Pastikan Setiap Penduduk Menjalankan Ritual Terakhir (Last Rites) Sesuai Agamanya

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Sejak di bangku sekolah kita telah diajarkan tentang keragaman agama di Indonesia. Keragaman agama = keragaman ritual ibadah. Ritual ibadah adalah ibadah sehari-hari serta ritual yang berkaitan dengan momen penting kehidupan manusia seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ritual agama terkait kematian (dalam bahasa Inggris disebut last rites) berbeda-beda sesuai agama. Contohnya jenazah Muslim dimakamkan lalu makamnya dipasangi nisan yang ditulis kalimat Innalillahi wa inna ilaihi raji'un dalam aksara Arab, jenazah Kristiani dimakamkan lalu makamnya dipasangi nisan salib, jenazah Hindu & Buddha dikremasi. Namun hal yang terjadi pada mendiang Albertus Slamet Sugihardi baru-baru ini tidak semestinya lagi.

Berikut adalah kronologis kejadian yang saya kutip dari kompas.com & tirto.id:

Senin, 17 Desember 2018 lalu seorang warga RT 53/RW 13 Purbayan Kotagede (Yogyakarta) bernama Albertus Slamet Sugihardi meninggal dunia. Keluarga mendiang Slamet adalah 1 dari 3 KK beragama Katolik di RW 13 sedangkan mayoritas warga RW 13 adalah umat Muslim yaitu 150-an KK. Dua keluarga Katolik lain itu adalah kerabat mendiang Slamet. Mendiang Slamet sekeluarga adalah jemaat Gereja Katolik Santo Paulus Pringgolayan dan bagian dari Lingkungan Gregorius Agung Sanjaya (GAS).

Di hari meninggalnya mendiang, para tetangga langsung berdatangan. Mereka membantu mempersiapkan berbagai hal di rumah duka dan dipemakaman hingga membantu menggali kubur. Memang semasa hidupnya mendiang dikenal sebagai pribadi yang baik. Hubungan mendiang semasa hidupnya dan keluarga dengan warga juga sangat baik. Mendiang Slamet juga melatih paduan suara ibu-ibu Muslim di lingkungannya.

Mendiang dimakamkan di pemakaman Jambon Purbayan. Keluarga sepakat, warga juga tak keberatan karena Slamet adalah warga setempat.

Menurut tokoh masyarakat setempat, Bejo Mulyono, "Jambon Purbayan walau belum resmi tapi akan dijadikan makam Muslim. Kemarin itu karena darurat diperbolehkan, asal makam (Slamet) dipinggirkan dan tidak ada simbol-simbol Nasrani karena di sini mayoritas Islam."

Maka warga setempat melakukan 'kesepakatan' dengan istri mendiang yang bernama Maria Sutris Winarni agar nisan salib dipenggal bagian atasnya (hingga tersisa berbentuk huruf T saja) untuk menghilangkan simbol Kristiani.

Pemotongan salib dilakukan setelah mendiang Slamet dimakamkan pada Senin, 17 Desember 2018. Pelaku pemotong salib adalah warga yang saat itu ikut melayat usai ada 'kesepakatan' yang dibuat warga setempat dan keluarga almarhum.

Sehari setelah pemakaman yaitu 18 Desember 2018 dibuatlah Surat Pernyataan yang ditandatangani istri mendiang. Pada surat pernyataan yang diketik komputer itu ditulis "Saya dapat menerima dengan ikhlas hati dan tidak ada permasalahan lagi". Foto surat pernyataan Maria bisa dilihat di http://regional.kompas.com/read/2018/12/21/08565691/klarifikasi-lengkap-pemotongan-nisan-salib-di-makam-kotagede-yogyakarta

Tidak hanya itu misa requiem (misa arwah) yang lazim saja diadakan di rumah duka akhirnya dipindah ke Gereja Katolik Santo Paulus Pringgolayan sekitar pukul 12.00 atau sebelum pemakaman. Lagi-lagi ini merupakan rekomendasi warga setempat. (Misa arwah diadakan di rumah adalah hal yang sama lazimnya seperti Yasin-an yg diadakan di rumah kita saat keluarga kita meninggal) 

Bejo menyebut pemotongan salib dan larangan misa arwah dilakukan untuk 'menghindari konflik'. Bejo mengklaim rumah Slamet pernah didatangi warga karena menggelar sembahyang lingkungan. Bejo mengaku saat itu dia meredakan amarah warga dan meminta untuk tidak lagi menggelar sembahyang di kampung.

