Pak Mentan, Petani Indonesia BUKAN Pemalas!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


Dalam tiga tahun secara beruntun pemerintah melalui kementerian pertanian menyatakan berhasil mencapai swasembada beras. tidak hanya itu, swasembada juga dicapai atas beberapa komoditas selain beras. pencapaian ini tentu saja membanggakan sekaligus menunjukkan bahwa petani petani telah mampu bekerja optimal.


Petani dengan segala situasi yang dihadapi mulai dari ketidak pastian iklim, serangan hama penyakit, resiko banjir dan kekeringan, hingga harga jual yang tak menentu, secara konsisten terus berusaha, berbudidaya dan berujung swasembada.


Untuk menjaga ketahanan pangan petani (padi) menanam, tidak hanya dua kali sampai tiga kali dalam setahun. petani mengikuti apa yang dipesankan pemerintah tanpa banyak protes, walaupun merubah pola dan budaya budidaya mereka sendiri dan menjadi seragam padi sepanjang tahun. petani juga tak marah sekalipun berujung kegagalan panen akibat ledakan hama penyakit yang tak berhenti siklusnya karena menanam terus menerus. Petani terus bekerja gagal sekali menaman lagi, gagal lagi menanam lagi terus demikian, tak sekalipun mereka berhenti menanam.  

 
Petani terus berikhtiar sepanjang waktu menjaga bangsa ini tetap makan, sekalipun kesejahteraan dan hidup mulia seperti dicita-citakan nawacita kedaulatan pangan Bapak Presiden, belum sepenuhnnya terwujud atau bahkan belum sama sekali terwujud. Petani tak marah, tak juga menyalahkan pemerintah, petani hanya terus bekerja, bekerja, bekerja seperti pesan Bapak Presiden.

 
Swasembad beras tiga tahun berturut turut tentu membanggakan Bapak Presiden dan Bapak Menteri Pertanian. Di berbagai media masa, saluran informasi, pencapaian ini diumumkan ke publik. Swasembada sesuai target dan menjadi nilai baik pemerintah. Bapak menteri Pertanian, jangan dilupa swasembada yang dicapai bukan hanya oleh upaya bapak tapi oleh niat ikhlas dan kerja keras petani. Sudah selayaknya kita berterima kasih kepada petani. Ungkapan terima kasih layak disampaikan walau sekedar ucapan sekalipun  petani tak pernah mengaharap itu.

 
maka, jika Bapak Menteri pertanian mengatakan DI INDONESIA PETANI MALAS pada acara kuliah umum di Universitas Jember, sungguh melukai hati petani (link berita: https://news.okezone.com/read/2018/05/23/65/1901798/mentan-amran-mahasiswa-jangan-ragu-jadi-petani Petani tak butuh sanjungan, atau puja puji karena mereka ikhlas bertani, tapi mengatakan mereka malas tentu saja merendahkan dan menyakitkan.

 
Bapak Presiden dan Bapak Menteri, kami merasa prihatin atas komentar tersebut karena tidak proporsional dan tidak relevan dengan merendahkan dan mendiskreditkan petani serta membandingkan dengan petani negara lain yang memiliki karakteristik sosial budaya berbeda. kata MALAS adalah stigma yang sangat buruk dan bisa menjadi senjata menjadikan petani sebagai kambing hitam ketika target swasembada atau pembangunan pertanian gagal sekalipun penyebabnya bukan mereka. 

 
Melalui petisi ini kami menuntut Menteri Pertanian meminta maaf secara terbuka kepada petani di seluruh Indonesia dan menarik pernyataan tersebut dan agar peristiwa ini tidak terulang. Pemerintah harusnya melakukan segala upaya perlindungan dan pemberdayaan petani bukan sebaliknya, melemahkannya. Melalui petisi ini kami juga meminta kepada Bapak Presiden untuk melihat ulang dan memberikan tindakan bagi pejabat negara yang tidak menghargai dan memuliakan petani baik dalam kebijakan dan program namun juga tindakan dan ucapan. 

 #petanibukanpemalas!





Hari ini: Gerakan Petani Nusantara mengandalkanmu

Gerakan Petani Nusantara membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Joko Widodo: Pak Mentan, Petani Indonesia BUKAN Pemalas!". Bergabunglah dengan Gerakan Petani Nusantara dan 720 pendukung lainnya hari ini.