Terima dan Layani Pasien Cuci Darah Untuk Naik Haji

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


Bismillahirahmanirrahim


Saya adalah salah seorang dari ribuan atau bahkan mungkin puluhan ribu anak yang orangtuanya tidak diterima sebagai calon jamaah haji hanya lantaran divonis gagal ginjal dan harus menjalani perawatan Haemodialysis (cuci darah). Ayah saya harusnya berangkat tahun ini. Namun pelarangan oleh penyelenggara telah menghalangi niatnya. Padahal beliau sudah mendaftar sejak sebelum divonis gagal ginjal. Usahanya untuk menabung sia-sia sudah. Penyelenggara beralasan bahwa didasarkan pada aturan yang tertuang dalam Permenkes No 15 tahun 2016 pasal 13, ayah kami tidak bisa diberangkatkan ke tanah suci.

Sebagai anak, saya tentu bersedih. Karena, seperti anak-anak muslim lainnya, saya dan saudara-saudara saya sangat berharap agar mimpi orangtua kami untuk naik haji dapat terwujud. Betapa kami kecewa karena negara tidak memberi peluang agar orangtua kami sampai ke Baitullah. Dan kami hanyalah sebagian kecil dari ribuan atau bahkan mungkin puluhan ribu anak lainnya yang tak dapat menghantarkan orangtua tercinta ke gerbang ibadah haji lantaran terhalang aturan tadi.

Menurut kami, aturan tentang pelarangan ini harus di tinjau ulang, dan sedapatnya dicabut. Bukankah mereka (para pasien Hemodialysis) juga merupakan warga negara yang harus dilayani kepentingan peribadahannya? Pelayanan tersebut adalah bagian dari penerapan Pancasila, yang pada butir kedua sila pertama tertera jelas bahwa Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Manusia Indonesia itu termasuk orangtua kami dan para penyelenggara sendiri. Dalam Islam  seseorang yang sudah mampu diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji. Setelah memenuhi pasal yang mewajibkan, maka ibadah haji bukan lagi sebagai beban, melainkan kebutuhan bagi setiap muslim. Memenuhi kebutuhan ini bagi pasien Hemodialysis adalah perwujudan kemanusiaan yang adil dan beradab seperti yang diterakan pada butir kedua, sila pertama Pancasila tadi.

Secara finansial semua yang dituntut sudah dipenuhi. Jika ada yang kurang, tinggal kami tambahkan saja. Dan secara fisik, sesungguhnya orangtua kami mampu. Sebab, hingga kini meski harus menjalani cuci dari 2 kali dalam seminggu, ayah kami tetap bisa menjalani aktifitas harian dengan baik, termasuk dalam berdakwah. Ya, ayah kami adalah seorang ulama. Dan itu menjadi salah satu alasan lagi kenapa ia begitu kecewa karena tidak diterima sebagai calon jamaah haji tahun ini. Jika ia harus di rawat dengan proses cuci darah, kami sangat yakin hal itu dapat terlayani di tempat dimana ibadah haji dilaksanakan. Bukankah, tahun-tahun sebelum aturan ini diterapkan, jamaah dengan perawatan hemodialysis tetap dilayani?

Harapan kami juga didasarkan pada Undang-undang nomor 39 tahun 1999,  Pasal 22 (2) yang berbunyi "Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.". Jaminan negara atas kemerdekaan ini menurut hemat kami menjadi cacat manakala ada diskriminasi seperti yang diterima para pasien Hemodialisys. Negara sepatutnya mencarikan solusi agar pelayanan cuci darah terhadap para jamaah seperti ayah kami dapat terlayani di Mekkah. Apalagi, tahun ini pemerintah Arab Saudi sudah memberi peluang penambahan kuota Jamaah haji. Tentu hal ini telah melewati banyak pertimbangan, termasuk ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai di tanah kaya raya itu.

Jadi, mewakili ribuan atau bahkan mungkin puluhan ribu anak yang kecewa tadi berharap agar pihak terkait memberi kesempatan kepada orangtua kami dapat berangkat ke Baitullah. Ini adalah mimpi orangtua kami. Mungkin mimpi terakhir mereka sebelum bertemu dengan sang pemilik rumah yang dirindukan setiap muslim.