Tolak Permen LH&Hut No. P20/Men.LHK/6/2018 ttg Jenis Tumbuhan dan Satwa yg dilindungi

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Hapus atau revisi lampiran dalam Permen LH dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi seperti satwa muraibatu/kucica hutan, jalak suren, cucak hijau dll

Setelah hampir 19 Tahun akhirnya Pemerintah, melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LH & Hut) Nomor P-2/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang di Lindungi yang mana sebelumnya diatur dalam Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, itu artinya Pemerintah butuh waktu 19 Tahun untuk merubah status dari jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi menjadi tidak dilindungi dan sebaliknya.

Padahal kalaulah konsisten dalam konservasi setidaknya Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dalam Lampiran tersebut harus sering direvisi sebagaimana lembaga NGO yang ada di Indonesia maupun yang ada diluar negeri yang selalu merevisi daftar jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.
Yang paling mengejutkan penulis adalah masuknya Murai Batu kedalam daftar satwa yang dilindungi sebagaimana dalam lampiran Permen LH & Hut Nomor P-20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 pada nomor 693 dengan nama ilmiah Kittacincla Malabarica (nama Indonesia Kucica Hutan), sebagai penghobi burung berkicau, Penulis tahu betul bahwa Kucica Hutan adalah penamaan yang sama dengan Murai Batu, Nama ilmiahnya adalah Kittacincla Malabarica dikenalkan oleh Scopoli pada tahun 1788, sedangkan menurut Collar, Murai Batu nama ilmiahnya adalah Copsychus Malabaricus dalam Bahasa Inggris dikenal nama White Rumped Shama.

Menurut ketentuan Pasal 21 ayat 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UU No 5 Tahun 1990 ttg KSDAH&E) menyatakan “Setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati”, pelanggaran terhadap ketentuan ini diancam pidana penjara paling lama 5 Tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) sebagaimana dalam ketentuan Pasal 40 ayat 2 UU No.5 Tahun 1990 ttg KSDAH&E, ini berarti sejak 29 Juni 2018 maka siapa saja yang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati tanpa izin burung kucica hutan (murai batu) dan satwa lain yang dilindungi sebagaimana dalam Lampiran Permen LH & Hut Nomor P-20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 diancam pidana 5 Tahun dan denda sebagaimana tersebut diatas.

Yang menjadi pertanyaan bagi penulis mengapa Kucica Hutan (Murai Batu) masuk kedalam daftar satwa yang dilindungi sebagaimana Permen LH & Hut Nomor P-20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018?, sebagaimana kita ketahui berdasarkan Pasal 20 ayat 2 UU No 5 Tahun 1990 ttg KSDAH&E menyatakan “tumbuhan dan satwa yang dilindungi adalah dalam bahaya kepunahan dan yang populasinya jarang”, pertanyaan selanjutnya apakah Kucica Hutan (Murai Batu) termasuk dalam bahaya kepunahan dan populasinya jarang?, apalagi Permen LH & Hut Nomor P-20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 atau peraturan lain yang terkait tidak menjelaskan apa status satwa yang dilindungi sebagaimana lembaga lain yang berkecimpung didunia konservasi.

Sebagai contoh Penulis merujuk status konservasi yang paling banyak dijadikan oleh negara-negara dunia sebagai rujukan secara global diantaranya The IUCN Red List of Threatened Species dan CITES Appendices. Meskipun status lembaga tersebut tidak mengikat secara hukum namun paling tidak menjadi acuan di berbagai negara.
IUCN adalah organisasi konservasi alam yang didirikan pada Tahun 1948. Lembaga ini beranggotakan Pemerintah dan berbagai negara dan organisasi masyarakat sipil. IUCN menerbitkan status konservasi sebagai spesies mahluk hidup dalam suatu daftar merah (Red List). Dan biasa direview biasa per 5 tahun sekali.

IUCN Red List of Threatened Species membagi status konservasi mahluk hidup kedalam sembilan kategori yaitu Extinct (EX) atau punah, Extinct in the Wild (EW) atau punah dialam liar, Critically Endangered (CR) atau Terancam kritis, Endangered (ED) Terancam, Vulnerable (VU) atau rentan terancam, Near Threatened (NT) atau mendekati terancam, Least Consern (LC) atau beresiko rendah, Data Deficient (DD) atau kurang data, dan Not Evaluated (NE) atau tidak dievaluasi.

