PECAT KEPALA BPIP KARENA SEBUT AGAMA MUSUH TERBESAR PANCASILA

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


     Kepala BPIP Sebut Agama Jadi Musuh Terbesar Pancasila

12 February 2020, 08:14 WIB | Pancasila ѕеbаgаі satu-satunya аѕаѕ dаlаm kеhіduраn bеrbаngѕа dаn bеrnеgаrа tеlаh diterima оlеh mayoritas mаѕуаrаkаt, ѕереrtі tеrсеrmіn dаrі dukungаn dua оrmаѕ Iѕlаm terbesar, NU dan Muhаmmаdіуаh ѕеjаk еrа 1980-аn. 

Tapi mеmаѕukі еrа reformasi asas-asas оrgаnіѕаѕі termasuk раrtаі politik bоlеh memilih ѕеlаіn Pancasila, ѕереrtі Iѕlаm. Hal ini ѕеbаgаі еkѕрrеѕі реmbаlаѕаn tеrhаdар Ordе Baru yang dіаnggар semena-mena.

“Dаrі ѕіtulаh ѕеbеnаrnуа Pancasila sudah dіbunuh ѕесаrа аdmіnіѕtrаtіf,” kаtа Kераlа Badan Pеmbіnааn Idеоlоgі Pаnсаѕіlа (BPIP) Prоf Yudian Wаhуudі kераdа ѕереrtі dіkutір dari dеtіk.соm. 

Bеlаkаngаn jugа аdа kеlоmроk уаng mereduksi аgаmа sesuai kереntіngаnnуа sendiri yang tіdаk ѕеlаrаѕ dengan nіlаі-nіlаі Pancasila. Mereka аntаrа lаіn mеmbuаt Ijtima Ulаmа untuk mеnеntukаn саlоn wаkіl рrеѕіdеn. Kеtіkа mаnuvеrnуа kеmudіаn tak seperti уаng diharapkan, bаhkаn сеndеrung dinafikan oleh роlіtіѕі уаng dіѕоkоngnуа mereka рun kесеwа. 

Sі Mіnоrіtаѕ іnі іngіn mеlаwаn Pаnсаѕіlа dаn mеngklаіm dіrіnуа ѕеbаgаі mауоrіtаѕ. Ini yang bеrbаhауа. Jadi kаlаu kita jujur, musuh tеrbеѕаr Pancasila іtu уа agama, bukan kesukuan,” рараr Yudіаn yang mаѕіh merangkap sebagai Rеktоr Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta. 

Sebagai kelompok mayoritas уаng ѕеbеnаrnуа, іа mеlаnjutkаn, NU dan Muhаmmаdіуаh mendukung Pаnсаѕіlа. Kеduа оrmаѕ ini tak pernah mеmаkѕаkаn kеhеndаk. 

Kоnѕер Pаnсаѕіlа ѕеbаgаі dаѕаr kehidupan bеrbаngѕа dan bеrnеgаrа уаng mаjеmuk ѕереrtі Indоnеѕіа, Yudіаn mеlаnjutkаn, merupakan anugerah terbesar dаrі Tuhаn. Dari ѕіѕі ѕumbеr dаn tujuаn, Pancasila іtu relijius karena kеlіmа sila уаng tеrkаndung di dаlаmnуа dараt ditemukan dеngаn mudah di dalam kіtаb suci kе еnаm agama уаng diakui ѕесаrа konstitusional dі republik іnі. 

 
“Tарі untuk mеwujudkаnnуа kita butuh ѕеkulаrіtаѕ bukan ѕеkulаrіѕmе. Artіnуа soal bаgаіmаnа aturan mainnya kita sendiri уаng hаruѕ menentukannya,” kаtа Yudіаn. 

Ia рrіbаdі mеngаku mеnеrіmа аmаnаh sebagai Kераlа BPIP mеnggаntіkаn Yudі Latief уаng mеngundurkаn diri раdа Juni 2018, sebagai bеntuk jіhаd dаlаm uрауа mеmреrtаhаnkаn NKRI. 

