Petisi ditutup

Berhentilah mempermalukan Indonesia dengan seolah menjadi tim kampanye Donald Trump dan meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia.

Petisi ini mencapai 4.141 pendukung


Peristiwa hadirnya Ketua DPR dan Wakil Ketua DPR dalam event kampanye Capres Amerika serikat adalah kejadian yang menampar muka setiap orang Indonesia baik yang ada di Nusantara ataupun di Luar Negeri.

Indonesia adalah negeri berdaulat, WNInya bukan warga negara lain, apalagi anggota partai negara lain, apalagi tim sukses Capres negara lain.

Lha ini kemarin Ketua DPR dan Wakil Ketua DPR kita malah ikut menghadiri momen jumpa pers sekaligus kampanye Donald Trump, seseorang yang selama ini dinilai rasis, anti imigran, bahkan anti Muslim oleh ustadz yang tinggal di Amerika.

Melihat video yang ada, sebagai orang Indonesia, tidak ada perasaan lain selain bahwa kita sedang sangat direndahkan, dengan seorang Ketua DPR, pejabat tinggi negara, hanya dibuat seperti boneka yang ditampilkan 3 menit di panggung, yang hanya dipaksa jawab "yessss".

Dalam hal ini kami warga Indonesia yang rasional, mempetisi Ketua DPR Setya Novanto, Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan beberapa anggota DPR yang menghadiri momen kampanye Donald Trump itu, untuk berhenti mempermalukan bangsa Indonesia, dan minta maaf kepada bangsa Indonesia atas tindakannya yang tidak mencerminkan harga diri bangsa, dan membuat komitmen bangsa ini sebagai bangsa anti rasis dipertanyakan.

Bangsa Indonesia tidak memihak Capres di Amerika ataupun negara lain.

Anda seharusnya hanya bertemu dengan Trump di kantor pemerintahan US, atau di tempat lain selama urusannya adalah urusan bilateral, bukan di momen kampanye seperti itu.

JIka tidak mampu, maka sebaiknya Anda berdua rela untuk mengundurkan diri dan diganti oleh putra terbaik bangsa Indonesia lainnya.

Mengutip:

1. Dari Wall Imam Shamsi Ali:

Saya sayangkan Ketua DPR bertemu dengan Donald Trump, apalagi dalam acara kampanyenya.

Pertama sangat tidak etis karena posisinya sebagai ketua DPR. Ketua DPR mewakili negara. Dan negara tidak etis mendukung salah satu calon, apalagi menghadiri acara kampanye.

Kedua, ketua DPR kita diterima tidak lebih dari 3 menit unik sekedar memperlihatkan muka di depan panggung. Sungguh merendahkan martabat bangsa dan negara untuk sekedar tersenyum di depan publik Amerika pendukung Donald Trump.

Ketiga, menandakan tidak adanya jalan lain untuk mengatakan bahwa pejabat kita memang sedang keluar negeri untuk sebuah perjalanan dinas. Terus terang, saat ini ada banyak anggota DPR ke ke AS justeru di saat Congress sedang reses (liburan). Mereka lebih banyak menghabiskan waktu jalan-jalan dan belanja.

Keempat, Donald Trump dikenal rasis dan anti imigran, termasuk anti Muslim. Harusnya seorang ketua DPR harus berhati-hati. Jangan sampai pertemuan itu menjadi pembenaran sikap dia yang rasis.

Tolong disebar luaskan ini. Di saat bangsa ini menghadapi kesulitan ekonomi dengan jatuhnya harga rupiah, sejarusnya pejabat negara kita semakin sensitif. Kita sadar anggaran itu ada untuk dipakai jalan. Tapi minimal ada rasa solidaritas untuk tidak memakai anggaran pada hal-hal yang tidak penting di saat rakyat menggeliat dalam
Kesulitan...

New York, 3 September 2015

https://www.facebook.com/100006036134753/videos/409394169271784/

2. Dari Wall Prof Muhammad AS Hikam: 

NGAPAIN PARA PIMPINAN DPR-RI IKUTAN KONFERENSI PERS DONALD TRUMP?. Donald Trump (DT), capres dari Partai Republik dlm Pilpres 2016 Amerika, mengadakan konferensi pers tgl 3 September 2016 kemarin, terkait dg kampanye dirinya. Yang menarik dalam video YouTube ini bukanlah soal isi konpers DT itu, tetapi gambar para pimpinan DPR-RI yg berdiri di belakang konglomerat real estate AS itu. Anda bisa lihat ada Setya Novanto (SN), Fadli Zon (FZ) dan setidaknya dua orang Indonesia lain. Pertanyaannya, apakah kehadiran pimpinan di konpers ini layak dilakukan? Masak pimpinan DPR kok menjadi bagian dari kampanye Pilpres di negara lain. Ataukah mereka cuma sedang "terjebak" di sana karena menjadi tamu DT?

Yg jelas dii akhir tayangan video, DT memperkenalkan SN, katanya bliyo adalah "one of the most powerful men in Indonesia.." Makanya bliyonya sabar nunggu giliran. Ketika SN ditanya DT, "do they like me in Indonesia? (apakah mereka menyukai saya di Indonesia?), dengan sumringah SN jawab (sambil jabat tangan): "Yes yes..." (mengingatkan saya pada novel Pramoedya, 'Anak Semua Bangsa')

Sungguh memelas!

https://www.facebook.com/mashikam/posts/10205086384142998

 



Hari ini: Abu Muhammad mengandalkanmu

Abu Muhammad Al Jawy membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Kedua DPR Setya Novanto: Berhentilah mempermalukan Indonesia dengan seolah menjadi tim kampanye Donald Trump dan meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia.". Bergabunglah dengan Abu Muhammad dan 4.140 pendukung lainnya hari ini.