Usut Tuntas Kematian 8 Warga Sipil dalam Kerusuhan 21-22 Mei 2019

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Peristiwa kerusahan 21-22 Mei 2019 yang menelan korban jiwa 8 warga sipil, yang di antaranya terhitung masih kanak-kanak, yakni Muhammad Harun Al Rasyid (14 tahun) dan Muhammad Reyhan Fajari (16 tahun) menambah catatan kelam dari bentrokan antara aparat (alat) Negara  dengan warga sipil yang beberapa kali terjadi sejak awal reformasi pada lebih 20 tahun silam.

Jatuhnya korban tewas dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019 memang belum dapat dipastikan akibat kesalahan prosedur aparat keamanan, dalam hal ini pihak kepolisian, dalam menangani kerusuhan tersebut, yang selanjutnya dapat dikategorikan sebagai bentuk pelanggaran atas nilai-nilai hak azasi manusia (HAM). Sejauh ini keterangan dari berbagai pihak belum menjelaskan duduk perkara semua hal yang terkait dengan jatuhnya korban tewas 8 warga sipil tersebut.

Mengutip pemberitaan yang dilansir Tirto.id (24/5/2019), sebagian korban diketahui mengalami luka tembak. Sementara korban lain diduga karena penganiayaan, baik dipukul, ditendang, diinjak, atau diseret.

Farhan Syafero (30 tahun) diduga tewas akibat luka tembak di bagian dekat leher dan menembus hingga ke punggung. Hal yang sama juga dialami oleh Adam Nooryan (17 tahun) dan Widianto Rizky Ramadhan (19 tahun) yang tewas karena tertembus peluru. Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol. Dedi Prasetyo mengaku ada satu di antara 8 korban, yang tidak disebutkan namanya, meninggal karena terkena peluru tajam.

Sebelumnya Menko Polhukam Wiranto membantah bahwa polisi tidak mungkin membunuh rakyat (Tempo.co, 22/5/2019).

"Saat demo, aparat diinstruksikan untuk tidak menggunakan senjata. Mereka menggunakan perisai dan pentungan, bukan senjata api. Tidak mungkin aparat membunuh rakyat," kata Wiranto di kantornya pada Rabu, 22 Mei 2019.

Pernyataan Wiranto kemudian diamini Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Ia menyampaikan bahwa polisi hanya dibekali peluru karet dan peluru hampa dalam menangani kerusuhan. Bahkan Tito menuding ada pihak-pihak lain di luar TNI-Polri yang melakukan itu.

Sementara itu, dari pihak keluarga korban, seperti Liani, tante Widianto Rizky Ramadhan, meminta polisi yang harus bertanggung jawab atas kematian keponakannya.

"Kalau kayak begini, ke mana saya harus melapor, Pak Presiden?" katanya, Rabu (22/5/2019), seperti dikutip Tirto.id

Simpang siurnya mengenai hal ihwal dan fakta penyebab kematian 8 warga sipil dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019 karena itu penting untuk dibuat terang benderang. Beberapa alasan yang mendasari hal ini adalah sebagai berikut.

  1. Pengungkapan tuntas atas kasus ini penting dilakukan untuk mengetahui APA sesungguhnya penyebab kematian warga sipil dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019.
  2. Pengungkapan tuntas atas kasus ini penting dilakukan untuk mengetahui SIAPA sesungguhnya pelaku yang memang harus bertanggung jawab atas kematian warga sipil dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019.
  3. Pengungkapan tuntas atas kematian warga sipil dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019 penting dilakukan secepatnya agar TIDAK MENJADI BEBAN bagi pemerintah ke depannya. Pemerintah harus menyelidiki dan mengumumkan ke publik siapa pelaku penembakan sesungguhnya. Siapa pun pelakunya!
  4. Pengungkapan tuntas atas kematian warga sipil dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019 penting dilakukan agar tidak bernasib sama seperti kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu yang tak kunjung terungkap sampai kini. Juga agar tidak terulang di masa depan.
  5. Pengungkapan tuntas atas kematian warga sipil dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019 penting dilakukan agar siapa pun pelakunya, TIDAK MERASA KEBAL HUKUM karena telah mencabut nyawa orang tanpa mendapat hukuman.

Kami mengajak semua kawan-kawan untuk mendukung petisi ini agar pemerintang mengambil langkah cepat dalam mengungkap duduk perkara sesungguhnya.

Dari sana akan diketahui, siapa sesungguhnya yang harus bertanggung jawab dan menganggungnya. Juga siapa yang harus dibersihkan dari segala tuduhan. 

Jika kawan-kawan mendukung petisi ini, itu berarti awal yang baik bagi berlakunya supremasi hukum di negeri tercinta kita ini.

Petisi ini juga didukung oleh:

  1. Ahmad Muzambique (Pemilik Penerbitan)
  2. Bahtar Atam Piliang (Aktivis)
  3. David K Alka (Ketua Jaringan Alumni UIN Jakarta)
  4. Efri Aditia (Pengusaha)
  5. Iman Fauzan (Editor)
  6. Muslim Rusli (Aktivis)
  7. Nasrullah, SHI (Sekjen Jaringan Alumni UIN Jakarta)
  8. Riki Damparan Putra (Budayawan)