Petisi ditutup

Tambahkan PCB, DDE, DDD dan BPA dalam Baku Mutu Kualitas Air (PP no.82/2001)

Petisi ini mencapai 165 pendukung


Indonesia Water Community of Practice (IndoWater CoP) adalah consortium organisasi masyarakat sipil (OMS) yang bekerja dalam upaya pemulihan sungai dengan prioritas isu terkait pencemaran air.  Kami mengapresiasi usaha Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar beserta jajarannya dalam melakukan pengendalian pencemaran air di Indonesia. Berdasarkan Atlas Mutu Air Indonesia yang dikeluarkan oleh KLHK (2015) dinyatakan bahwa 68% sungai di Indonesia tercemar berat, dimana penilaian ini didasarkan pada baku mutu kualitas air yang terdapat dalam PP No. 82/ 2001.

Namun, kami melihat bahwa parameter yang tercantum dalam PP No. 82/2001 sudah tidak lagi memadai untuk menjadi panduan penilaian kualitas air yang ada sekarang. Pendapat ini kami dasarkan pada kondisi dimana: (1) kegiatan manusia menghasilkan limbah yang mengandung beragam bahan kimia yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan pada organisme air dan manusia; (2) Beragam senyawa kimia yang terdapat dalam limbah belum terakomodasi dalam baku mutu kualitas air (PP No. 82/2001) dan telah tersebar dan mencemari perairan kita.

Berdasarkan data yang berhasil kami kumpulkan lebih dari 6 perguruan tinggi di Indonesia (diantaranya: ITB, UI, UGM, dan IPB) dan jurnal ilmiah (baik dalam maupun luar negeri), terdapat 2 parameter kualitas air yang seharusnya tercantum dalam PP No. 82/2001 yaitu: poliklor bifenil (PCB), DDE, DDD, dan BPA.

DDE dan DDD adalah metabolit utama dari DDT, dan harus diukur mengingat tingkat racun/toksisitas dan kepekaan makhluk hidup berbeda-beda. BPA (Bisfenol A) ditemukan pada plastik dan limbah industri. PCB digunakan dalam: (1) kapasitor dan transformator listrik; (2) plasticizer; (3) lubrikan; (4) perekat; (5) tinta; (6) pestisida. Baik PCB dan pestisida organoklorin dikategorikan dalam endocrine disrupting chemicals (EDCs) atau senyawa pengganggu hormon (SPH). PCB dan pestisida organoklorin berbahaya karena:

  1. Masuk ke dalam tubuh melalui udara, makanan, dan kulit. Sifatnya yang persisten dan lipofilik menyebabkan PCB dan pestisida organoklorin akan menumpuk dalam tubuh dalam waktu yang lama. Untuk mengurangi 50% konsentrasi PCB dan pestisida organoklorin dalam tubuh memerlukan waktu 1,7 – 30 tahun untuk PCB[1],[2] dan 0.83 -  17 tahun pestisida organoklorin
  2. Dalam konsentrasi yang sangat kecil mampu mengubah keseimbangan sistem endokrin/ hormon melalui 3 mekanisme: menyerupai hormon seks; mengubah sintesa dan degradasi hormon; memodifikasi produksi hormon.
  3. Ukurannya yang sangat kecil (partikel nano) sehingga mampu melewati tali pusar dan plasenta, dan tersimpan dalam tubuh janin. Paparan PCB dan pestisida selama masa kehamilan dikaitkan dengan kesehatan anak. PCB menyebabkan gangguan perkembangan syaraf [3],[4], penurunan IQ[5], dan permasalahan terkait atensi, memori, kemampuan motorik halus (misal: menulis). PCB mempengaruhi perkembangan serta penuaan otak. Sementara pestisida dikaitkan dengan Parkinson[6] dengan perilaku depresi[7], kanker (payudara dan prostat).
  4. PCB dan pestisida terdeteksi pada berbagai perairan di Indonesia (sungai[8],[9],[10], waduk[11], danau[12], dan pesisir), ikan[13],[14], burung[15], dan air susu ibu (ASI)[16],[17],[18].
  5. Konsentrasi PCB dalam ASI di Indonesia berkisar antara 4,4-350 ng/g lemak; DDT berkisar antara 18-41.600 ng/g lemak. DDT metabolit yang terdeteksi pada ASI p,p' DDE 14 - 12.000 ng/g; p,p' DDD 0,44-25 ng/g; p,p' DDT 2,2-2.400 ng/g. Kandungan p,p' DDE 428 kali dan p,p' DDT 435 kali lipat lebih tinggi daripada ASI yang terdeteksi pada ibu-ibu di Finlandia dan Denmark yang anaknya mengalami cacat lahir (undescended testis/ UDT). 
  6. Perempuan dan anak adalah kelompok rentan akan paparan PCB, DDT dan metabolitnya dan BPA. Dr. Astrid Sulistomo DrPH SpOK berdasarkan penelitiannya selama 2008-2009, menemukan bahwa 204 dari 600 petani bawang perempuan mengalami keguguran/aborsi spontan akibat paparan pestisida dengan resiko 3 kali lipat lebih tinggi daripada wanita yang tidak bekerja sebagai petani  (Suara Merdeka, 10 April 2010). Dampak lainnya dari paparan pestisida adalah kanker, dimana contohnya adalah kasus kanker yang diderita oleh sejumlah petani dan burgh perkebunan di Kabupaten Mesuji (Internasional Kompas, 2013)
  7. BPA sudah dideteksi pada air anak S. Cikamasan (Puncak) sebesar 6,5-9,1 ng/L. Hal ini menunjukkan bahwa pencemaran oleh senyawa plastik sudah dimulai dari hulu sungai
  8. Konsentrasi PCB pada sedimen yang terdeteksi pada Kali Mas mencapai 420 ng/gr berat kering dan diikuti oleh penelitian kolaborasi yang dilakukan oleh Universitas Brawijaya dan Toulouse yang menemukan bahwa 20% populasi ikan bader (Puntius gonionotus) jantan yang hidup di Kali Mas mengalami interseksualitas/ kebencongan yang berarti terbentuknya sel telur dalam jaringan testis disebut juga sebagai testis-ova. Menunjukkan bahwa pencemaran PCB sudah berdampak terhadap kesehatan makhluk air. Berkaca pada konsentrasi yang PCB dan pestisida organoklorin yang dideteksi di Kali Mas, maka peristiwa ikan interseks/ bencong juga terjadi di sungai-sungai Indonesia lainnya yang memiliki karakteristik pencemar yang sama dan mengancam biodiversitas dan populasi ikan Indonesia.

 Mengingat bahwa baik PCB maupun pestisida organoklorin juga termasuk dalam kategori persistent organic pollutants (POPs) dan Indonesia telah melakukan ratifikasi Konvensi Stockholm melalui UU No. 19/2009 maka terdapat kewajiban pemerintah untuk melakukan penelitian, pengembangan kerjasama dan kebijakan, menyediakan informasi kepada publik dan pengawasan mengenai/terhadap POPs (Pasal 11). Maka kami, IndoWater CoP, mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk:

  1. Melakukan pemantauan terhadap konsentrasi PCB dan pestisida organoklorin pada sungai yang menjadi prioritas pemulihan (air, sedimen, dan indikator biologis)
  2. Melakukan inventarisasi terhadap fenomena ikan interseks/bencong yang pada sungai – sungai yang menjadi prioritas pemulihan
  3. Meningkatkan kapasitas (laboratorium) dinas lingkungan hidup provinsi sehingga dapat melakukan pemantauan PCB dan organoklorin.
  4. Melakukan koordinasi dengan kementerian terkait dalam rangka pengendalian pencemaran PCB dan pestisida organoklorin
  5. Menetapkan PCB, BPA, DDE dan DDD sebagai parameter pemantauan kualitas air dalam PP No. 82/2001

Demikianlah usulan kami, atas perhatian dan kerjasamanya, saya mengucapkan terima kasih

Hormat saya,

Riska Darmawanti (Koordinator Nasional IndoWater CoP)


[1] Ogura Isamu. Half-life each dioxin and PCB congener in the human body. Risk assessment. Organohalogen compounds. 2004. 66: 3329-3337. https://staff.aist.go.jp/i-ogura/Dioxin200409paper.pdf
[2] Bu Q, MacLeod M, Wong F, Toms L. L, Mueller J. F, Yu G. Historical intake and elimination of polychlorinated biphenyls and organochlorine pesticides by the Australian population reconstructed from biomonitoring data. Environ International. 2014. 74:82-88. http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0160412014002906
[3] Winneke G. Developmental aspects of environmental neurotoxicology: Lessons from lead and poly- chlorinated biphenyls. J Neurol Sci. 2011; 308:9-15. 