The Convention on International Trade ini Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES Appendices) adalah perjanjian internasional untuk memastikan perdagangan spesies hewan dan tumbuhan tidak menimbulkan ancaman terhadap kelangsungan hidup spesies tersebut. Saat ini anggota CITES terdiri dari lebih dari 181 negara. CITES menyusun tiga kategori terhadap spesies-spesies yang diatur perdagangannya yaitu Apendix 1 yaitu satwa atau tumbuhan yang terancam punah, Apendix 2 meliputi spesies yang tidak selalu terancam punah namun perdagangannya harus dikontrol, Apendix 3 meliputi spesies yang dilindungi oleh paling sedikit satu negara dan pihak tersebut meminta bantuan CITES untuk mengendalikan perdagangannya.

Sedangkan di Indonesia ada Pelestari Burung Liar Indonesia (Birdlife Indonesia Association) sebelumnya Birdlife International Indonesia Programme yang berdiri di Indonesia sejak 1992 yang mengkategorikan konservasi satwa liar yaitu Critically Endangered (CR) atau Terancam kritis, Endangered (EN) Terancam, Near Threatened (NT) atau mendekati terancam, Least Consern (LC) atau beresiko rendah, Data Deficient (DD) atau kurang data, bahkan mereka mengkategorikan status perlindungan dengan Dilindungi atau Tidak Dilindungi.

Dari ketiga organisasi tersebut, IUCN menyatakan Kittacincla Malabarica (Kucica Hutan atau Murai Batu) status konservasinya adalah Least Consern (LC) atau beresiko rendah dan tidak dikategorikan sebagai terancam, CITES Appendices menyatakan menyatakan Kittacincla Malabarica (Kucica Hutan atau Murai Batu) status konservasinya adalah Apendix 2 atau tidak selalu terancam punah namun perdagangannya harus dikontrol, bahkan Birdlife Indonesia Association tidak mengkategorisasikan status konservasi Kittacincla Malabarica (Kucica Hutan atau Murai Batu).

Dari ketiga referensi ini pihak Pemerintah mesti menjelaskan kepada kicaumania atau masyarakat yang memelihara burung Murai Batu, Apa yang mendasari Kittacincla Malabarica (Kucica Hutan atau Murai Batu) adalah satwa yang dilindungi? Apalagi dikaitkan dengan Pasal 20 ayat 2 UU No 5 Tahun 1990 ttg KSDAH&E menyatakan “tumbuhan dan satwa yang dilindungi adalah dalam bahaya kepunahan dan yang populasinya jarang”, penulis sudah banyak mengumpulkan data bahwa Kittacincla Malabarica (Kucica Hutan atau Murai Batu) bukanlah satwa dalam bahwa kepunahan dan yang populasinya jarang.

Berdasarkan anggota Pelestari Burung Indonesia Endang Budi Utami mengatakan pada 2014 tercatat ada 1000 lebih orang penangkar burung termasuk penangkar/peternak murai batu yang berpusat di Jawa dan Bali (Sumber: https://tekno.tempo.co/read/603336/penangkar-burung-di-indonesia-berkembang-pesat diakses pada 31 Juli 2018), Risdiyanto penangkar/peternak murai batu sejak Tahun 2007 yang dikenal dengan nama “Mapan Bird Farm”di Provinsi Lampung, mempunyai 32 pasang indukan dalam satu bulan apabila tidak ada gangguan dengan masa reproduksi 2 bulan sekali menghasilkan 35 anakan dalam 1 bulan dan pernah mendapatkan omset 80 juta rupiah perbulan (Sumber: https://sinarlampung.com/penangkaran-murai-batu-agrobisnis-prospektif diakses pada 31 Juli 2018), sehingga tidak beralasan apabila Presidan RI Joko Widodo membuat statement mengapresiasikan penangkar burung apalagi perputaran uang didunia kicaumania mencapai 1,7 Triliun s/d 3,3 Triliun per Tahun (Sumber: http://presidenri.go.id/berita-aktual/apresiasi-penangkar-burung-dalam-festival-burung-berkicau.html dan http://www.beritasatu.com/megalopolis/482625-penangkaran-burung-kicau-hasilkan-perputaran-uang-rp-17-t-per-tahun.html diakses pada 31 Juli 2018).

Dengan banyaknya penangkar/peternak burung murai batu mustahil rasanya kalau Kucica Hutan atau Murai Batu dalam bahaya kepunahan atau populasinya jarang dan wajar saja kalau IUCN dan CITES Appendices mengkategorikan Kucica Hutan/Murai Batu bukanlah satwa yang dikategorikan terancam (LC) (lihat http://www.iucnredlist.org/details/103894856/0 bahkan Birdlife Indonesia Association tidak mengkategorikan Kucica Hutan/Murai Batu dalam daftar Dilindungi (lihat www.burung.org dikarenakan mereka tahu betul masih banyaknya populasi Kucica Hutan/Murai Batu di Indonesia.

