DESAK PEMERINTAH SEGERA TERBITKAN ATURAN UU TENTANG PEMAKAIAN KALIMAT TAUHID UNTUK BENDERA

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


BANTU SEBARKAN & VIRALKAN AGAR BANYAK YG PAHAM.
Woi...
Saudaraku...
Jangan mudah terprovokasi !!!
Dibawah ini adalah bendera2 organisasi Pengecut Pengadu domba, pemecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Jangan mau di adu domba, rakyat yg rugi.
Mereka yg untung.

Bantu Viralkan dan sebarkan !!!

#komunitas_nasionalis
#komunitas_kritis
#ods
#pgn

Patriotsatu.com – Terkait bendera panji dan kalimat Lafadz Tauhid, Ketua Umum Komunitas kritis Oscar Dany Susanto menghimbau agar Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dan lembaga terkait segera mengambil sikap tegas dan segera membuat UU larangannya.
“Agar mencegah potensi-potensi perpecahan antar umat beragama, sebab umat Islam di negeri kita ini memang jumlahnya paling besar, bahkan terbesar di seluruh dunia, ” ujarnya kepada patriotsatu.com melalui Whatsapp, Selasa (23/10/2018).

Ia menambahkan, Negara kita akan sangat kuat jika umat islam bisa bersatu dan negara kita akan mudah dihancurkan jika umat Islam berhasil dipecah belah dan di adu domba.

“Sudah diketahui umum bahwa kerukunan antar umat beragama hanya berada di level atas, karena ada tujuan-tujuan politik. Sementara potensi perpecahan sangat kelihatan di level paling bawah (masyarakat-red),” imbuh Oscar.

Lanjutnya, Komunitas Kritis kwatir level elit tidak mampu mengontrol massa arus bawahnya sehingga terjadi konflik horisontal yabg akhirnya memberi peluang bangsa asing untuk memanfaatkan situasi tersebut dengan memanfaatkan putra-putra dan tokoh-tokoh yang bermental Penghianat.

“Mengapa kami mendorong pemerintah dan lembaga terkait karena kami yakin Polri akan lambat menyelesaikan kasus Garut ini, dikarenakan alasan potensi peepecahan akibat ketidak puasan masa yang jumlahnya sangat banyak,” jelas Oscar.

Menurutnya, karena kondisi ini dirinya sebagai Ketua Umum Komunitas Kritis memandang hal ini sangat penting dan akan berencana membuat petisi dengan judul “DESAK PEMERINTAH DAN MUI TETAPKAN UU/ATURAN MENGENAI BENDERA ORGANISASI YANG MENGGUNAKAN LAFADZ TAUHID”.

Demikian bahan masukan yang dapat dipakai untuk dipertimbangkan. Mari kita berdoa bersama bagi keselamatan Bangsa, dan seluruh rakyat Indonesia.

Dibawah ini adalah ulasan mengenai bendera dan panji Rasululloh Muhammad Saw untuk dipakai sebagai pedoman :

Semenjak masa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, umat Islam sudah mempunyai bendera. Dalam bahasa Arab, bendera sebut dengan liwa’ atau alwiyah (dalam bentuk jamak). Istilah liwa’ sering ditemui dalam beberapa riwayat hadis tentang peperangan. Jadi, istilah liwa’ sering digandengkan pemakaiannya dengan rayah (panji perang).

Istilah liwa’ atau disebut juga dengan al-alam (bendera) dan rayah mempunyai fungsi berbeda. Dalam beberapa riwayat disebutkan, rayah yang dipakai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berwarna hitam, sedangkan liwa’ (benderanya) berwarna putih. (HR Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah).

Meskipun terdapat juga hadis-hadis lain yang menggambarkan warna-warna lain untuk liwa’ dan rayah, sebagian besar ahli hadis meriwayatkan warna liwa’ dengan warna putih dan rayah dengan warna hitam. Secara ukuran, rayah lebih kecil dari liwa’. Mengenai ukuran panjang dan lebarnya, tidak ditemui riwayat yang menjelaskan secara rinci dari bendera maupun panji-panji Islam pada masa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dalam sebuah hadis dikatakan, “Panji Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol.” (HR Tirmizi).

