Kapolri, Hentikan Kampanye Kekerasan di Medsos atau Internet!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Tentu kita masih ingat pada masa pilkada DKI yang baru saja berlalu di mana Ustad Rizieq berteriak-teriak bunuh Ahok... bunuh Ahok... bunuh Ahok....

Ustad Rizieq bukan satu-satunya yang berteriak-teriak seperti itu, dan bukan hanya Ahok saja yang diteriaki untuk dibunuh. Ada banyak video di media sosial yang merekam orang-orang yang mengeluarkan teriakan bunuh, penggal leher atau yang semacam itu.

Tentu kita terheran-heran. Emang boleh berteriak-teriak seperti itu? Bukankah itu perbuatan mengancam orang lain yang dilarang oleh undang-undang atau hukum di Indonesia?

Apalagi jika masyarakat menganggap itu sebuah fatwa suci dari para ulama atau anjuran untuk melakukan pembunuhan, kekerasan atau persekusi? (tolong lihat arti kata persekusi di kamus)

Sebagaimana kita tahu, Indonesia sedang menjelang pilkada serentak 2018 dan pilpres 2019, maka sebaiknya Indonesia bebas dari ancam-mengancam dalam bentuk apapun agar kita bisa memilih yang terbaik. Jangan biarkan untuk tujuan politik atau tujuan membela jagonya yang berlaga di pilkada atau pilpres lalu menggunakan atau menunggangi agama untuk mengancam lawan dengan kekerasan, pemenggalan leher atau pembunuhan.

Indonesia tentu masih negara demokrasi, maka tentu semua boleh membicarakan ideologi apapun, ideologi khilafah sekali pun. Namun menjadi pelanggaran hukum jika mengancam atau memaksa orang lain untuk mengikuti ideologi mereka atau menjadi seperti mereka. Mengancam membunuh orang atau memenggal leher orang tentu adalah satu bentuk pemaksaan atau tekanan.

Bahkan menyebut orang dengan kata kafir saja seharusnya dilarang, karena kata itu adalah satu bentuk persekusi dari satu kelompok kepada kelompok yang lain.

Kata kafir menurut para ulama adalah sebutan buruk bagi orang atau segolongan orang. Bahkan silahkan bertanya pada ulama apa yang harus dilakukan kepada orang kafir, yaitu bersikap keras, bahkan dibunuh di mana pun mereka berada. Tentu ulama akan bilang bahwa sikap atau perlakukan seperti itu kepada kaum kafir hanya dilakukan pada situasi perang saja. Namun ada segelintir ustad yang mendorong ummat untuk berpikir bahwa situasi sekarang adalah situasi perang, karena negeri ini sedang dikuasai oleh kaum kafir, dikuasai musuh Islam atau dikuasai thoghut. Tidak sulit bagi kita untuk menemukan fitnah-fitnah bagi pemerintahan sekarang di berbagai group Whatsapp, Facebook, Twitter, Instagram dan lain-lain.

Jadi Pak Kapolri, tolong tegaskan dengan berbagai cara kepada masyarakat, bahwa berbagai undang-undang atau hukum di Indonesia masih berlaku, sehingga perlu memperhatikan 4 point di bawah ini:

1. Ada beberapa kelompok petualang politik yang giat menunggangi agama, ulama, ustad dan ummat.
2. Siapapun tidak boleh mendorong orang lain untuk melakukan kekerasan, pemenggalan leher atau pembunuhan kepada mereka yang bukan golongan mereka.
3. Siapapun tidak boleh menyebut orang lain dengan kata "kafir", kecuali dalam forum pengajian yang membahas ayat-ayat atau hadis (tanpa memberikan contoh siapa orang yang disebut "kafir" itu di Indonesia sekarang ini).
4. Memeriksa siapapun yang telah melakukan perbuatan no.2 dan no.3 di atas agar tidak ada lagi di hari-hari mendatang orang melakukan perbuatan no.2 dan no.3.

Mohon tanda tangani petisi ini, supaya kita bisa memilih jago kita di Pilkada 2018 dan di Pilpres 2019 dengan pikiran jernih, tenang dan positif. Jangan sampai kita salah pilih karena tekanan, ancaman, atau perbuatan-perbuatan melawan hukum seperti terjadi saat Pilkada DKI 2017 lalu.



Hari ini: Michael mengandalkanmu

Michael JR. membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Kapolri Tito Karnavian: Hentikan Kampanye Kekerasan di Medsos atau Internet yang masih saja marak. Jangan biarkan Indonesia hancur seperti Irak, Suriah, Mesir, Libia, dll.". Bergabunglah dengan Michael dan 163 pendukung lainnya hari ini.