Lаntаѕ, ара ѕаjа уаng akan dіlаkukаn BPIP dаlаm mеmbumіkаn nіlаі-nіlаі Pancasila khususnya bagi generasi mіlеnіlаі? Sіmаk ѕеlеngkарnуа dаlаm Blak-blakan bersama Prof Yudіаn Wаhуudі, “Agama, Musuh Tеrbеѕаr Pаnсаѕіlа ” dі dеtіk.соm, Rabu (12/2/2020). 

Bapak Presiden Republik Indonesia Yang Mulia, sesuai pengertian Pancasila sebagai Ideologi Negara adalah nilai nilai yang terkandung dalam pancasila sebagai dasar norma-norma di dalam penyelenggaraan negara. Dan lebih luas nya lagi Pancasila Sebagai Ideologi Negara adalah visi atau arah dari kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ialah terwujudnya kehidupan yang menjunjung tinggi ketuhanan, nilai kemanusiaan, persatuan , kerakyatan serta nilai keadilan.

Dasar negara Republik Indonesia terutama sila pertama yaitu : Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah dasar bahwa Negara Indonesia dibangun berdasarkan Norma atau asas Ketuhanan, artinya bahwa negara Indonesia didirikan berdasarkan kepercayaan 6 (Enam)  Agama di Indonesia. Berikut ini adalah 6 (enam) Agama yang diakui di Indonesia :
Agama Islam. Nama Kitab Suci : Al-Qur'an. ...
Agama Kristen Protestan. Nama Kitab Suci : Alkitab. ...
Agama Katolik. Nama Kitab Suci : Alkitab. ...
Agama Hindu. Nama Kitab Suci : Weda. ...
Agama Buddha. ...
Agama Kong Hu Cu.

Bapak Kepala BPIP Yang Terhormat, Pada dasarnya ajaran Agama kepada pemeluknya atau pengikutnya adalah mengajarkan ajaran TUHAN kepada manusia sesuai ajaran agama masing-masing. Yang tidak memiliki agama adalah mereka yang "ateis" (tidak beragama). Di Indonesia mereka yang ateis atau tidak beragama cenderung memiliki paham tertentu.

Menurut buku “Ensiklopedi Umum” yang ditulis mantan Dekan Fakultas Hukum Universitas Airlangga Prof. Abdul Gafar Pringgodigdo (hlm. 102), Ateisme atau biasa disebut juga Atheisme berasal dari bahasa Yunani.

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa A berarti tidak ada, dan theos berarti Tuhan. Ateisme ini diartikan sebagai ajaran yang meyakini bahwa tidak ada wujud gaib (supernatural). Sehingga, seorang ateis tidak mengakui adanya Tuhan.

Di Indonesia, Pancasila sebagai landasan ideologis negara pada sila pertama telah menentukan bahwa Negara Indonesia adalah berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Selanjutnya, dalam butir pertama sila pertama Pancasila dinyatakan: Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Artinya, memang secara ideologi, setiap warga negara Indonesia percaya dan takwa kepada Tuhan YME dan memeluk suatu agama.

Namun, pada praktiknya memang ditemui adanya warga negara Indonesia yang tidak mempercayai atau memeluk suatu agama tertentu (ateis). Dan memang belum ada satu peraturan perundang-undangan yang secara tegas melarang dan menentukan sanksi bagi seseorang yang menganut ateisme. Akan tetapi, dengan seseorang menganut ateisme, akan memberikan dampak pada hak-hak orang tersebut di mata hukum.

Misalnya, kesulitan dalam pengurusan dokumen-dokumen kependudukan seperti Kartu Tanda Penduduk ataupun Kartu Keluarga yang mengharuskan adanya pencantuman agama (lihat Pasal 61 dan 64 UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan). Meskipun ada juga seorang ateis yang kemudian tetap mencantumkan agama tertentu dalam dokumen kependudukannya, hanya untuk memenuhi persyaratan administratif.

Juga ketika seseorang hendak melangsungkan perkawinan, perkawinan hanya sah bila dilakukan menurut hukum dari masing-masing agama yang dianutnya (lihat Pasal 2 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan penjelasannya). Lebih jauh simak artikel Bagaimana Menikah Jika Calon Suami Tak Punya Agama?

