Jangan tutupi kejahatan seksual di Gereja Katolik Indonesia

Jangan tutupi kejahatan seksual di Gereja Katolik Indonesia

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


GEREJA KATOLIK BUKAN PELINDUNG KEJAHATAN SEKSUAL

Mata publik dibukakan oleh laporan jurnalistik berseri #NamaBaikGereja yang diturunkan oleh The Jakarta Post dan Tirto.id.  Laporan berseri tersebut merupakan pengembangan dari pemberitaan Warta Minggu Paroki Maria Bunda Karmel Tomang, Jakarta Barat atas sebuah diskusi buku yang digelar Mitra ImaDei dan Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya pada 30 November 2019.

Alih-alih bertindak cepat dan tepat, Ketua KWI mempertanyakan temuan tersebut. Dalam jumpa pers tahunan pada 25 Desember 2019 di Katedral Jakarta, Ketua KWI sekaligus Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo berujar, “Saya mempertanyakan KWI mana yang bicara atas nama KWI. Tanya ke mereka dari mana mendapat data, valid atau tidak data itu. Atau secara etis melanggar etika atau tidak. Ini dari mana datanya? Kok atas nama KWI, sementara ketuanya tidak tahu. ‘Kan aneh."

Skandal seks para klerus dan kaum religius di balik tembok Gereja bahkan telah menjadi keprihatinan besar Paus Fransiskus. Melalui motu proprio berjudul “Vos Estis Lux Mundi” (kamu adalah terang dunia), Paus Fransiskus mewajibkan setiap Keuskupan di dunia untuk mendirikan pada Juni 2020, “satu atau lebih sistem yang terbuka, stabil dan mudah diakses untuk penyerahan laporan” tentang pelecehan seksual yang dilakukan para klerus dan religius, penggunaan pornografi anak, dan tindakan penyembunyian pelecehan. Hingga Juni 2020 berlalu, Gereja Katolik di Indonesia belum menjalankan perintah Tahta Suci tersebut.

Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas, terdorong oleh keprihatinan dan keyakinan kami bahwa Gereja Katolik adalah sarana terbaik bagi kami belajar dan menjalankan ajaran Kristus, maka kami menyatakan:

1.     Mendesak Kardinal dan semua uskup Gereja Katolik di Indonesia agar segera melaksanakan perintah Paus Fransiskus sebagaimana termuat dalam Motu Proprio.

2.     Menuntut Kardinal dan semua uskup menangani semua skandal seks yang dilakukan oleh sejumlah oknum klerus dan oknum religius secara transparan dan konsisten, termasuk mengumumkan oknum-oknum yang terlibat serta sanksi yang diberikan.

3.     Menuntut Kardinal dan semua uskup memberikan perlindungan dan kompensasi pada para korban dan keluarganya sebagai wujud kasih dan keadilan.

Sikap tegas, transparan dan keseriusan kardinal dan para uskup tentang skandal seks merupakan perwujudan komitmen Paus Fransiskus dan Gereja Katolik yang tidak memberikan tempat dan toleransi bagi pelaku kejahatan seksual dan pelanggar kaul suci selibat.

Petisi ini kami buat demi kehormatan, kewibawaan dan kesucian Gereja Katolik yang hingga kini kami percayai dan yakini sebagai wadah terbaik penuntun hidup kami. Apakah Gereja Katolik di Indonesia akan tetap menutup diri dan membiarkan korban terus berjatuhan? Apakah Gereja Katolik Indonesia lebih memilih untuk melindungi pelaku dengan berbagai dalih, alih-alih menghadirkan kasih, pemulihan dan keadilan bagi para korban? Apakah Gereja Katolik Indonesia tak ingin mewujudkan kerajaan Allah di dunia?

 

Kita menanti.

 

Pada Peringatan Hari Santo Ignatius Loyola,

31 Juli 2020

 

Inisiator:

1. Riza Primahendra 081288308145

2. Widya Saraswati

3. Margaretha Diana

4. Teguh Mudjiyono

5. Fransisca Tri Susanti Koban

6. Agustinus Adi

 

Salam.

 

Ilustrasi: Tirto.id