Hentikan Pembangunan PLTA Marancar oleh PT NSHE Demi Lingkungan dan Satwa

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


5 November 2018 Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional

Pinus Tapanuli “Hentikan Pembangunan PLTA SIMARBORU”

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) diperingati setiap tanggal 5 November Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional serta untuk menumbuhkan dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan kita. Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional dimulai pertama kali pada tahun 1993 berdasarkan Kepres Nomor 4 tahun 1993 yang ditandatangani langsung oleh Presiden RI kala itu, Soeharto.

Di Kabupaten Tapanuli Selatan, Ada Ekosistem Hutan Batangtoru yang menjadi kawasan penting sebagai benteng pertahanan keanekaragaman hayati dan gudang ilmu pendidikan bagi generasi mendatang. Bukan hanya sebagai hutan penyumbang oksigen bagi dunia, Daerah Aliran Sungai sebagai sumber kehidupan dan penghidupan bagi masyarakat hilir, akan tetapi masih banyak yang terkandung didalamnya yang mungkin belum bisa di inventarisir. Sebagai catatan sejarah bagi Dunia konservasi dan tentunya bagi Dunia, Orangutan spesies baru ditemukan dalam kawasan Hutan Batangtoru. Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) menjadi nama spesies kera besar ini yang ditetapkan sebagai spesies ke 3 pada tanggal 3 November 2017 dan secara resmi di publikasikan dalam Journal Internasional Current Biology. Orangutan Tapanuli adalah spesies ke 3 setelah orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) dan Orangutan Sumatera (Pongo abelli). Kami menghawatirkan Habitat Orangutan Tapanuli yang hidup di bentang Hutan Batang Toru yang terhubung dengan Cagar Alam Sibual buali Terancam Punah dari Bumi Tapanuli khususnya Tapanuli selatan akibat pengalihan fungsi hutan sebagai Lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Air yang dipersiapkan oleh pihak pengembang yakni PT. North Sumatera Hydro Energi yang meliputi kawasan Sipirok – Marancar – Batangtoru untuk mendukung pasokan listrik di Sumatera Utara.

Sebaiknya pembangunan yang sudah dimulai ini harus dihentikan. Mahluk sosial bukan saja urusan antara manusia dengan manusia, akan tetapi hubungan antara manusia dengan mahluk hidup lain penting untuk dijaga. Ada ribuan jiwa menggantungkan hidup dari sumber kekayaan alam hutan Batang Toru yakni dari sektor Pertanian, Perikanan dan kebutuhan sehari hari, Bila hutan nya hilang tentunya isinya juga turut hilang akibat perubahan fungsinya. Kerusakan alam yang berakibat bencana selalu dikaji setelah bencana itu datang, bukan sebaliknya melaksanakan kegiatan Mitigasi Bencana, pastinya akan banyak yang berkoar koar mengkritisi akan kerusakan yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Itu setelah bencana terjadi, setelah tahap rekonstruksi dan rehabilitasi hingga tahap pemulihan Pasca Bencana dilaksanakan kita akan terabaikan kembali dan lupa akan pentingnya menjaga alam beserta isinya. Kita harus bercermin terhadap bencana yang dialami dibeberapa daerah di Indonesia dan menjadi pelajaran kedepannya. Bukankah Kita harusnya empati melihat saudara kita yang terkena bencana.

Selain itu, Ancaman yang ditimbulkan dalam pembangunan ini adalah Terancamnya habitat Enggang Badak (Bucheros rhinoceros) sebagai Identitas Daerah Kab.Tapanuli selatan. Untuk diketahui bersama Keputusan Bupati Tapanuli Selatan Nomor 340/KPTS/2013 Tentang Penetapan Flora dan Fauna sebagai identitas Daerah Kab.Tapanuli selatan yaitu Flora; Kecombrang / Siala Sampagul (Eltingera elatior) dan Fauna; Enggang Badak/Onggang (Bucheros rhiniceros) Ditetapkan di Padangsdimpuan Pada Tanggal 28 mei 2013 Oleh Bupati Tapanuli Selatan H. Syahrul M. Pasaribu. Apa iya kita lupa akan identitas daerah kita sendiri. Onggang itu hidup di kawasan pembangunan PLTA dan terancam habitatnya. Mau dibawa kemana identitas kita, itu rumah bagi mereka (satwa) tidak bisa asal gusur. Kami juga khawatir akan mengundang perburuan terhadap satwa dilindungi ini dengan membuka dan merubah fungsi hutan di ekosistem ini.

Percuma kita memiliki Kekayaan alam dan isinnya dan nyatanya tidak dijaga, Nilai nilai daerah dan Konservasi dikhianati, Toh identitas juga jadi Taruhan Pembangunan PLTA ini tanpa mengkaji kajian lingkungan hidup strategis secara matang. Mana Tanggungjawabnya sebagai Pemimpin Tapanuli Selatan yakni Bupati Tapanuli Selatan H.Syahrul M. Pasaribu. Kawasan pembangunan PLTA yang meliputi Sipirok – Marancar – Simarboru itu kaya akan alamnya. Lebih baik ditingkatkan fungsinya dari Hutan APL untuk menjaga kawasan hutan, keanekaragaman hayati dan kehidupan sosial bagi Masyarakat hilir. Itu lebih baik menurut kami, jadi tolong dipertimbangkan dan dikaji kembali, Pembangunan PLTA ini kami anggap berdampak buruk bagi ekositem Hutan Batangtoru – Marancar - Sipirok.
Pihak pengembang yakni PT. NSHE juga harus mengkaji pembangunan dan dampaknya secara matang, jangan sembarang melaksanakan kegiatan exploitasi tanpa melaksanakan explorasi yang matang tanpa memperhatikan kaidah konservasi.
Bicara kemakmuran ataupun kesejahteraan itu adalah jawaban klasik. Tapi bukan sebatas itu, Ada Hutan kami yang masih kami butuhkan hingga anak cucu kami nanti. Kami juga mengajak seluruh masyarakat khususnya yang terkena dampak pembangunan PLTA agar tetap terus mengawal, melestarikan, dan menjaga keseimbangan alam dan lingkungan demi generasi berikutnya.

Salam lestari....

Perkumpulan Konservasionis Hutan dan Satwa Tapanuli (Pinus Tapanuli)

Selamat Hari Cinta Puspa dan Satwa

Khoiruddin Nasution 

di Padang Sidempuan Sumatera Utara



Hari ini: Khoiruddin mengandalkanmu

Khoiruddin Nasution membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Joko Widodo: Hentikan Pembangunan PLTA Marancar oleh PT NSHE Demi Lingkungan dan Satwa". Bergabunglah dengan Khoiruddin dan 124 pendukung lainnya hari ini.