Larangan simbol dan ibadah Nasrani di Purbayan ditegaskan ketua RT 53, Soleh Rahmad Hidayat. "Sebenarnya kuburannya 99% untuk orang Islam. Jadi mungkin sudah jadi aturan biar tidak menimbulkan konflik. Kan baru ini juga ada yang nonMuslim dimakamkan di situ. Setiap kampung ada aturannya sendiri. Nggak boleh itu (ibadah nonMuslim)."

Ketua Lingkungan Gregorius Agung Sanjaya (GAS), Wiwik Jati berkata selama ini Lingkungan GAS kerap melakukan ibadah di rumah Slamet seperti ibadah rutin, Rosario, Bulan Kitab Suci Nasional, dan sebagainya tetapi tanpa ada nyanyian sebab warga setempat melarangnya.

"Kalau umat Lingkungan GAS nggak ada yang protes. Hanya kalau ada kejadian tertentu lapor ke gereja. Nanti gereja yang menangani. Kami menyadari kami ini minoritas. Lebih baik mengalah."

Sementara itu Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Kevikepan DIY merilis keterangan tertulis pada 19 Desember 2018. Kevikepan adalah lembaga yang menjadi pusat koordinasi sejumlah paroki di suatu wilayah. Keterangan tertulis adalah hasil penelusuran Kevikepan terhadap keterangan keluarga korban, pengumpulan data, koordinasi dengan tokoh-rokoh umat Paroki Pringgolayan, dan pertemuan dengan berbagai pihak (tokoh lintas iman di FPUB, Kapolsek hingga Danramil hingga pertemuan dengan Tim Pencari Fakta FPUB DIY/Tim Kanwil Depag).

Keterangan tertulis dari Kevikepan DIY menyebutkan bahwa status makam saat terjadi pemakaman merupakan makam umum. Selain itu, dibenarkan interaksi warga dengan keluarga selama ini memang sangat baik. Tetapi ada sekelompok orang pendatang dengan dukungan luar yang memberi tekanan fisik dan psikis secara langsung maupun tidak langsung melalui sebagian warga. Pihak Kevikepan juga menyebutkan bahwa surat pernyataan istri mendiang awalnya dibawa oleh 7 orang dari pihak Kelurahan, Polsek, Koramil, dan pengurus kampung. Kevikepan DIY meminta aparat keamanan menyikapi secara serius adanya ancaman serius terhadap ketertiban dan keamanan masyarakat dan memperjuangkan tetap tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Sultan Hamengku Buwono X meminta maaf pada keluarga mendiang dan Kevikepan. Video permintaan maaf Sultan dalam jumpa pers itu juga diunggah di akun YouTube Humas Jogja. Berikut ini adalah cuplikannya.

"Kepada Bu Slamet maupun kepada Vikep, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dari peristiwa yang ada ini. Biarpun tadi didengar ketidaksengajaan tetapi saya wajib sebagai pembina wilayah menyatakan permohonan maaf. Ini bagi kita pembelajaran semua, bagaimana masyarakat Yogya itu tetap menjaga toleransi, menjaga harmoninya masyarakat tetap rukun, damai, dan merasa aman dan nyaman tinggal di Yogyakarta. Apa artinya demokratisasi di Yogya paling tinggi kalau terjadi intoleransi yang akhirnya menimbulkan masalah dan dampak yang merugikan kebersamaan sebagai masyarakat Yogyakarta. Agama dan simbol-simbol keagamaan itu dijamin dalam konstitusi. Di sini kita semua kurang tanggap terhadap simbol-simbol itu. Hanya mungkin mengambil praktisnya saja sebagai bentuk kompromi. Saya mengingatkan kepada pejabat wilayah harus bisa mengingatkan agar memberitahu untuk tidak keliru dalam penerapan," tegas Sultan HB X

 


Saudara-saudara, pasal 29 ayat (2) UUD 1945 menegaskan Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Beribadah juga mencakup pelaksanaan ritual terakhir (last rites) menurut agama dan kepercayaannya. Jadi yang terjadi di Purbayan pada makam mendiang Slamet sudah tidak sesuai dengan Konstitusi negara kita.