Itu baru Kucica Hutan/Murai Batu, belum lagi patut dipertanyakan mengapa Gracupica Jalla atau dikenal Jalak Suren juga dilindungi padahal banyak peternak/penangkar Jalak Suren bahkan ada namanya Dukuh Sendang Lebah, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten saking terkenalnya Dusun tersebut disebut Dusun Jalak Suren Klaten di Dusun tersebut dari 125 Kepala Keluarga, 86 Kepala Keluarga di Dusun tersebut adalah peternak/penangkar Jalak Suren dan sampai sekarang Dusun ini mampu memasok Jalak Suren ke berbagai kota seperti Solo, Semarang, Jakarta dan sebagainya. (Sumber: http://redaksikicau.com/2016/07/kampung-jalak-suren-klaten.html?m=1 diakses pada 31 Juli 2018).

Kalau penulis bertanya lagi mengapa Pemerintah tidak memasukkan Copsychus Saularis (Kucica Kampung dikenal oleh kicau mania Burung Kacer dalam bahasa Inggris disebut Oriental Magpie Robin) kedalam satwa yang dilindungi, mengingat kalau penulis kumpulkan data bahwa keberadaan penangkar/peternak Murai Batu lebih banyak daripada penangkar/Peternak Kacer? Belum lagi kalau penulis bertanya mengapa burung Meiglyptes Tristis atau Caladi Batu atau Burung Pelatuk Caladi Batu (Bahasa Inggris= White Rumped Woodpecker) yang merupakan burung pelatuk endemik Pulau Jawa tidak masuk kedalam satwa dilindungi oleh Pemerintah padahal Bird Life International dan IUCN memasukkannya spesies berstatus Endangered (EN) atau terancam punah (lihat www.iucnredlist.org/details/22727198/0 )?

Dari uraian tersebut seharusnya Pemerintah sebelum membuat daftar lampiran satwa dilindungi khususnya kelas AVES/BURUNG harus berkoordinasi atau meminta masukan dari semua stakeholder terutama Even Organizer/Perkumpulan di Indonesia yang mempunyai kesamaan visi dalam konservasi satwa terutama konservasi burung berkicau seperti PBI, BnR, Radjawali Indonesia, Ronggolawe Nusantara dll, belum lagi banyak penangkar/peternak burung terutama penangkar/peternak burung Murai Batu baik di seluruh wilayah Indonesua mengingat saat ini Murai Batu adalah Satwa Kicauan paling populer dalam lomba burung berkicau apalagi dari sisi nilai jual satwa tersebut.

Jangan sampai banyak orang awam dipenjara gara-gara memelihara Kucica Hutan/Murai Batu sehingga menurunkan semangat memelihara burung tersebut yang akhirnya mempunyai efek domino kepada peternak jangkrik, peternak kroto, pengrajin sangkar, produsen obat burung dan lain sebagainya apalagi menurut Penulis burung Kucica Hutan/Murai Hutan bukanlah burung terancam punah dan sedikit populasinya!

Akhirnya, hanya pemerintah lah yang bisa menjelaskan kepada kicaumania apa argumentasi hukum atau legal opinion sehingga Kucica Hutan/Murai Batu masuk kedalam satwa yang dilindungi? Atau ada motif lain misalkan saja karena perputaran uang didunia kicau begitu besar akhirnya Pemerintah mesti membuat daftar satwa dilindungi sehingga bagi siapa saja yang menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan misalnya burung Murai Batu harus ada prosedur perizinan yang tentu saja ada biaya sehingga bisa menjadi pemasukan untuk kas negara? Ataukah ada motif lain lagi?

Ngomong-ngomong kicau mania di Indonesia tahu lho Bapak Jokowi punya peliharaan Murai Batu, bahkan beliau pernah menggantangkan Murai Batu miliknya pada even Festival Burung Berkicau Piala Presiden 2018 di Kebun Raya Bogor tanggal 11 Maret 2019, apakah beliau mempunyai surat izin memelihara Murai Batu ke pihak yang berwenang?

 



Hari ini: Forum Kicau Mania Indonesia mengandalkanmu

Forum Kicau Mania Indonesia membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan cq BKSDA: Tolak Permen LH&Hut No. P20/Men.LHK/6/2018 ttg Jenis Tumbuhan dan Satwa yg dilindungi". Bergabunglah dengan Forum Kicau Mania Indonesia dan 59 pendukung lainnya hari ini.