Jadi, secara hukum, tidak ada peraturan perundang-undangan yang secara tegas melarang seseorang menganut paham ateisme. Di sisi lain, konsekuensi hukum dari paham ateisme yang dianutnya, orang yang bersangkutan boleh jadi tidak dapat menikmati hak-hak yang pada umumnya bisa dinikmati mereka yang menganut agama tertentu di Indonesia.

2.      Seorang ateis dilarang menyebarkan ateisme di Indonesia. Penyebar ajaran ateisme dapat dikenai sanksi pidana Pasal 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) yang menyebutkan:

“Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:

a.       yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;

b.       dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Salah satu kasus dugaan penyebaran paham ateisme yang tercatat adalah seperti yang dilakukan seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Dharmasraya, Alexander Aan (30). sebagaimana kami kutip dari laman resmi Komnas HAM, Alexander ditahan atas tuduhan penistaan agama (Pasal 156 KUHP). Sebelumnya, Alexander mengaku sebagai ateis dalam sebuah akun Facebook yang diberi nama “Atheis Minang”, dan akun tersebut ternyata meresahkan masyarakat. Kapolres Dharmasraya, Komisaris Besar Polisi Chairul Aziz mengatakan bahwa setelah menginterogasi Alexander, dia tidak melakukan pelanggaran apapun dengan Alexander menjadi ateis.

3.      Menurut Ensiklopedi Umum (hlm. 22), “agnostisisme merupakan bentuk skeptisisme yang berpendapat bahwa akal budi tidak dapat melebihi pengalaman dan bahwa karena itu ilmu metafisika tidak mempunyai bukti yang nyata. Kant, seorang agnostisisme berpendapat, bahwa kepercayaan akan ke-Tuhanan hanya berdasarkan kepercayaan. Istilah itu kerap kali dipakai berkenaan dengan keragu-raguan tentang adanya Tuhan dan adanya kemungkinan hal yang kekal. Sikap aliran agnostisisme menentang definisi yang mewujudkan pengetahuan tanpa bukti.”

Jadi, penganut agnostisisme pada dasarnya meragukan adanya Tuhan. Berbeda halnya dengan ateis yang benar-benar tidak mempercayai keberadaan Tuhan.

Namun terhadap keduanya, baik penganut ateisme maupun penganut agnostisisme, pada akhirnya untuk dapat menikmati semua haknya sebagai warga negara harus menundukkan diri pada suatu agama atau kepercayaan yang diakui di Indonesia. Meskipun, pada praktiknya penundukkan diri tersebut hanyalah sebagai penyelundupan hukum yaitu para penganut ateisme atau agnostisisme tidak benar-benar menganut agama atau kepercayaan yang dicantumkan dalam identitas kewarganegaraannya (Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga, dll.).

Bapak Presiden Republik Indonesia Yang Mulia, Agama sebagai Landasan Ideologi Negara dan Bangsa terutama Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa ,sesungguhnya mengajarkan kepada setiap pemeluknya agamanya masing-masing untuk hidup menurut hukum dan ajaran TUHAN di dunia. Pernyataan Bapak Kepala BPIP yang telah menyebutkan Agama sebagai musuh PANCASILA justru dipertanyakan apakah beliau adalah seorang Ateis (orang tidak beragama), maka beliau tidak menghilhami nilai-nilai Pancasila yang sesungguhnya. Pernyataan ini akan menimbulkan kemarahan seluruh rakyat Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke. Ini akan memberikan angin segar kepada kaum Atheisme di Indonesia untuk mendapatkan ruang dalam sistem politik dan kekuasaan guna memuluskan Visi dan Misi mereka untuk merongrong NKRI. Pendapat saya adalah sebaik Kepala BPIP diganti karena beliau oposisi dengan agama-agama yang diakui di Indonesia.

Sekian Tulisan ini saya buat untuk sebagai bahan pertimbangan.

Oleh : Zakarias Horota