Kebijakan Menurunkan Passing Grade pada Seleksi CPNS Tahun 2018 Langkah Mundur Pemerintah

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Saat ini Pemerintah melalui Panselnas CPNS 2018 sedang disibukkan dengan menyusun langkah tepat untuk dapat menyaring peserta SKB dari hasil SKD. Sayangnya, hasil SKD tahun ini sangat mengecewakan, banyak yang tidak lolos passing grade pada TKP. Jika kemudian timbul petisi menurunkan passing grade dan kemudian Pemerintah mengambil kebijakan tersebut menurut saya itu adalah langkah mundur dan langkah gagal Pemerintah. Jika memang hal ini pernah terjadi pada tahun 2017 mengapa tidak dilakukan evaluasi sejak proses seleksi tahun itu berakhir. Mengapa sebelum pelaksanaan seleksi CPNS 2018 tidak dilakukan penyempurnaan kebijakan. Menurut saya passing grade  seleksi 2018 yang diterapkan masih dalam tahap kewajaran, jika kemudian soal lebih sulit itu adalah upaya Pemerintah untuk mencari kandidat yang benar-benar berkompeten, berwawasan kebangsaan, dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata walaupun hal ini tidak dapat diukur hanya berdasarkan hasil CAT semata. Atas persoalan terhadap proses seleksi CPNS 2018 untuk jalur umum saya memiliki beberapa usulan:

1. Berdasarkan  Permenpan RB Nomor 37 Tahun 2018 tentang Nilai Ambang Batas Seleksi Kompetensi Dasar Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun 2018. Nilai ambang batas Seleksi Kompetensi Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun 2018 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 (dua) yaitu: a. 143 (seratus empat puluh tiga) untuk Tes Karakteristik Pribadi; b. 80 (delapan puluh) untuk Tes Intelegensia Umum; dan c. 75 (tujuh puluh lima) untuk Tes Wawasan Kebangsaan. Nah yang menjadi persoalan saat ini adalah rendahnya nilai TKP para peserta sehingga kuota peserta SKB tidak terpenuhi bahkan ada formasi yang mengalami kekosongan karena tidak ada yang lolos. Jika dalam 1 formasi membutuhkan 5 orang calon maka minimal 15 orang (3x formasi) yang berhak melangkah ke SKB. Menurut saya kalau tidak dapat memenuhi 15 peserta yang lolos passing grade ketiga komponen tersebut maka kekurangannya diambil dari  peserta yang tidak lolos dan memiliki nilai TWK dan TIU di atas passing grade (lolos 2 komponen). Nilai TWK dan TIU  ini yang menjadi bahan perangkingan untuk memenuhi kekurangan peserta SKB (3x formasi).

2.       Lalu, apakah nilai TKP tidak diperhitungkan? Nilai TKP akan diakumulasikan saat proses terakhir penentuan kelulusan. Misalnya si A nilainya: TWK 120, TIU 80, dan TKP 142, total nilai 342. Si A lolos dua komponen tes dan memiliki kesempatan ikut perangkingan SKB. Nah persentase perhitungan kelulusan adalah SKD (40%) dan SKB (60%). Untuk perhitungan akhir tetap menggunakan nilai kumulatif dari ketiganya jadi nilai SKD (40% dari 342) dan nilai SKB (60% dari nilai SKB)

3.       Lalu bagaimana dengan peserta yang lolos passing grade, tetapi nilai kumulatifnya lebih rendah dari peserta yang lolos dua komponen, langkah alternatifnya adalah dengan memberikan point plus pada saat pelaksanaan SKB tentu juga dengan memperhatikan kapasitas dan kemampuan si calon. Karena proses seleksi ini benar-benar bertujuan mencari yang terbaik untuk menjadi pelayan masyarakat yang berintegritas.

 Demikian masukan dari saya semoga dapat terlahir ASN yang berwawasan kebangsaan, cerdas, berkompeten, berkualitas, dan berani berkompetisi di negeri ini tanpa harus mengubah peraturan yang sudah dibuat oleh Pemerintah.  



Hari ini: Ariati mengandalkanmu

Ariati Madya membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Kemenpanrb: Kebijakan Menurunkan Passing Grade pada Seleksi CPNS Tahun 2018 Langkah Mundur Pemerintah". Bergabunglah dengan Ariati dan 17 pendukung lainnya hari ini.