Jokowi, segera realisasikan RS khusus COVID-19 di seluruh Indonesia!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 10.000.


Pada video berdurasi 2:17 yang viral di Twitter, potongan wawancara Jubir Pemerintah Achmad Yurianto dengan Deddy Corbuzier di acara Close the Door, terungkap beberapa hal yang perlu ditanggapi.

Jubir menyampaikan bahwa beberapa rumah sakit (RS) menjaga citra jangan sampai ketahuan merawat pasien COVID-19, karena kalau ketahuan pasien yang lain tidak mau datang. "This is business," begitu katanya. Menurut beliau, banyak sekali RS yang menolak kasus ini, yang menurutnya melanggar hukum kecuali dengan reasoning yang jelas. "Silahkan Anda cari sendiri, RS tidak mau nerima", kata beliau seperti menirukan kata-kata RS ke pasien.

Deddy Corbuzier pada acara tersebut tercengang, berkali - kali mengucapkan "wow" bahkan sekali terdengar mengucapkan "shit", terkesan sangat kaget dengan perilaku RS seperti itu yang seolah sangat jahat.

Apa yang dikatakan Jubir COVID-19 ini sangat berbahaya karena menyederhanakan masalah. Ucapan Jubir dan reaksi Deddy Corbuzier sangat menyakitkan para pekerja dan tenaga kesehatan di RS, khususnya RS swasta. Ini merusak solidaritas yang sangat diperlukan dalam menghadapi pandemi ini.

Narasi ini kemudian meluas, masyarakat seolah membenarkan bahwa RS adalah institusi jahat yang menolak pasien karena alasan bisnis takut kehilangan pasien. Sejujurnya, semua RS saat ini ingin mengurangi jumlah pasien. Manajemen, tenaga kesehatan dan seluruh pegawai rumah sakit, seperti layaknya orang kebanyakan, ingin sekali bisa bekerja dari rumah, karena tidak ada yang ingin tertular virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19 ini.

Di banyak RS terkabar bahwa saat ada pasien meninggal padahal BUKAN karena COVID-19, pasien lain panik minta pulang takut ketularan. Alasannya karena melihat dokter dan perawat memakai masker dan sarung tangan saat merawat pasien tersebut. Padahal memang saat ini prosedurnya memang seperti itu ke semua pasien.

Kalau sembarang RS 'dipaksa' merawat pasien COVID-19, padahal RS tersebut tidak siap, apalagi dengan di-fait accompli dengan langsung diumumkan ke publik seperti yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bekasi, maka ini sangat berpotensi membantu memperluas penyebaran, belum lagi membahayakan mereka yang bertugas.

Karena, misalnya, kebanyakan RS tidak punya fasilitas isolasi khusus yang terpisah. Walaupun kamarnya terpisah, ruang isolasi ini bercampur dalam satu bagian, di satu lantai, dengan ruang pasien non infeksi. Fasilitas kesehatanpun saat ini kesulitan mendapat alat pelindung diri yang terstandar.

Setiap ada pasien terduga (belum terkonfirmasi), satu blok kamar di RS harus dikosongkan untuk disterilisasi dan petugas yang sempat kontak dirumahkan. Ini jelas potensial melumpuhkan operasional kebanyakan RS yang jumlah perawat dan ruangannya terbatas

Sangat menyakitkan menuduh motif bisnis sebagai alasan RS merahasiakan dan menolak pasien COVID-19. Kita tahu hampir semua RS swasta saat ini menerima pasien dengan jaminan BPJS Kesehatan, bahkan mayoritas pasien RS adalah pasien BPJS Kesehatan.

Banyak RS yang sudah megap-megap karena kesulitan dana segar akibat pembayaran BPJS Kesehatan yang tertunda. Jika RS tersebut lumpuh karena merawat pasien COVID-19, maka yang akan rugi adalah masyakat banyak.

Jika ada pasien terduga COVID-19, bukanlah tugas RS untuk mengumumkan ke publik. Rumah sakit selama ini melaporkan ke Dinas Kesehatan. Dinaslah yang kemudian seharusnya melakukan pelacakan dan memeriksa semua yang kontak dengan pasien tersebut. Dinas kemudian mengumumkan sebagai data epidemiologi, wilayah mana yang terdampak seperti yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tapi apakah hal ini berjalan di Daerah lain? 

Jubir mengatakan di acara tersebut, bahwa Pertamina sebagai salah satu BUMN menyiapkan RS Pertamina Jaya sebagai RS khusus Covid-19. Langkah inilah yang harus didorong, segera realisasikan RS khusus COVID-19, bukan hanya di DKI Jakarta, tapi di seluruh propinsi, bahkan seluruh kabupaten dan kota di Indonesia. Agar sistem pelayanan kesehatan tidak kolaps, karena kita masih harus merawat rakyat yang sakit seluruhnya, bukan hanya pasien COVID-19.

Atas dasar tulisan di atas, tolong tanda tangani petisi agar Pemerintah Pusat segera merealisasikan RS khusus COVID-19. Juga agar Jubir COVID-19 Achmad Yurianto jangan lagi menggunakan narasi yang menyudutkan dan berpotensi menimbulkan kebencian kepada pihak lain, terutama fasilitas dan tenaga kesehatan. Terima kasih.