Memang keluarga mendiang memilih mengalah, sepakat mengikuti keinginan warga karena menghindari konflik. Namun apa yang telah dilakukan warga Purbayan bisa menciptakan preseden bagi penganut agama apapun di wilayah/propinsi lain. Preseden bahwa warga mayoritas dapat mendikte warga minoritas untuk tidak sepenuhnya menjalankan ritual ibadah. Jika kita menutup mata tentang ini, bukannya tidak mungkin jika nanti ada warga minoritas Hindu yang meninggal maka keluarganya dilarang melakukan kremasi jenazah & melarung abunya ke sungai dengan alasan mencegah polusi udara dan polusi air. Atau bukannya tidak mungkin juga kita, umat Muslim yang telah terbiasa menjadi mayoritas, jika nanti meninggal di daerah yang minoritas Muslim akan dilarang memakamkan jenazah dengan alasan lahan semakin sempit. Intinya adalah jika kita memilih diam saja terhadap apa yang terjadi di Purbayan, bisa jadi di daerah lain nantinya warga mayoritas punya bermacam alasan untuk menghalangi warga minoritas menjalankan ritual terakhir (last rites). Tentu saja HAL ITU TIDAK BOLEH TERJADI. Inilah keresahan saya yang mendorong saya membuat petisi ini. Inilah juga alasan yang saya ajukan pada Anda untuk mempertimbangkan mendukung petisi ini.

Petisi ini memiliki poin-poin konkret yang kita inginkan segera terwujud di antaranya:

  1. Makam mendiang Albertus Slamet Sugihardi dipasangkan nisan salib yg lazim sesuai aturan agama Katolik/Kristen. Alangkah lebih baik jika Saudara-saudara di Yogya (apapun agamanya) ikut menyiapkan nisan salib & membantu hal-hal lain terkait prosesi pemasangan nisan salib.
  2. Dengan segala hormat, kami memohon kesediaan Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk menyaksikan prosesi pemasangan nisan salib pada makam mendiang. Sebab Sri Sultan adalah pemimpin tertinggi rakyat Yogya dan sangat ditaati. Ucapan Sultan adalah perintah bagi rakyat Yogya. Kehadiran Sri Sultan adalah titah bagi warga Purbayan, menunjukkan bahwa inilah pemakaman jenazah Katolik yang seharusnya dilakukan Purbayan dan seluruh Yogya.
  3. Aparat setempat mengamankan prosesi pemasangan nisan salib dari awal hingga selesainya prosesi.
  4. Aparat setempat memastikan keluarga dan kerabat mendiang tidak akan mengalami kekerasan fisik maupun psikis dari oknum tertentu.
  5. Kementerian Agama RI agar kembali mengkaji apakah ada peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang penghalangan ritual ibadah agama dan perusakan simbol agama. Jika peraturan perundang-undangan tersebut memang ada maka sanksi harus ditegakkan bagi warga Purbayan yang memiliki inisiatif untuk mengusulkan pemotongan salib, mengusulkan pemindahan lokasi misa arwah ke gereja, dan pelaku pemotongan salib.
  6. Lembaga Pemerintah terkait agar mengkaji ulang tentang signifikansi lokasi yang dikhususkan bagi pemakaman umat tertentu. Jika tidak ada signifikansi maka yang diperbolehkan hanya pemakaman umum (tidak perlu ada pemakaman  khusus Muslim, khusus Kristiani, dan lain-lain).
  7. Sebagai langkah proaktif: Lembaga Pemerintah terkait agar cepat tanggap terhadap peristiwa ini dan membuat regulasi yang tegas untuk menjamin tentang pelaksanaan ritual terakhir (last rites) setiap penduduk Indonesia dan memuat hukum yang tegas bagi siapapun yang mengganggu pelaksanaan ritual terakhir (last rites) setiap agama, baik agama yang diakui Pemerintah maupun yang tidak diakui Pemerintah.

Jadi jika Saudara-saudara memiliki keresahan yang sama dengan saya, jika Anda juga setuju dengan poin-poin konkret petisi ini, mohon tandatanganilah petisi ini. Saudara-saudara yang telah memviralkan foto nisan salib terpotong di media sosial harap kesediaannya menandatangani petisi ini. Mohon sebarkan juga petisi ini pada keluarga dan teman-teman Anda. Sudah saatnya kita bertindak nyata agar Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya tinggal nama.


NB: Saya hanya seorang Muslimah yang mencintai pluralitas dan menginginkan ke-bhinneka-an tetap terjaga di Indonesia.