[4] Stein J, Schettler T, Wallinga D, Valenti M. In harm’s way: toxic threats to child development. J Dev Behav Pediatr 2002; 23:S13-22 

[5] Dingemans MM, van den Berg M, Westerink RH. Neurotoxicity of brominated flame retardants: (in)direct effects of parent and hydroxylated polybrominated diphenyl ethers on the (developing) nervous system. Environmental health perspectives 2011; 119:900-907 

[6] Paule MG, Green L, Myerson J, Alvarado M, Bachevalier J, Schneider JS, Schantz SL. Behavioral toxicology of cognition: extrapolation from experimental animal models to humans: behavioral toxicology symposium overview. Neurotoxicology and teratology 2012; 34:263-273 

[7] Freire C, Koifman S. Pesticides, depression and suicide: a systematic review of the epidemiological evidence. International journal of hygiene and environmental health 2013; 216:445-460 

[8] Munawir, K. Pemantauan kadar pestisida organoklorin di beberapa muara sungai di Perairan Teluk Jakarta. Osea dan Limno Ind.  2005. 37: 15-25
[9] Ilyas M, Sudaryanto A, Setiawan I.E, Riyadi A.S., Isobe T, Takahashi S, Tanabe S. Characterization of PCB and BFR in sediments from riverine and coastal waters of Surabaya, Indonesia. Marine Poll Bull. 2011. 62:89-98
[10] Rosdiana A. Karakteristik senyawa polychlorinated biphenyls (PCB) pada air dan sedimen Muara Sungai Ciliwung, DKI Jakarta.2014. Tesis. IPB. 30 hal
[11] Rahmawati S. R, dan Oginawati K. Distribusi organoklorin pada air, sedimen, moluska, dan ikan di Waduk Saguling. 3 hal
[12] Isworo R, Purwanto I, dan Sabdono A. Impact of pesticide use on organophosphorus and organochlorine concentration in water and sediment of Rawa Pening lake, Indonesia. Res. J. of Environ Sci. 2015. 9(5): 233-240
[13] Utami R. R, dan Ariesyady H. D. Analisis resiko organoklorin pada manusia pengonsumsi ikan nila (Oreochromis niloticus) dari Waduk Saguling. 2 hal
[14] Srimumpuni R dan Noegrohati S. Bioakumulasi pestisida organoklorin dalam ikan belanak (Mugil sp) di perairan Cilacap. Majalah Farmasi Indonesia. 1997. 8(4): 150-159
[15] Sari D. P, dan Hadisusanto S. Residu DDT pada burung cerek Jawa (Charadrius javanicus Chasen 1938) di kawasan Pantai Trisik Kulon Progo, Jogjakarta. 5 hal
[16] Sudaryanto A, Kunisue T, Kajiwara N, Iwata H, Adibroto T. A, Hartono P, Tanabe S. Specific accumulation of organochlorines in human breast milk from Indonesia: levels, distribution, accumulation kinetics, and infant health risk. Environ Poll. 2006. 139: 107-117
[17] Burke E. R, Holden A. J, Shaw I. C, Suharyanto F. X, Sihombing G. Organochlorine pesticide residue in human milk from primaparous women in Indonesia. Bull. Environ. Contam. Toxicol. 2003. 71:148-155
[18] Pirsaheb M, Limoee M, Namdari F, dan Khamutian R. Organochlorine pesticides residue in breast milk: a systematic review. Med J. Islamic Rep of Iran. 2015. 10 hal



Hari ini: Indonesia Water Community of Practice mengandalkanmu

Indonesia Water Community of Practice membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Tambahkan PCB dan Pestisida Organoklorin Dalam Baku Mutu Kualitas Air (PP no.82/2001)". Bergabunglah dengan Indonesia Water Community of Practice dan 164 pendukung lainnya hari ini.