Miangas butuh BBM, Miangas bukan Filipina Pak Presiden, 72 tahun pakai BBM seludupan

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


(Pulau Miangas terletak di Kecamatan Khusus Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara - Pulau 'Triple-One' : satu pulau, satu desa dan satu kecamatan, juga satu-satunya di Indonesia).

Tujuh puluh dua tahun sudah Indonesia merdeka, tetapi pulau Miangas belum merasakan pasokan BBM (Bahan Bakar Minyak) secara resmi dan berkelanjutan. Bagi masyarakat Miangas, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 'harga mati'. Tak perlu diragukan lagi, tetapi jangan Miangas 'mati harga' canda sindir masyarakat.

Miangas memang pulau strategis, awal abad ke-20 sempat diperebutkan oleh Amerika Serikat dan Belanda di International Court of Justice. Proses arbitrase yang lumayan panjang karena memakan waktu lebih dari 20 tahun. Dimenangkan oleh Belanda dan kini jadi milik Indonesia. Miangas bukan bagian dari Filipina tapi Indonesia !

Miangas tidaklah besar pulaunya, tapi disini ada kehidupan. Ada 758 jiwa penduduk (data BPS Kab. Kepl. Talaud 2017) yang tinggal di pulau ini. Pak Presiden, 758 jiwa penduduk ini butuh BBM. Ataukah masyarakat teruskan saja aksi ilegal muat BBM di kapal perintis dengan sembunyi-sembunyi, berharap tidak ditangkap atau 'terciduk' petugas kapal. 

Kan muat BBM di kapal perintis itu ilegal alias melanggar aturan, ya masyarakat sangat tau tapi mau bagaimana lagi. Terkadang masyarakat harus berbohong ke petugas kapal perintis. Warga yang kena razia, seringkali hanya bisa pasrah ketika BBM bawaannya dibuang atau dikenakan denda. Jangan heran kalau BBM di Miangas harga  normalnya berkisar 20-25 ribu rupiah. 

Pada saat BBM langka, harga berkisar 30 ribu bahkan bisa sampai 50 ribu rupiah per liternya. Itukan terserah para pedagang lokal karena mereka juga menghitung segala resiko perjalanan. Tahun ini genap 72 usia kemerdekaan Indonesia. Selama itu juga BBM di Miangas ada karena pasokan ilegal. 

Masyarakat Miangas sempat gembira tak terkira, pada tahun 2010 saya lihat sudah ada tangki BBM. Tetapi sampai berkarat dan bahkan hancur tangki BBM itu tak kunjung diisi. Tahun lalu (2016) sempat senang mendengar 'BBM Satu Harga' tapi ternyata sampai saat ini, masih belum untuk warga Miangas. 

Sampai bulan Desember 2017, BBM masih tetap jadi masalah di pulau Miangas. Tak hanya masyarakat, pemerintah setempat pun mengeluhkannya. Bagaimana tidak, mata pencaharian warga Miangas mayoritasnya adalah nelayan dan petani. Memang nelayan dan ikan di Miangas banyak tetapi tentunya butuh BBM. Jadi, harga ikan tetap saja mahal. 

Bandara seluas 2/3 luas pemukiman memang sangat membantu. Tetapi ada lahan produktif warga petani yang hilang untuk selamanya (memang ada ganti rugi). Mereka akan dikemanakan? Ada sebagian kecil jadi pekerja proyek temporer, ada juga jadi pegawai bandara.

Tetapi bagaimana dengan sebagian besar lainnya. Mereka tentu harus kembali lagi kelaut (melaut/jadi nelayan). Itu pun masih harus menerima kenyataan harga BBM yang sangat mahal dan hasil seludupan. Untuk bensin seliter yang dipatok harga 20-25 ribu rupiah pun, katanya sering hanya seliter kurang (kurang dari takaran).

Sejak tahun 2010, masyarakat sudah mengeluhkan tambatan perahu untuk mempermudah aktifitas nelayan. Tapi sampai saat ini belum kunjung diadakan. Terkesan infrastruktur di Miangas belum ramah (pro) untuk nelayan. Tetapi intinya Miangas butuh BBM, tidak hanya untuk nelayan tetapi untuk 758 jiwa penduduk Miangas yang juga Warga Negara Indonesia bukan Filipina.

Memang jarak dengan Filipina tidaklah jauh karena hanya 38 mil ke Cape San Agustin, Filipina sedangkan ke ibukota kabupaten 110 mil dan ke provinsi 320 mil. Hanya butuh kurang lebih 3 jam untuk ke Filipina pakai kapal nelayan. Sedangkan 10 jam ke Melonguane (ibukota kabupaten).

Tujuh puluh dua tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu BBM hasil bukan seludupan. Miangas butuh kapal pengangkut BBM yang juga bisa sekalian digunakan untuk pasokan ke pulau-pulau kecil perbatasan lainnya. Saatnya Miangas menunggu bukti bukan janji.

Ayo dukung 758 jiwa penduduk Miangas untuk menikmati 'BBM SATU HARGA' atau minimal harga sepantasnya. Harga yang selayaknya bagi masyarakat Miangas yang juga Warga Negara Indonesia. Semoga Pak Jokowi bisa mewujudkan harapan dan impian masyarakat Miangas.

Selain jadi presiden Republik Indonesia yang pertama kali kunjungi pulau Miangas, ayo Pak Jokowi jadi Presiden yang mampu wujudkan mimpi masyarakat Miangas. Hanya 'BBM' saja kok Pak, tidak lebih dari 'BBM'. BBM bukan seludupan yang sudah dinanti selama 72 tahun. 
"NKRI HARGA MATI, BBM KAMI NANTI!"

Salam,
Harsen Roy Tampomuri 
(Salah-satu Pemuda dari Bibir Pasifik, Sulawesi Utara)



Hari ini: Harsen mengandalkanmu

Harsen Tampomuri membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Joko Widodo: Miangas butuh BBM, Miangas bukan Filipina Pak Presiden, 72 tahun pakai BBM seludupan". Bergabunglah dengan Harsen dan 166 pendukung lainnya hari ini.