kapan. Dilema yang paling sering diperdebatkan ialah prioritas antara sektor kesehatan dan ekonomi. Hingga saat ini jumlah kasus baru masih terus meningkat, berakibat menurunnya kapasitas sarana dan tenaga kesehatan. Di sisi lain, banyak industri wisata merugi akibat jumlah pengunjung yang turun drastis, berakibat belasan ribu karyawan dirumahkan atau di-phk. Alasannya tentu sangat manusiawi: ketakutan akan virus.

Untuk mengatasi dilema, pemerintah telah berupaya memberi bantuan ekonomi serta menetapkan kebijakan protokol kesehatan yang membutuhkan kerja sama seluruh lapisan masyarakat, termasuk tempat wisata. Beberapa tempat wisata di Jogja misalnya, telah menggunakan sistem reservasi daring untuk membatasi jumlah pengunjung. Sayang, meski sebagian besar tempat wisata telah menyediakan alat higienitas dan menjaga jarak antrean/kursi, belum semua memiliki mekanisme pembatasan jumlah pengunjung yang jelas. Libur panjang akhir pekan Agustus lalu menjadi saksi membeludaknya pengunjung di beberapa tempat wisata yang tidak menerapkan sistem daring. Munculnya kluster long weekend menunjukkan, abainya pengelola tempat wisata (sebagai pemegang kontrol lebih besar) terhadap kepadatan pengunjung dapat berdampak fatal.

Pemerintah daerah telah menegur dan memberi ancaman sanksi bagi tempat-tempat yang tidak menaati protokol kesehatan. Namun menurut saya, pencegahan dalam bentuk solusi konkret akan lebih bermanfaat bagi semua pihak. Tempat wisata memang telah diwajibkan membatasi jumlah pengunjung, namun caranya diserahkan sepenuhnya pada pengelola. Hal ini menjadi celah bagi pengelola yang tidak menggunakan sistem daring untuk memaksimalkan keuntungan, yang sayangnya mengorbankan keselamatan pengunjung. Pada sistem non-reservasi, absennya monitor jumlah pengunjung secara live membuat masyarakat tidak mengetahui pasti kepadatan di tempat tujuan. Namun setibanya di sana, kunjungan seringkali ditoleransi hingga akhirnya membeludak. 

Dengan ini, saya mendesak pemerintah dan pengelola agar menggalakkan sistem daring untuk reservasi dan/atau monitoring live jumlah pengunjung di tempat wisata (lebih baik lagi via situs/aplikasi satu pintu). Selain menambah keamanan dan kenyamanan pengunjung, sistem daring juga memungkinkan pemerataan jumlah pengunjung pada hari-hari biasa dan mengurangi ketakutan masyarakat untuk berkunjung karena kepadatan dapat dimonitor secara pasti. Yang pasti, sistem daring sangat diperlukan sekaligus menjadi bukti komitmen serius pengelola tempat wisata dalam menanggulangi Covid-19. Salam sehat.                        

Referensi:

https://travel.detik.com/travel-news/d-4985532/pariwisata-lesu-76-pekerja-di-phk-dan-belasan-ribu-dirumahkan 

https://kabar24.bisnis.com/read/20200623/15/1256575/dokter-reisa-jelaskan-protokol-kesehatan-di-tempat-wisata

https://travel.kompas.com/read/2020/08/14/070500827/jangan-takut-destinasi-wisata-yang-sudah-buka-layak-untuk-dikunjungi?page=all

https://travel.kompas.com/read/2020/08/22/160500627/pengunjung-membludak-4-tempat-wisata-di-puncak-bogor-ditegur

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200816220333-20-536380/libur-panjang-wisatawan-di-pantai-pangandaran-membeludak

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.
Dengan 100 tanda tangan, petisi ini akan lebih mungkin ditampilkan di halaman rekomendasi!