Cabut izin PLTU Ombilin di Sawahlunto

0 telah menandatangani. Mari kita ke 2.500.


Belum lama ini, saya dan tim LBH Padang bertemu bu Rosidah (nama disamarkan), salah satu warga kecamatan Talawi, kota Sawahlunto. Beliau cerita soal anaknya yang kena infeksi paru.

“Waktu anak saya pulang sekolah, dia bilang di sekolah ada tes kesehatan, tapi hasilnya gak dikasi tahu sama guru. Saya kan penasaran, buat apa tes kalau hasilnya gak dikasi tahu. Besoknya saya ke sekolah antar anak sekaligus tanya ke guru soal hasil tes”.

“Di sana, saya debat cukup lama sama pihak sekolah. Saya gak terima, hasil tes nya bilang anak saya kena infeksi paru-paru. Bukan hanya anak saya ternyata, 60% anak-anak di sekolah itu juga kena. Gak ada yang peduli pak, saya harus usaha sendiri untuk obatin anak saya.”

Pantas aja anak-anak kecamatan Talawi kena infeksi paru. Mereka tinggal dekat PLTU Ombilin Sawahlunto yang pakai batubara. Hasil pembakaran batubara ini keluarkan asap hitam berbahaya dan beracun (limbah fly ash). Salah satu unsurnya ada merkuri dan logam berbahaya lainnya. 

Warga di sekitar PLTU Ombilin terpaksa menghirup asap beracun itu tiap hari. Puncaknya pada Juni 2018 ketika salah satu filter udara cerobong asap PLTU Ombilin rusak. Sekitar 100 ton asap beracun mencemari udara setiap harinya. Bahkan ketika filter udara PLTU Ombilin dalam kondisi baik pun tetap berbahaya. 

Data BPS tahun 2018 Kota Sawahlunto menunjukkan 5.038 warga menderita ISPA di Kecamatan Talawi. Data air visual 23 September 2019 menunjukkan udara di kecamatan Talawi BERBAHAYA. 

Kalau PLTU Ombilin terus beroperasi, nggak kebayang berapa banyak korban harus menderita Infeksi Paru, Bronkitis, TB Paru dan ISPA. 

Padahal, Kawasan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto sudah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 2019. UNESCO menyatakan jika pemerintah tidak mengerjakan catatan yang salah satunya adalah KONSERVASI, maka status Warisan Dunia itu akan dicabut. 

Pernyataan UNESCO itu masuk akal sih. Coba bayangin, pantas nggak kalau kawasan warisan dunia punya udara yang beracun, warganya menderita infeksi paru, dan alamnya rusak karena kegiatan PLTU?

Masyarakat udah berkali-kali minta PLN Sumatera Barat untuk stop operasional PLTU Ombilin. Tapi mereka gak didengar. Alasannya untuk memenuhi kebutuhan listrik Sumatera Barat. Jika ketersediaan listrik yang dikhawatirkan, daerah ini sebenarnya sudah surplus listrik.

Wakil Ketua DPRD Kota Sawahlunto, Hasjoni pernah meminta pihak PLTU Ombilin bertanggung jawab atas banyaknya masyarakat  terserang ISPA. "Kita meminta pihak PLTU memberikan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat yang terserang ISPA tersebut, ini tidak boleh dilalaikan," tegas Hasjoni, Selasa (25/6/2019). Tapi tidak juga didengar.

Bahkan jauh sebelumnya pada Agustus 2018 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pernah memberikan sanksi administratif kepada PLTU Ombilin terkait pelanggaran pencemaran udara serta pengelolaan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Tapi PLTU Ombilin tidak pernah melakukan perbaikan.

Lantas, siapa lagi yang didengar?

Masih ada harapan teman-teman. Melalui petisi ini, saya mengajak kamu meminta Menteri BUMN Erick Thohir untuk mencabut izin operasional PLTU Ombilin di Sawahlunto. 

Sebarkan terus petisi ini agar warga Sawahlunto bisa bernapas dan menghirup udara bersih. Kalau tanda tangan petisi ini sudah banyak, akan saya serahkan langsung ke Kementerian BUMN. Mari dukung dan sebarkan petisi ini agar warga Sawahlunto bisa bernapas lega.

Diki Rafiqi, 

Lembaga Bantuan Hukum Padang