No More Death! Ambil Langkah Serius Basmi Oplosan

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Kepada Yth,

Presiden Republik Indonesia
Pimpinan DPR RI
Menteri Perdagangan RI
Menteri Kesehatan RI
Menteri Keuangan RI
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
Kepolisian Republik Indonesia
Produsen minuman beralkohol di Indonesia

 

No More Death! Pemerintah Harus Serius Jamin Keselamatan Konsumen Minuman Beralkohol


Tragedi oplosan pencabut nyawa yang baru-baru ini terjadi dengan memakan setidaknya 34 korban dari 3 lokasi berbeda (Jakarta Selatan, Bekasi, dan Depok) menunjukkan indikasi ketidakpedulian regulator dalam menjamin keselamatan konsumen minuman beralkohol. Kondisi ini diperparah dengan tidak banyak industri (baik produsen, importir dan distributor) melakukan edukasi menyeluruh dan sistematis baik kepada peminum dan non-peminum agar memahami dampak minuman beralkohol. Dengan demikian, kami dapat katakan bahwa industri tidak perduli atas kepentingan konsumen minuman beralkohol. Kemudian, lambatnya tindakan pencegahan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum juga mempengaruhi peredaran oplosan di kalangan masyarakat.

Peminum Bijak mengamati fenomena jatuhnya korban akibat konsumsi oplosan setidaknya berasal dari 4 alasan utama:

1. Akses konsumen sangat terbatas terhadap minuman beralkohol berkualitas dan terstandarisasi. Kebijakan penerapan cukai yang cukup tinggi membuat daya jangkau hanya dimiliki oleh segelintir kelompok masyarakat;
2. Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap minuman beralkohol. Pengetahuan terhadap minuman beralkohol dibangun lewat cara stigmatisasi negatif terhadap konsumen. Minuman beralkohol, suka atau tidak suka, merupakan barang legal yang dikenakan cukai sebagai instrumen pengendalian;
3. Kurangnya transparasi penyelesaian kasus hukum terhadap pelaku penjual dan atau produsen oplosan sehingga kurang menimbulkan efek jera;
4. Berdasarkan data Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), ada kecenderungan jatuhnya korban oplosan terjadi di wilayah yang menerapkan kebijakan pelarangan terhadap minuman beralkohol.

Kondisi di atas menyebabkan kekacauan atas tindakan/penegakan hukumnya. Ini terbukti dengan terjadi razia dan tindakan main hakim sendiri di masyarakat. Razia yang dilakukan oleh apparat juga menurut kami tidak tepat sasaran bahkan cenderung kasuistik. Barang-barang yang di razia merupakan hasil pelanggaran terhadap perizinan, meskipun barang tersebut sudah sesuai standar kualitas.

Oleh sebab itu, kami mengajak para pihak yang memberi perhatian terhadap konsumsi minuman beralkohol dan dampaknya untuk bersama mendorong pemerintah agar:

1. Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap alur distribusi minuman beralkohol di Indonesia;
2. Melakukan evaluasi terhadap kebijakan penerapan cukai minuman beralkohol;
3. Mendorong pelaku usaha secara intens melakukan kampanye edukasi dengan tidak menyisipkan materi-materi produknya;
4. Meminta aparat penegak hukum – kepolisian – untuk memberikan informasi secara terbuka kepada publik atas penyelidikan dan penerapan hukumnya terhadap pelaku oplosan;
5. Penting untuk dibangun sebuah sistem bersama (instansi layanan kesehatan bersama masyarakat) terkait bagaimana melakukan respon atas  dampak buruk oplosan. Sistem yang akan diterapkan secara luas tentang bagaimana melakukan penanganan korban oplosan. Tujuannya untuk menekan angka korban.


Konsumen yang menjadi korban oplosan tidak bisa dipandang sebagai tanggung jawab pribadi saja, ini merupakan tanggung jawab bersama. Peristiwa oplosan bahkan bisa menjangkau tempat-tempat yang kita kira akan bebas dari peredaran barang tidak layak konsumsi tersebut. Minuman beralkohol juga tidak bisa dipandang dari sebuah persepsi sempit. Faktanya, permintaan itu ada dan ketersediaan barang diatur oleh aturan hukum yang jelas.

Sekali lagi, minum itu pilihan tapi goblok jangan!



Hari ini: Komunitas mengandalkanmu

Komunitas Peminum Bijak membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Joko Widodo: No More Death! Ambil Langkah Serius Basmi Oplosan". Bergabunglah dengan Komunitas dan 17 pendukung lainnya hari ini.