MANTAN ATLET NASIONAL "MENUNGGU" PERHATIAN PRESIDEN

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


Prestasi Atlet Asian Games XVIII/2018 sangat luar biasa sehingga Indonesia menduduki Ranking 4. Apresiasi pemerintah juga luar biasa bagi atlet peraih medali. Tahniah. Namun, diujung Kota Bogor terdapat Mantan Atlet Panahan Nasional yang memasuki usia senja masih berjuang sendiri mendapatkan “hak profesinya” terkait dengan kesejahteraan yang seharusnya beliau terima sejak tahun 2013 yang lalu.

Beliau adalah Dhamayanti Adidharma, peraih medali emas berturut-turut pada PON VII/1969 sampai dengan PON XII/1989, Piala Presiden pada Kejurnas 1980, Medali perak dan perunggu pada Sea Games XI/1981, Manila, Filipina. Pemanah Ronde Fita, Nasional dan Tradisional ini telah mengantungi 59 medali emas, 24 perak dan 5 perunggu.

Sadar bahwa pendidikan adalah hal penting, maka berkat kegigihannya, pada waktu bersamaan ia mampu meraih gelar Insinyur dari Universitas Brawijaya Malang (1977), Doctor of Philosophy di Adelaide University Australia (1987), Post-Doctor di Ohio State University, United States of America (1989).

Pada tahun 1980, ia diterima sebagai PNS dan menjadi dosen di Universitas Brawijaya Malang.  Pada tahun 1991, ia dipindahtugaskan atas permintaan Negara/Pemerintah untuk kemajuan olahraga di Indonesia secara umum dan panahan secara khusus,  serta diharapkan dapat terus mengembangkan kariernya di salah satu PTN ternama yang tidak jauh dari ibukota.

Di ujung kariernya sungguh ironis dan sangat memprihatinkan, beliau menjadi korban penggunaan peraturan yang belum berlaku secara diskriminatif, tidak adil, tidak obyektif, tidak akuntabel dan tidak transparan saat penilaian usulan kenaikan jabatan dari Lektor Kepala menjadi Guru Besar di PTN tempat beliau bertugas.

Pemerintah melalui Menpora (Surat No. 0027/SET B-2/1/2014) telah menunjukkan perhatiannya kepada mantan atlet nasional tersebut yaitu meminta kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memperhatikan dan mempertimbangkan yang bersangkutan dapat diberikan kenaikan jabatan/pangkat istimewa sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun demikian sampai dengan hari ini belum mendapat tanggapan.

Dalam rangka ingin mewujudkan Revolusi Mental di bidang pendidikan dan mengembalikan kehormatan Institusi Pendidikan Tinggi serta mencari keadilan, maka beliau berupaya menyelesaikan masalah yang ada melalui PTN ternama tersebut secara elegan sesuai prosedur yang berlaku. Namun sayang tidak membuahkan hasil. 

Berbekal semangat pantang menyerah berbagai upaya pun telah ditempuh: 1)BKN,  2)Ombudsman Republik Indonesia,  3)Kementrian Pendayagunaan Aparataur Negara,  4)Dikti Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI,   5)Komisi X DPR RI,   6)Komnas HAM,  7)sampai menempuh jalur gugatan melalui Pengadilan Tata Usaha Negara.

Tanggapan tertulis hanya didapat dari:

  1. Surat Ketua Ombudsman RI No 0203/SRT/0900-2013/PBP-24/Tim 4/III/2014, meminta Rektor PTN ternama agar segera memproses usulan “Hak Profesi” sesuai ketentuan perundangan yang berlaku.
  2. Surat Komisioner KOMNAS-HAM No 3.882/K/PMT/XI/2015 kepada Menteri Sekretaris Negara RI dan instansi terkait, meminta agar masalah “Hak Kesejahteraan dan Profesi”  mantan atlet tersebut segera diselesaikan dengan berkoordinasi kepada Komnas HAM.
  3. Kepala Biro Sumber Daya Manusia No 1876/A2.3/KP/2016 meminta kepada Rektor PTN ternama untuk memproses “Hak Profesi dan Kesejahteraan” mantan atlet tersebut.
  4. Dan Putusan PTUN Bandung tanggal 29 April 2015 Nomor:  111/G/2014/PTUN.BDG  .

Namun demikian semuanya belum membuahkan hasil yang diharapkan. Oleh karena itu melalui “Petisi” ini kami yang cinta persaudaraan dan peduli dengan nasib Ibu Dhamayanti Adidharma ingin mengetuk pintu hati MASYARAKAT INDONESIA untuk bersama-sama peduli terhadapnya di tengah permasalahan bangsa dan musibah yang tengah melanda negeri ini, agar mantan atlet ini bisa bahagia kembali.

Perhatian khusus dari Bapak Presiden yang bijaksana kiranya berkenan :

  1. Mendengar secara langsung keluhan Ibu Dhamayanti sebagai mantan atlet yang sedang menderita.
  2. Memberikan “Hak Profesi dan Kesejahteraan”  beliau jika Bapak Presiden memandang bahwa itu adalah hak yang pantas baginya.

Mudah-mudahan Bapak Presiden berkenan membantu beliau mewujudkan mimpinya, memotivasi adik-adik dan anak-anak atlet yang saat ini berjuang di Asian Games 2018. Bahwa seorang atlet dapat sekaligus mencapai pendidikan tinggi.  Bahwa di Republik ini ada contoh seorang mantan Atlet Nasional yang sejatinya memperoleh “Hak Profesi” tertinggi.

Wassalam

Zulhidayat (PIC. 08126118618)

Cat : Semua isi petisi ini berdasarkan penuturan langsung dari Ibu Dr. (PhD). Ir. Dhamayanti Adidharma tgl. 7 Agustus 2018.



Hari ini: Zulhidayat mengandalkanmu

Zulhidayat Zulhidayat membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Joko Widodo: MANTAN ATLET NASIONAL "MENUNGGU" PERHATIAN PRESIDEN". Bergabunglah dengan Zulhidayat dan 405 pendukung lainnya hari ini.