Pembentukan Kurikulum Penyuluhan Mengenai HKSR di Sekolah Indonesia

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Setiap sekolah harus memberikan penyuluhan mengenai isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) kepada peserta didik mereka.

Sudah menjadi hal yang lumrah jika banyak dari anak-anak yang beranjak dewasa tidak berani membicarakan tentang proses menjadi dewasa, apalagi jika harus membahas tentang bagian seksualitas dan reproduksi mereka. Rasa malu yang tidak wajar dan pemikiran untuk menyimpannya sendiri sudah tertanam di para anak yang beranjak remaja ini ketika mereka mendapatkan tanda-tanda pubertasnya. Mereka tidak percaya diri untuk membahas hal tersebut dengan orang di sekitarnya, sehingga timbullah berbagai macam persepsi dan kesimpulan yang diambil sendiri oleh remaja itu, padahal belum tentu kesimpulan yang mereka ambil terkait dengan HKSR yang sepenuhnya benar.

Hal ini didasari oleh kurangnya pengetahuan mereka tentang isu HKSR, menyebabkan mereka tetap menganggap bahwa seksualitas dan reproduksi adalah suatu hal tabu untuk dibahas bersama orang lain. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya kesadaran individu untuk dapat menyadari kewajibannya dalam memberikan informasi kepada anak-anak yang mulai beranjak dewasa ini.

Hal itu tentunya akan berakibat sangat fatal jika terus terusan dibiarkan, seperti semakin banyaknya informasi yang tidak benar mengenai penanganan kesehatan seksual dan reproduksi, serta penurunan rasa percaya diri oleh orang yang mengalami perubahan seksualitas dan reproduksi.

Wadah terbesar yang dapat menjadi pendidik atau pemberi informasi mengenai kesehatan seksual adalah guru-guru mereka di sekolah dan juga orang tua mereka di rumah. Di sekolah guru-guru dapat memberikan pemahaman yang lebih baik dengan adanya pembuatan kurikulum tertentu atau kegiatan tertentu yang mendukung adanya penyuluhan/pemberian informasi yang cukup kepada peserta didiknya mengenai HKSR yang tepat, hal ini dapat memberikan dampak dimana isu HKSR tidak lagi dianggap tabu, karena para remaja ini dapat mendiskusikannya bersama guru atau bahkan teman mereka ketika mereka telah mendapat penyuluhan, mereka juga dapat menjadi seorang peer educator yang mengedukasi bagi teman-teman sebayanya. Sehingga kesalahpahaman mengenai isu HKSR tidak lagi terjadi. Para guru juga dapat memperkenalkan sarana lain untuk mendapatkan informasi atau melakukan konsultasi terkait HKSR di pusat kesehatan yang mempunyai Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) agar para siswa tak merasa kebingungan lagi untuk mencari tempat berkonsultasi terkait reproduksi mereka kepada yang lebih ahli yang dalam hal ini adalah dokter.

Maka dari itu dengan adanya petisi ini, sekolah dapat dituntut untuk memaksimalkan kegiatan penyuluhan isu HKSR di sekolah masing-masing kepada peserta didiknya agar mereka dapat memahami seksualitas dan tumbuh mereka masing-masing. Sekolah dapat memberikan suatu kurikulum dasar sampingan yang dapat diterapkan sela-sela waktu pembelajaran dengan bantuan arahan dari pemerintah untuk menggalakkan penyeruan isu HKSR ini di sekolah-sekolah utamanya SMP dan SMA demi mengurangi serta mencegah timbulnya kasus-kasus kekerasan seksual yang menyangkut para remaja.