kisah kematian dan kecacatan tragis yang terabaikan

0 telah menandatangani. Mari kita ke 2.500.


Berpuluh puluh tahun kasus gigitan ular adalah kasus terabaikan, cara penangananya banyak memakai cara tradisional atau mistis,puluhan tahun para dokter, perawat dan tenaga kesehatan indonesia memakai cara yang tidak direkomendasikan WHO sehingga kematian dan kecacatan sangat banyak.Sejak 2012 saya memulai pekerjaan saya mengajarkan penanganan yang benar tentang gigitan ular dan menghitung data gigitan dengan keliling seluruh indonesia disertai melakukan edukasi dan training mulai dari masyarakat awam, pelajar, mahasiswa, ibu pkk, polisi, herpetologi, dokter umum , perawat , doktwr spesialis , profesi selain keaehatan misalnya tehnik sipil, pertambangan, tim sar,sampai pondok pesantren dan gereja tentang first aid atau penanganan awal gigitan ular dan terapi antivenom dan obat lainnya pada kalangan medis , data terkumpul sangat banyak estimasi saya 135.000 pertahun denga  kematian 5-10% dan yang terlapor akibat ditangani di banyak unit gawat darurat sekitar 15.000 kasus pertahunnya dan yang dikonsultasikan ke RECSindonesia yaitu lembaga nirlaba konsultan online penanfanan snakebites kurang lebih 750 kausu pertahun  sehingga angka ini sama dengan angka HIV AIDS 191.000 pertahun dan kematian lebih tinggi dari wabah ebola .Sayang sekali keterabaikannya kasus ini membuat banyak hal terjadi mulai data yg sangat sedikit, tenga kesehatan yamg tidak terupdate pengetahuannya sehingga masih pakai cara tradisional seperti cros incisi dan pemberian sabu intramusculer dan subcutan serta kurangnya dukungan dari pemerintah terbukti dati tidak adanya program yamg membawahi penanganan gigitan ular di kementrian kesehatan serta hanya ada antivenom untuk 3species saja yaitu cobra , ular tanah, welang dari 76 ular berbisa di Indonesia membuat sangat susahnya kasus ini ditangani.Adanya fenomena free handling yang membuat beberapa kematian yamg tragis diusia anak dan remaja dimana dalam 3 bulan tetalhir di tahun 2017 ada 8 kematian free handling dari 12 kasus free handling yamg dilaporkan tergigit. Kasus snakebites yang sangat tinggi juga disebabkan karena perubahan ekosistem .Hampit setiap hari recsindonesia mendapat laporan kasua gigitan sekitar 5-10 kasus yg masuk unit gawat darurat, yang terselamatkan tidak banyak sehingga kematian akibat gigitan ular menbulkan ketakutan tersendiri bagi masyarakat.Kebutuhan antivenom untuk beberapa jenis ular yang banyak menimbulkan kasus gigitan sangat diperlukan setoap puskesmas dan rumah sakit.Kebutuhan ini menjadi lebih dasyat lagi di papua dan maluku yg jenis ularnya sam adengan australia dan harga antivenom sekitar 75 jutaan pervial ,suatu jumlah yang sangat besar .BPJS sebagai badan yang menjamin pembayaran antivenom ternyata hanya mengcover 1 vial saja sabu padahal inisial doses menurit leaflet dan vademicum obat biofarma adalah 2 vial sehingga masalah pembiayaan menjadi kendala besar, selama beberapa tahun tida ada solusi recs indonesia dalam hal ini saya sebagai founder dan koordinator mencoba membuat bank antivenom dengan membelikan dan memberi gratis pada pasien mulai dari banyak antivenom thailand yang tidak dicover biosave 1 dan 2 indonesia sampai antivenom biocsl australia yang sudah kami donasikan ke rs sorong seharga 135 juta 2 vialnya.Masalahnya kasus bertambah banyak dengan rusaknya lingkungan hidup maka habitat ular juga terganggu , usaha recs ini tidak bisa maksimal lagi hutuh bantuan pemerintah muali pedoman ,pnkp, clinical pathway, sop di rumah sakit dan puskesmas terlebih lagi membutuhkan antivenom sebagai satu satunya obat yang bisa digunakan saat fase sistemik. Pemerintah lewat kementrian kesehatan, kehutanan dan lingkungan hidup, bumn yaitu biofarma untuk mengadakan Abu yang tidak dicover biosave 1 dan biosave 2 ,selama riset dengan lipi belum berhasil membuat antivenom .Hal ini dirasa penting karena angka kejadian banyak dan kasusnya menimbulkan kecacatan dan kematian.2018 adalah saat yang tepat baik biofarma dan pemerintah mendukung saya mereduksi angka kematian dan kecacatan bersama seluruh lapisan masyarat.



Hari ini: Dr dr Tri Maharani MSi SpEM mengandalkanmu

Dr dr Tri Maharani MSi SpEM Maharani membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "juliman direktur utama biofarma: kisah kematian dan kecacatan tragis yang terabaikan". Bergabunglah dengan Dr dr Tri Maharani MSi SpEM dan 1.539 pendukung lainnya hari ini.