Keadilan untuk Frantinus Nirigi S.AP

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Apakah anda adalah satu dari orang-orang yang menginginkan perbaikan pelayanan penerbangan Lion Air dan pencinta keadilan?

Mari perjuangkan keadilan buat FRANTINUS NIRIGI S,AP. 

Anda pasti masih ingat dengan FRANTINUS NIRIGI S,AP., alumnus FISIP Universitas Tanjungpura (UNTAN) seorang penumpang yang bercanda membawa bom dalam pesawat Lion Air JT687 di Bandar Udara Internasional Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat (PNK). 

Pada penerbangan 28 Mei 2018 pukul 18.50 WIb rute Bandar Udara Internasional Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat (PNK) menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Frantinus Nirigi dituduh melakukan pelanggaran hukum dan ditahan oleh pihak Kepolisian dan kini sedang menjalani proses hukum di Pengadilan Negeri Mempawah, Kalimantan Barat.

FRANTINUS NIRIGI S,AP menjadi tumbal konspirasi kepentingan bisnis Maskapai Penerbangan Udara Lion Air yang menggunakan Pemerintah melalui Kepolisian RI dan Kementerian Perhubungan RI agar perusahaan penerbangannya tidak anjlok akibat pelayanan kepada publik yang tidak profesional dan tidak nyaman dewasa ini dimana Lion Air meminta kepada Polisi Polresta Pontianak Polda Kalimantan Barat bertentangan dengan Undang-Undang penerbangan No 1 Tahun 2009 yang mengisyaratkan segala persoalan di dalam arena bandara sampai di pesawat ditangani oleh PPN atau Penyelidik Pegawai Negeri Sipil tetapi diambil alih Kepolisian hanya karena manajemen Lion Air tidak ingin tercoreng lagi ketika Pramugari dan Pilot (crew) pesawat JT 687 tanggal 28 Mei 2018 sehingga FN yang tidak mengucapkan kata bom justru dijebloskan dalam arana hukum lalu Pramugari yang dengan sengaja setelah koordinasi Pilot mengumumkan berturut-turut sebanyak tiga kali utk penumpang segera meninggalkan pesawat karena ada salah satu penumpang membawa bom atau bahan peledak tidak ditahan sampai tidak ditetapkan sebagai saksi.

Perlakukan diskriminatif dan rasialis ini diberlakukan kepada seorang anak Papua yang 8 tahun menyelesaikan studi di Universitas Negeri di kota Pontianak, Kalimantan Barat, dengan tidak meninggalkan catatan kriminal sedikitpun di kampus dan di Kepolisian Daerah Provinsi Kalbar. Frans yang ingin pulang bertemu keluarganya dan membangun daerahnya justru dijebloskan dalam penjara sehingga masa depannya dihancurkan dan nama baiknya diviralkan di seluruh jagat melalui media cetak dan elektronik. 

Menurut kami selaku kaka dari Frantinus Nirigi, rakyat Papua, khususnya pihak keluarga dan rekan-rekan Frantinus Nirigi, sangat heran dan bertanya dengan kasus candaan bom sebelum dan sesudah FN ditahan diproses. Ada 18 kasus candaan bom bahkan 2 orang pelaku candaan adalah  anggota DPRD Banyuwangi dimana mereka tidak ditahan dan diproses secara hukum.

Kami juga curiga bahwa Pramugari dan Pilot Lion Air yang bertugas waktu itu melakukan pelanggaran terhadap SOP Penerbangan. Pilot Lior Air yang bertugas ketika itu adalah berkebangsaan Rusia dan tidak fasih berbahasa Indonesia, sehingga terkesan ada miskomunikas yang berujung pada tindakan dari Pilot dan Pramugari.  

Hukum di Indonesia itu berpihak kepada siapa? Apakah Frantinus Nirigi sebagai orang asli Papua jadi perlu ditahan dan menjalani proses hukum? 

Demi hukum adat bangsa Papua, hukum Tuhan, hukum nasional Indonesia, hukum internasional, dan penghargaan hak asasi manusia, serta keadilan Frantinus Nirigi S.AP, kami keluarga meminta dukungan umat manusia di seluruh dunia yang memiliki nurani mendukung kami dalam petisi kepada Kapolri dan Menteri Perhubungan Republik Indonesia untuk membebaskan Frantinus Nirigi jeratan hukum dan pemulihan nama baik Frantinus Nirigi.

Salam solidaritas untuk keadilan

Diaz Nwijangge, kaka dari Frantinus Nirigi



Hari ini: Wensislaus mengandalkanmu

Wensislaus Fatubun membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Kapolri Jendral Tito : Keadilan untuk Frantinus Nirigi S.AP". Bergabunglah dengan Wensislaus dan 157 pendukung lainnya hari ini.