Sekolah untuk "mencerdaskan" , Tapi kenapa hanya murid cerdas yang diterima

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Apa kabar pendidikan di Indonesia? Masih sekolah? Masih pakai sistem wajib sekolah 12 tahun? Kenapa gak sekalian aja wajib sekolah seumur hidup, biar para pengangguran yang belum terjaring di perusahaan-perusahaan ternama dan di pemerintahan sebagai pe en es bisa terus sekolah sampai mereka benar-benar mendapatkan pekerjaan?
Minimal cara ini bisa menjadi salah satu cara mengurangi pengangguran di Indonesia. hehe..

Sedikit aku mau ceritakan sejarah HARDIKNAS.

Hardiknas adalah Hari lahir Ki Hadjar Dewantara, tepatnya 2 Mei 1889. Seorang tokoh pelopor pendidikan di Indonesia. Pemerintah mengambil tanggal lahir beliau untuk menghormati jasa-jasanya terhadap dunia pendidikan di Indonesia, karena beliau di kenal berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

"Tapi tahu tidak, kalau Ki Hadjar Dewantara tidak menyeselesaikan sekolahnya?"
(cari tau sendiri aja ya..)

Menurut beberapa literatur yang aku baca, beliau tidak lagi melanjutkan sekolahnya karena sakit. Tapi kemudian beliau bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, juga aktif dalam organisasi sosial dan politik.

"Lalu kenapa beliau yang tidak selesai mengenyam bangku sekolah diangkat menjadi bapak pendidikan?"

Jawabannya adalah karena beliau tidak menyelesaikannya sekolahnya. Coba saja beliau menyelesaikan kuliahnya waktu itu, bisa jadi mungkin beliau tidak akan di angkat sebagai mentri pendidikan pada kabinet pertama Republik Indonesia.

Itu menurutku, bisa jadi menurutmu juga begitu. Karena sekolah adalah peraturan raksasa paling berpengaruh di negeri ini. Beliau tidak akan berani mengkritisi pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, beliau juga tidak sempat menjadi penulis handal, yang tulisan-tulisanya sangat komunikatif, tajam dengan semangat antikolonial juga menjadi wartawan surat kabar Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara karena terlalu sibuk menimang peraturan sekolah.

Bukankah paradigma pendidikan sekolah di negeri ini hanya menempatkan anak didiknya sebagai objek yang wajib menuruti segala peraturan sekolah, harus rajin mengerjakan tugas, tidak boleh begini, tidak boleh begitu, harus disiplin hadir di sekolah dan menyimak total dengan seksama pelajaran-pelajaran yang disampaikan guru di kelas? Tapi walau bagaimana pun kerasnya peraturan sekolah, tetap pelajaran yang paling menarik bagi anak didik di sekolah adalah ketika ada pengumuman di toa sekolah bahawa para guru sedang rapat atau sekolah diliburkan tiba-tiba.

Sekolah semacam menjadi taman pesakitan bagi anak didiknya. Belajar karena keterpaksaan kultural, sekolah dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan.

Padahal ?

Ada lagi macam sekolah yang menerima murid yang pintar-pintar saja. "Bila memang tujuan sekolah untuk mencerdaskan kenapa mereka hanya menerima murid yang pandai saja?" Begitu kata bang Sudarman BK.

entahlah..

"Jika sekarang banyak orang berwatak, bersikap, dan berkelakuan 'setengah manusia, seperempat binatang, dan sepetiga setan', apakah juga hasil bentukan sekolah atau bukan?"



Hari ini: Julio mengandalkanmu

Julio Albert membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "julio: Sekolah untuk "mencerdaskan" , Tapi kenapa hanya murid cerdas yang diterima". Bergabunglah dengan Julio dan 8 pendukung lainnya hari ini.