Rayah dan liwa’ sama-sama bertuliskan La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah. Pada rayah (bendera hitam) ditulis dengan warna putih, sebaliknya pada liwa’ (bendera putih) ditulis dengan warna hitam. Rayah dan liwa’ juga mempunyai fungsi yang berbeda. Rayah merupakan panji yang dipakai pemimpin atau panglima perang. Rayah menjadi penanda orang yang memakainya merupakan pimpinan dan pusat komando yang menggerakkan seluruh pasukan. Jadi, hanya para komandan (sekuadron, detasemen, dan satuan-satuan pasukan lain) yang memakai rayah.

Rayah diserahkan langsung oleh khalifah kepada panglima perang serta komandan-komandannya. Selanjutnya, rayah dibawa selama berperang di medan peperangan. Karena itulah, rayah disebut juga Ummu al-Harb (Induk Perang).

Mengenai hal ini, berdalil dari hadis dari Ibnu Abbas mengatakan, Rasulullah ketika menjadi panglima di Perang Khandak pernah bersabda, “Aku benar-benar akan memberikan panji (rayah) ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah kemudian memberikan rayah tersebut kepada Ali bin Abi Thalib yang saat itu menjadi ketua divisi pasukan Islam. (HR Bukhari).

Ibnu Asakir dalam bukunya Tarikh ad-Dimasyq jilid IV/225-226 menyebutkan, rayah milik Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mempunyai nama. Dalam riwayat disebutkan, nama rayah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah al-Uqab.

Selain itu, fungsi liwa’ sebagai penanda posisi pemimpin pasukan. Pembawa bendera liwa’ akan terus mengikuti posisi pemimpin pasukan berada. Liwa’ dalam perperangan akan diikat dan digulung pada tombak. Riwayat mengenai liwa’, seperti yang diriwayatkan dari Jabir radi allahu anhu yang mengatakan, Rasulullah membawa liwa’ ketika memasuki Kota Makkah saat Fathul Makkah (pembebasan Kota Makkah). (HR Ibnu Majah).

Setelah masa-masa ekspansi dari daulah Islam berakhir, simbol-simbol menyerupai rayah dan liwa’ kembali muncul. Banyak kelompok dan ormas yang menggunakan simbol tersebut sebagai lambang organisasinya. Namun, apakah hal ini diperkenankan?

Almarhum KH Ali Mustafa Ya’qub pernah mengatakan, sebenarnya tidak ada larangan bagi satu kelompok untuk memakai simbol rayah dan liwa’. Namun, jika tujuannya untuk menipu atau mengecoh umat Islam, tentu itu jelas haram.

Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, kelompok-kelompok ekstremis, seperti Islamic State of Irak and Suriah (ISIS), menggunakan rayah dan liwa’ untuk menipu umat Islam. Hal itu dibuktikan dengan perbuatan mereka yang tidak sesuai dengan slogan yang mereka usung. Penggunaan rayah dan liwa’ hanya sekadar propaganda untuk menarik simpati umat Islam.

Demikian juga tentang fungsi rayah dan liwa’ sebagai bendera umat Islam. Menurut Ali Mustafa, tidak ada dalil kuat yang bisa mengklaim begitu saja bahwa liwa’ merupakan bendera umat Islam. Menurutnya, Islam bukan bendera, melainkan keyakinan. Keberadaan rayah dan liwa’ pada zaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam hanya sebagai tanda.

Penulis : Oscar Dany Susanto



Hari ini: Oscar dany mengandalkanmu

Oscar dany Susanto membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Kemenag: DESAK PEMERINTAH SEGERA TERBITKAN ATURAN UU TENTANG PEMAKAIAN KALIMAT TAUHID UNTUK BENDERA". Bergabunglah dengan Oscar dany dan 35 pendukung lainnya hari ini.