PB DJARUM TERUSLAH LAKUKAN AUDISI UMUM DAN PEMBINAAN BULUTANGKIS. UNTUK INDONESIA JUARA !

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Hariyanto Arbi, salah satu pahlawan terbesar bangsa Indonesia di kancah bulutangkis dunia. Terkenal dengan smash 100 watt. Dia berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan menyabet Juara Dunia 2 kali, Juara Piala Thomas Cup 3 kali, Juara All England 2 kali, dan peraih medali Emas Asian Games. Beliau adalah pemuda asli Kudus, hasil didikan dari PB Djarum. Beliau termasuk diantara deretan generasi emas 90-an yang membuat Indonesia begitu disegani dan dihormati oleh bangsa lain.

Sanjaya Sukamuljo, Leo Rolly Carnando dan masih banyak lagi atlet-atlet hasil didikan PB Djarum mampu mengibarkan Sang Merah Putih di kancah internasional.

Itu hanya contoh kecil, sumbangsih PB Djarum dalam melahirkan atlet kaliber dunia, dan untuk bisa mendapatkan hasil optimal seperti itu, membutuhkan waktu yang lama, proses yang panjang, dan tentunya biaya yang tidak sedikit.

Akankah mereka masih bisa melahirkan atlet-atlet bulutangkis kelas dunia dengan dihentikannya audisi umum bulutangkis untuk anak-anak?

Berdasar surat yang dikeluarkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (banyak beredar di dunia maya) yang ditujukan kepada Djarum Foundation dan tembusan surat ditujukan kepada kementrian dan lembaga terkait, mereka  meminta Djarum Foundation selaku induk dari PB Djarum untuk menghentikan audisi badminton yang akan dilaksanakan di beberapa kota. Alasan penghentian tersebut bekaitan dengan perlindungan anak dari bahaya rokok dan eksploitasi. Pertanyaan besarnya adalah :

1. Apa hubungan antara audisi dan bahaya rokok untuk anak-anak ? 2. Apakah dalam audisi anak-anak disuruh merokok ? 3. Apakah dalam audisi anak-anak diajari cara merokok? 4. Apakah dalam audisi anak-anak berada di lingkungan orang-orang yang merokok? 5. Dimanakah letak eksploitasinya ? 6. Apakah memakai kaos bertuliskan PB Djarum itu termasuk eksploitasi ? 7. Apakah dalam audisi anak-anak disuruh belajar melinting rokok ? 8. Apakah dalam audisi anak-anak dijadikan pekerja di pabrik rokok ?

Sulit diterima akal sehat, alur dan logika yang digunakan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam upayanya menghentikan audisi umum bulutangkis yang dilakukan oleh PB Djarum dalam upayanya mencari bibit-bibit atlet bulutangkis. Mengapa?

1.PB Djarum berada di bawah naungan Djarum Foundation, bukan PT Djarum

2.PT Djarum adalah produsen rokok, sedangkan Djarum Foundation adalah lembaga amal

3.Djarum Foundation memiliki banyak sekali program dan divisi, diantaranya : Dalam bidang pendidikan : memberikan bea siswa sampai dengan tingkat sarjana, dalam bidang lingkungan : penanaman pohon trembesi di sepanjang jalur Pantura, dalam bidang seni : pertunjukan seni budaya, teater, dan lainnya

Fakta membuktikan, anggaran pemerintah untuk pembinaan cabang olahraga tidaklah besar, dan terbukti ketika pihak di luar pemerintah menghentikan program pembinaan olahraganya, cabang olahraga itu “mati” atau minim prestasinya. Sebagai contoh :

1. Tenis meja sempat ke level dunia pd era 1970-an, dan memasuki era emas pada di era 1980-an dan 1990-an akhir melalui dua atletnya Rossy Pratiwi dan Anton Suseno. Lokomotif pembinaannya? Gudang Garam.

Link beritanya : https://www.jawapos.com/sports/03/09/2019/persiapan-tenis-meja-terganggu-karena-duit-pembinaan-belum-cair/

2. Cabang olahraga Tenis “ selesai” ketika  Wismilak/Sampoerna tidak lagi melakukan pembinaan di cabang olahraga ini.

Menurut Susi Susanti, atlet putri bulutangkis peraih medali emas Olimpiade 1992, “ "Saya sendiri dulu pernah ikut audisi untuk bisa masuk PB Djarum di Semarang, walaupun akhirnya orang tua saya memutuskan untuk saya berlatih di Jakarta saja. Tetapi saya tahu betul jika ajang pencarian bakat bulu tangkis ini sangat berarti sekali. Mungkin banyak orang tua dari kalangan kurang mampu, dan dengan audisi umum disetiap daerah Indonesia ini sangat membuka harapan mereka, agar bisa menyalurkan potensi anak-anaknya menjadi atlet tanpa harus ke Pulau Jawa yang memang pusatnya klub-klub besar. Dan yang pasti tanpa adanya pembinaan seperti ini saya rasa mungkin PBSI kehilangan satu cara mendapatkan bibit unggul, yang nantinya bisa mengharumkan nama Indonesia”.

Memang, PB Djarum bukanlah penentu satu-satunya keberhasilan cabang olahraga bulutangkis mendunia. Ada peran yang lebih sentral lagi, yakni pemerintah. Tetapi, dengan jumlah induk olahraga yang relatif besar, yakni 59 induk olahraga, dan 6 cabang olahraga tentunya pemerintah meski mengeluarkan dana yang sangat besar sekali untuk melakukan pembinaan. Apakah pemerintah sanggup melakukannya sendiri ?

Marilah kita bersuara dengan hati nurani, dengan bijak kita melihat situasi dan kondisi yang ada. Untuk Indonesia Juara !! Untuk Indonesia yang lebih baik lagi. Terimakasih PB Djarum atas kontribusinya, dan lanjutkan audisi umum dan pembinaan yang sudah ada dan direncanakan. Anjing menggonggong, kafilah berlalu.

Sumber tulisan : Jawapos, akun @ainurohman, @Puthutea, dan lainnya