Dukungan Untuk Jadikan K.H. Ahmad Sanusi Sebagai Pahlawan Nasional

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


Gerakan Ahmad Sanusi, baik lisan, tulisan, maupun tindakannya, membuat risi Belanda, yang takut masyarakat kuat dan bersatu melawan. "Akhirnya, Agustus 1927, beliau ditahan sembilan bulan di penjara Cianjur, dengan tuduhan merusak dua jaringan kawat telepon yang menghubungkan Sukabumi- Bandung-Bogor," ungkap Munandi.

Pada Mei 1928, ia dipindahkan ke penjara kota Sukabumi, lalu pada November 1928 diasingkan ke Tanah Tinggi, Senen, Batavia Centrum. "Walaupun diasingkan, perjuangannya tidak putus. Sejumlah karyanya justru lahir di penjara. Ada sekitar 126 karya berbahasa Sunda," ujar KH Iding Bahrudin, 55 tahun, Ketua DPW PUI Jawa Barat.


Pada 1931, para pengikut Sanusi menggelar pertemuan di Pesantren Babakan Cicurug, dipimpin KH Muh. Hasan Basri. "Mereka membahas persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Hasilnya kesepakatan mendirikan Al-Ittihadiyatul Islamiyah (AII),"
Gubernur Jenderal De Jonge pada 3 Juli 1934 memutuskan Ahmad Sanusi menjadi tahanan kota di Sukabumi selama lima tahun. Kedudukan AII pun berpindah ke Sukabumi. Pada tahun itu, ia mendirikan lembaga pendidikan Syamsul Ulum, yang lebih dikenal dengan Pondok Pesantren Syamsul Ulum Gunung Puyuh. Selain itu, juga menerbitkan majalah Al-Hidayah al-Islamiyah dan At-Tabligh al-Islami.

"Tahun 1942, Jepang menguasai Sukabumi karena bantuan Sanusi yang memerintahkan anak buahnya di AII agar menunjukkan titik pertahanan kolonial di Sukabumi," ungkap Munandi. Pada 1943, Sanusi diangkat menjadi anggota Dewan Penasihat Daerah Bogor. Namun ia meminta syarat kepada Jepang agar AII dihidupkan. "AII hidup lagi dengan mengubah AD/ART dan nama menjadi Persatoean Oemmat Islam Indonesia (POII)," ujarnya. Lalu, pada 1944, ia masuk Jawa Hokokai (Kebangkitan Jawa) mewakili Masyumi bersama-sama KH Wahid Hasjim dan Djoenaedi. Pada tahun yang sama, Sanusi diangkat sebagai Wakil Residen Bogor. "Pada pertemuan di Pesantren Syamsul Ulum, ia pun membentuk tentara Peta yang disepakati para alim ulama sewilayah Bogor," kata Munandi.

Menurut Deddy Ismatullah, dengan posisinya itu, Sanusi mengamankan rakyat dan ulama yang disiksa dan diperas Jepang. Jepang pun mengakui ketokohannya, seperti halnya Belanda.
Pada 1 Maret 1945, saat Saiko Shikikan (Panglima Militer Tertinggi), Jenderal Kumakici Harada, membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Ahmad Sanusi menjadi salah satu anggotanya pada 28 Mei 1945. "Beliau anggota bernomor urut dua, posisi duduk kursi nomor 36," tutur Munandi. Pemikirannya tentang kenegaraan, menurut Munandi, terlihat dan menonjol saat sidang BPUPKI pada 10-11 Juli 1945, ketika sidang memperdebatkan perihal bentuk negara dan wilayah negara. "Ia menjelaskan plus-minus bentuk kerajaan dan republik dari perspektif Islam. Beliau berpendapat bahwa sebaiknya negara Indonesia itu sesuai dengan kondisi yang ada, berbentuk imamat yang dipimpin oleh imam, dengan kata lain berbentuk republik," ia melanjutkan. Perihal batas wilayah, Sanusi berpendapat bahwa pembahasan batas wilayah negara sebaiknya ditunda, menunggu Indonesia merdeka.


Menurut Wawan Hernawan, dosen sejarah di UIN Sunan Gunung Djati, Sanusi dikenal sebagai pemikir Islam moderat dan modernis dalam hal politik dan ekonomi. "Ia berpikiran moderat dan selalu berangkat dari kitab kuning. Jika tidak ada di kitab, ia tidak mau menerima suatu ajaran," kata Wawan.

Sikap itu ia tunjukkan ketika menentang perjuangan DI/TII di pedesaan Jawa Barat yang akan mendirikan Negara Islam Indonesia di bawah pimpinan S.M. Kartosuwiryo. "Keputusan itu ia ambil demi keutuhan NKRI dan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara, karena Darul Islam banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam," papar Munandi. Sikap ini diikuti seluruh pengikut dan santrinya.
Di samping spirit mempersatukan umat, Munandi menegaskan, KH Ahmad Sanusi juga meninggalkan banyak karya tulis. Saat ini, terdata sebanyak 126 karyanya. Namun, menurut keterangan Kedutaan Belanda, terdapat sekitar 460 karya KH Ahmad Sanusi yang kini berada di "negeri kincir angin" itu.

Karena perjuangannya, Sanusi dianugerahi Bintang Mahaputra Utama. Pihak keluarga dan Provinsi Jawa Barat, khususnya Kota Sukabumi, mengajukan beliau menjadi pahlawan nasional.


mohon dukungan dan mendatangani petisi ini agar sampai kepada presiden RI bapak Ir.JokoWidodo, Mentri sosial Idrus Marham, Gubernur JawaBarat, Bupati Sukabumi, Walikota Sukabumi dan TP2GP.



Hari ini: Riungan Mahasiswa Sukabumi mengandalkanmu

Riungan Mahasiswa Sukabumi membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Joko Widodo: Dukungan Untuk Jadikan K.H. Ahmad Sanusi Sebagai Pahlawan Nasional". Bergabunglah dengan Riungan Mahasiswa Sukabumi dan 244 pendukung lainnya hari ini.