TANGKAP SEMUA PELAKU FITNAH DAN KEKERASAN KEPADA TERHADAP TENAGA KESEHATAN SAAT PANDEMI

TANGKAP SEMUA PELAKU FITNAH DAN KEKERASAN KEPADA TERHADAP TENAGA KESEHATAN SAAT PANDEMI

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Assalamualaikum

Perkenalkan saya dr. Agustiawan, seorang dokter dan mahaiswa hukum. Saya sangat prihatin dengan fitnah dan kekerasan yang banyak terjadi pada tenaga kesehatan yang sedang berusaha mengobati masyarakat selama wabah pandemi COVID-19.

Hal ini dapat didilihat dari video dan berita serta media sosial yang sedang berseliweran. 

Kasus yang umumnya kita alami adalah: Mereka mengaku RS curang seperti menyogok pasien agar mau dirawat dan mengaku COVID-19 agar RS mendapatkan keuntungan. Tapi saat kita telusuri dimana, kapan dan apa buktinya? Mereka selalu mengelak, artinya hal seperti ini tidak valid dan dipertanyakan kebenarannya. 

Yang jadi masalahnya adalah, fitnah yang mereka meresahkan dan berpotensi membuat masyarakat curiga kepada tenaga kesehatan. Hal ini akan menghambat penanganan COVID-19 yang sedang melanda negeri kita.

Kasus lainnya dapat dilihat di beberapa video atau berita dimana banyak tenaga kesehatan yang dipukul, dikeroyok dan bahkan dilecehkan saat sedang berusaha atau bertugas dalam penanganan COVID-19.

Terlepas dari kalian percaya bahwa COVID-19 ini konspirasi atau bukan, Nilai-nilai kemanusiaan mengenai anti kekerasan adalah hal universal yang diterima oleh semua orang. Tindakan kekerasan adalah kejahatan, apalagi hal tersebut terjadi pada tenaga kesehatan yang sedang berjuang menangani wabah COVID-19 yang sekarang telah menjadi musibah dunia.

Tindak kekerasan bukan hanya memberikan luka fisik, jauh dari itu, tindak kekerasan dapat memberikan beban psikis dan moril. Hal ini berbahaya tentunya, karena akan menurunkan semangat kerja dari tenaga kesehatan.

Saya yakin bahwa saya tidak sendiri, banyak orang-orang yang menentang tindak kekerasan yang dilakukan oleh seseorang dengan alasan apapun. Apalagi hal tersebut berkaitan dengan penanggulangan wabah. 

Semangat Senior dan Teman Sejawat Sesama Dokter, Semangat juga untuk Teman-teman Perawat, Bidan, Kesmas, Gizi, dan semua yang terlibat dalam penanggulangan COVID-19.

 

Rujukan:

Pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang Kekerasan Fisik

  1. Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
  2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
  3. Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
  4. Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
  5. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana

Ketika tindak kekerasan dilakukan oleh lebih dari 1 orang akan dikenakan Pasal 55 KUHP:

(1)  Dihukum sebagai orang yang melakukan peristiwa pidana:

1e. Orang yang melakukan, yang menyuruh melakukan, atau turut melakukan perbuatan itu;

2e. Orang yang dengan pemberian, perjanjian, salah memakai kekuasaan atau pengaruh, kekerasan, ancaman atau tipu daya atau dengan memberi kesempatan, daya upaya atau keterangan, sengaja membujuk untuk melakukan sesuatu perbuatan.

(2)  Tentang orang-orang yang tersebut dalam sub 2e itu yang boleh dipertanggungjawabkan kepadanya hanyalah perbuatan yang dengan sengaja dibujuk oleh mereka itu, serta dengan akibatnya.

Pasal 311 ayat (1) KUHP tentang Fitnah:

Barangsiapa yang melakukan kejahatan menista atau menista dengan tulisan, dalam hal ia diizinkan untuk membuktikan tuduhannya itu, jika ia tidak dapat membuktikan dan jika tuduhan itu dilakukannya sedang diketahuinya tidak benar, dihukum karena salah memfitnah dengan hukum penjara selama-lamanya empat tahun.

Undang-undang RI nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan

  • Pasal 9 ayat 1 setiap orang wajib mematuhi penyelenggara kesehatan dan ayat 2 setiap orang berkewajiban ikut serta dalam penyelenggaraan kekarantina kesehatan".
  • Pasal  93 "Setiap orang yang tidak mematuhi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat 1 dan atau menghalang-halangi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan sehingga menyebabkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat, dipidana dengan pidana penjara paling lama satu  tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp 100 juta".

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik:

Pasal 27 ayat (3) "Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik."

AYO DUKUNG BANGSA KITA

Sebagai bangsa yang beradab, kita tentunya dapat menyelesaikan sesuatu dengan cara kekeluargaan sebelum melakukan tindak kekerasan maupun fitnah. 

Tindak kekerasan yang dilakukan oleh seseorang, jangan sampai menular ke orang lain seperti layaknya virus COVID-19. Karena pasti akan memberikan dampak psikis maupun pisik kepada tim.

Saya yakin, pasti banyak orang yang ada di negeri ini sepakat bahwa tindak kekerasan kepada tenaga kesehatan harus dihentikan. Bantu saya dengan klik dan tandatangani petisi ini.

---------------------------------------------------------------

Salam hormat,

dr. Agustiawan

 ---------------------------------------------------------------

Seorang dokter, promotor kesehatan dan mahasiswa hukum.

Video: https://www.instagram.com/p/CC53p3HhhWc/?igshid=16rdl897psv0k