@KemenkesRI: Jamin Ketersediaan Obat ARV di Layanan Kesehatan

0 telah menandatangani. Mari kita ke 10.000.


Ditengah situasi pandemik COVID-19, pengadaan obat ARV di Indonesia kacau. Hampir seluruh daerah kekurangan stok obat atau bahkan kadaluarsa obat. Beberapa negara importer ARV yang biasa kirim obat ke Indonesia juga mengalami lockdown dan tidak bisa kirim stok obat. Ditambah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang tutup akses transportasi seperti kereta api dan pesawat terbang.

Saat ini, ada kurang lebih 130.000 pasien dengan HIV yang dalam pengobatan dan diantaranya terdapat kurang lebih 11.000 pasien anak. Saya Baby Rivona adalah salah satu dari 130.000 org tersebut. Sudah 17 tahun saya hidup dengan HIV dan harus bergantung pada obat Anti Retroviral (ARV) seumur hidup. 

Apa sih pentingnya obat ARV? 

ARV adalah penolong kami. Obat ini tekan laju pertumbuhan virus dan tingkatkan daya tahan tubuh agar saya dapat pulih, hidup sehat dan produktif. Yang lebih penting, konsumsi ARV secara teratur turunkan jumlah virus HIV secara drastis agar tidak menularkan kepada orang lain. Makanya obat ARV  harus dikonsumsi setiap hari, seumur hidup.

Dari sinilah kami bisa kembali hidup dengan baik dan mendapatkan hak kami yang lainnya sebagai warga Negara Indonesia seperti menikah dan memiliki keturunan tanpa menularkan pasangan atau anak anak yang kami kandung nanti. Dengan tubuh yang sehat kami juga dapat menjaga stabilitas ekonomi di keluarga bahkan memungkinkan untuk berkontribusi pada Negara dengan membayar pajak.

Obat ARV diberikan gratis, tapi hanya dapat diakses secara terbatas oleh orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di rumah sakit dan puskesmas yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan. Tapi sekarang, ada banyak kawan yang mulai kesulitan mengakses ARV dimasa COVID-19

Ada yang harus habis ongkos bolak balik Nusa Penida - Denpasar setiap dua minggu sekali untuk ambil obat. Banyak juga yang terpaksa minum ARV jenis lain karena kekosongan obat dan mengakibatkan mendapat banyak efek samping seperti pusing, susah tidur, dan sampai bahkan Anemia. Belum lagi mereka yang putus ARV karena putus asa dengan kondisi kekosongan ini.

Respon pemerintah kami rasakan sangat lambat tentang masalah ini. Di tengah pandemic COVID-19 negara khususnya Kementerian Kesehatan seharusnya memiliki skala prioritas untuk kelompok yang memiliki kebutuhan khusus akan pengobatan. 

Dulu, pemerintah pernah dengar suara, dukungan, dan kerja keras kita bersama saat kita petisi minta akses obat Hepatitis C jenis Sofosbuvir. Sekarang saya mau ajak kalian sekali lagi buat kemenangan dengan minta pemerintah untuk menjamin ketersediaan obat ARV di layanan kesehatan agar ODHA tidak putus pengobatan.


Salam, 

Baby Rivona