STOP KABUT ASAP DI SUMATERA SELATAN! #StopKabutAsap #SaveSumateraSelatan #SavePalembang

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


Kebakaran hutan hampir setiap tahun di Indonesia. Ketika memasuki musim kering apalagi musim kemarau ekstrim seperti saat ini kebakaran hutan,lahan dan perkebunan terjadi di banyak tempat. Kebakaran hutan lindung sampai kebakaran perkebunan meskipun sudah diantisipasi dan diingatkan jauh-jauh hari, kebakaran juga tetap terjadi. Ketika kebakaran hutan dan perkebunan terjadi seperti saat ini, semua pihak cenderung takut dan saling menyalahkan.

Banyak pihak tidak menempatkan diri sebagai solusi melainkan justru menjadi bagian dari masalah sehingga makin memperumit masalah yang dihadapi. Pihak yang menjadi korban kebakaran terkadang malah dijadikan “kambing hitam” penyebab kebakaran tanpa didasari pada analisis rasional dan bukti faktual.

Penyebab kebakaran hutan yang sebenarnya antara lain merupakan tindakan yang disengaja manusia untuk kepentingan membersihkan lahan pertanian atau membuka lahan industri,kekeringan pada tanah yang gambut dan dapat menyebabkan kebakaran diatas tanah pada saat musim kemarau serta disebabkan oleh sambaran petir pada hutan yang kering.

Dampak dampak yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan ini ialah meningkatnya jumlah penderita penyakit saluran pernapasan (ISPA),terbunuhnya satwa liar dan gangguan transportasi,penurunan fungsi,masyarakat yang dapat dilakukan pada saat terjadinya kebakaran hutan lahan yaitu dengan mengurangi aktivitas diluar ruangan,melakukan pola hidup bersih,dan selalu memantau kualitas udara,serta gunakan masker dengan benar pada saat bepergian. Apakah semua ini adalah kehendak Tuhan? Tentu tidak. Kita semualah yang harus bertanggung jawab dalam mengatasi masalah ini.

Sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun  2001 Tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan pasal 12 yang berbunyi "Setiap orang berkewajiban mencegah terjadinya kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan". Secara eksplisit dalam Peraturan Pemerintah ini telah mengatur secara jelas semua pihak mulai dari pemerintah, pemilik lahan, aparat penegak hukum, dan masyarakat menjadi satu kesatuan elemen yang tak terpisahkan dalam mengatasi masalah ini.

Akses kesehatan yang memadai, didukung dengan sosialisasi dari pemerintah tentang pertolongan pertama dalam menghadapi bencana ini menjadi hal yang sangat penting dan harus segera dilakukan. Menimbang kebakaran hutan dan lahan yang tak tentu datangnya, menjadu fokus utama dari setiap elemen, mulai dari pemerintah, pemilik lahan, aparat penegak hukum, dan masyarakat untuk senantiasa berbenah dan selalu bersiap siaga dalam menghadapi bencana ini.

#stopkabutasap

#savepalembang

Maka dari itu, kami sebagai dari ALSA (Asian Law Students' Association) Local Chapter Universitas Sriwijaya sebagai perwakilan dari masyarakat memuntut pemerintah untuk:

1. mengeluarkan peraturan daerah khusus dalam penanggulangan asap;

2. menjamin bahwa akan memberikan akses kesehatan kepada masyarakat korban Kebakaran Hutan dan Lahan serta Asap Kabut sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;

3. mengusut tuntas oknum penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera Selatan; dan

4. memberikan sosialisasi kepada masyarakat untuk dapat terhindar dari penyakit pernapasan akibat asap dari karhutla.