Mengangkat isu yang selama 52 tahun diabaikan

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


SEJARAH SINGKAT PEMILIK HAK SULUNG

Pada tahun 1967 George Dossy menemukan pertambangan emas raksasa yang menculam keluar diatas permukaan bumi, tidak lama operasi pertambangan PT. Freeport mulai setelah memaksa tua –tua adat yang tidak mengenal dunia luar untuk melepaskan wilayah adat (tete –tete kita yang sudah mendahului kita) dengan berat hati mereka melepaskan wilayah pertambangan dengan cara cap cempol yang kini lebih dikenal dengan nama Januari agreement. Perjuangan suku Amungme di 3 Kampung Tsinga, Waa/Banti dan Aroanop atas ketidak adilan dimulai. Ketidak adilan tersebut berawal dengan pertama kali mengusir masyarakat adat dari wilayah adatnya untuk membangun kota Tembagapura (sekarang di jadikan kota megah diatas awan).

Selama 52 tahun Amungme dari 3 kampung sebagai pemilik gunung emas dan perak berlimpah tidak pernah dilibatkan dan menikmati hasil tambang tersebut secara wajar. Yang harusnya menerima sebagai kompensasi, Amungme hanya menerima sikap yang sangat tidak manusiawi dan tak mampu diisyarakat oleh satu kata pun, sangat dan sungguh menyedihkan. Isi gunung terus dikeruk 24 jam selama 52 tahun dan atas kesepakatan Mentri ESDM dengan PT. Freeport Indonesia pada tanggal 23 Desember 2018 telah menandatangani MoU baru untuk perpanjang izin sampai tahun 2040 tanpa izin beroperasi pertambangan dari masyarakat pemilik hak sulung yang tinggal di 3 kampung sesuai dengan UU MINERBA No. 4 Tahun 2009 pasal 135 dan 136.

Cerita yang telah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi atas keberadaan PT. Freeport sangat panjang untuk diceritakan namun dalam cerita ini saya ingin meringkas bahwa PT. Freeport sudah mengambil harta karun suku Amungme di 3 kampung dan dikuasai oleh pemerintah dan diperuntukan perusahaan asing (Freeport Mc.MooRan & Cooper Inc.) demi kemakmuran rakyat. Namun sampai hari ini Negara dan Perusahaan asal Amerika belum memakmurkan marga – marga pemilik hak sulung yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjaga dan melindungi kekayaan emas dan perak raksasa diatas pelanet ini.

Akhir kata bahwa menurut UUD 1945 33 ayat (3), yang menyatakan bahwa “Bumi Air dan Kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar – besarnya kemakmuran rakyat”, namun kenyataan yang terjadi untuk suku amungme sebagai pemilik hak sulung (PHS) di wilayah kerja PT. Freeport yang mendiami kampung Tsinga, Waa/Banti dan Aroanop (Tsingwarop) wilayah operasi pertambangan PTFI sangat sedih, menyedihkan pepatah kata menyatakan “BAGAIKAN TIKUS MATI DIATAS LUMBUNG PADI”.


PT. FREEPORT masuk diwilayah saya tanpa izin saya tebang hutan, bangun jalan, bangun rumah dan perkantoran diatas tanah saya, pake air saya gratis, naik hancurkan gunung keramat saya, ambil isi gunung emas, perak dan beberapa mjneral lainNya tanpa seizin saya yg resmi. Imbalan apa yg saya terima atas semua perlakuan yang dilakukan Freeport diatas tanah leluhur saya ? Sadarkah Engkau Tuhan Sang Pencipta Langit dan Bumi dan Roh Leluhur saya sedang menatap engkau atas semua perlakuanmu bersama para petinggi negara yang sedang ikut bermain denganmu.

Silahkan klink dan nonton di youtube untuk videoNya. 

Papua The Broken Paradise