keadilan untuk muhammad rian assidiq

0 telah menandatangani. Mari kita ke 7.500.


curiga siswa bintara meninggal tak wajar keluarga tuntut usut penyebab kematian

Tandaseru -- Kematian MRA (19 tahun), siswa Bintara Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Maluku Utara di Sofifi, Minggu 29 November lalu, rupanya masih menjadi misteri bagi keluarga. Keluarga mencurigai MRA meninggal secara tak wajar dan menuntut dilakukan pengusutan.

Dalam konferensi pers di Kelurahan Jati Perumnas, Ternate Selatan, Kota Ternate, Selasa (8/12) malam, pihak keluarga mendesak Polda Malut mengusut penyebab kematian tiba-tiba MRA. Seperti diketahui, pihak kepolisian menyatakan MRA mengeluh pusing saat mengikuti pembinaan fisik berupa lari dan meninggal saat dirawat di RSUD Chasan Boesoirie.

Ibu kandung MRA, Achmet Kusnawati Muksin menyatakan, tubuh putranya dipenuhi bekas luka di sejumlah tempat. Bekas luka tersebut ada di jari tangan, jari kaki, lutut, telapak kaki, kening, dagu, bagian perut kiri dan kanan, tubuh bagian belakang, dan tanda biru seperti lebam di bagian perut.

"Karena itu kami dari keluarga juga sudah mendesak agar Kapolda Malut maupun SPN harus usut kasus ini sampai tuntas, sebab almarhum meninggal ada dugaan kejanggalan kekerasan terhadap almarhum," kata Achmet.

Achmet juga mempertanyakan sikap Kapolda maupun Kepala SPN Sofifi yang tak pernah mengucapkan bela sungkawa atas kematian MRA. Hanya perwakilan anggota yang dikirim menemui pihak keluarga.

"Kenapa saat almarhum meninggal Kapolda maupun Kepala SPN tidak datang, hanya mengirimkan anggota. Ini tanggung jawab Kapolda maupun Kepala SPN, jangan sampai kasus seperti ini terulang lagi," ujarnya.

Ia meminta kehadiran Kapolda dan Kepala SPN langsung lantaran meyakini putranya meninggal bukan karena kecelakaan atau sakit, namun ada hal-hal yang tidak wajar untuk dilihat.

"Saya tidak bisa bilang ini kekerasan, tetapi orang bodoh pun bisa melihat mungkin ini ada kekerasan terhadap almarhum sehingga koma di RSUD sampai meninggal," cetusnya

Pihak keluarga juga mengecam laporan Polda Malut ke Mabes Polri bahwa MRA mengidap epilepsi dan Covid-19 sehingga harus dimakamkan dengan protokol Covid-19.

"Kami sanggat menyesalkan tindakan yang sudah dilakukan oleh Polda Malut, sebab informasi yang disampaikan ke Mabes Polri almarhum dimakamkan dengan protokol Covid-19. Padahal saat pemakaman tidak ada namanya pemakaman dengan cara protokol Covid-19, tentu ini kan sudah ada pembohongan," tandas Achmet.

MRA tutup usia di RSUD CB 29 November lalu. Menurut keterangan polisi, ia sempat mengeluh pusing saat mengikuti pembinaan fisik. MRA lalu diberi pertolongan pertama oleh tenaga medis SPN.

Setelah itu, MRA dirujuk ke RSUD Sofifi dan dilanjutkan ke RSUD CB di Ternate. Namun nyawanya tak dapat ditolong dan ia dinyatakan meninggal dunia pada pukul 13.30 WIT.

Hingga berita ini ditayangkan, Kabid Humas Polda Malut AKBP Adip Rojikan yang dikonfirmasi belum memberikan tanggapan.