Bebaskan ZA (Pembunuh Begal di Malang) Dari Tuntutan Hukum

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Kasus pembunuhan begal, Misnan 35 tahun, oleh ZA 17 tahun pada September 2019 lalu akhirnya disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Kabupaten Malang Selasa 14 Januari 2020.

Dalam persidangan pembacaan dakwaan dan dilakukan tertutup itu. ZA oleh majelis hakim didakwa empat pasal berlapis sekaligus. Diantaranya yaitu pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian dengan ancaman maksimal 7 tahun

Kemudian pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman maksimal 15 tahun kurungan penjara. Terakhir yaitu pasal 2 ayat 1 Undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951 tentang sengaja membawa senjata tajam.

Dijelaskannya seperti pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman kurungan penjara seumur hidup. Pasal tersebut menurutnya tidak sesuai dengan apa yang dilakukan oleh ZA yang dikatakannya bahwa melakukan pembelaan diri karena ada ancaman tindak pidana.

"Apa yang dilakukan ZA ini karena adanya keterpaksaan yang mengharuskannya melakukan itu (pembelaan diri). Dia hanya refleks karena barangnya diambil dan mengancam asusila temannya yang perempuan, ujar Bhakti Pengacara ZA

Selain itu, Bhakti menambahkan dakwaan janggal lainnya yaitu ZA didakwa pasal tentang sengaja membawa dan menyimpan senjata tajam. Disebutkannya bahwa ZA membawa pisau tersebut karena ada kegiatan di sekolahnya pada hari itu juga. Dan ini sudah diakui kebenarannya oleh pihak sekolah ZA. 

Oleh sebab itulah, kami berharap majelis hakim bisa jernih menilai kasus pembunuhan oleh ZA tersebut. Selain, menyangkut anak di bawah umur. Ada unsur pembelaan diri yang dilakukan ZA dan menurutnya sangat kuat.

"Jangan sampai, ada preseden buruk lagi. Misalnya ketemu perampok dan melakukan pembelaan diri. Namun, yang membela diri itu yang dipenjara. Kan kasihan," jelasnya.

Dan pembelaan diri dalam kasus ZA ini menurutnya sesuai dengan bunyi pasal 48, 49 dan 50 di KUHP. Disebutkan bahwa ada alasan dalam satu tindak pidana yang tidak bisa dipidana karena atas pembelaan diri.

"Itu persis sebagaimana yang dilakukan ZA ini. Makanya, dalam kasus ini ZA sebenarnya tidak bisa dipidana," tuturnya.

Oleh sebab itulah, dalam sidang lanjutan dengan agenda pihaknya akan mengajukan eksepsi (keberatan) atas majelis hakim. Tentunya dengan berdasarkan pasal 48, 49 dan 50 di KUHP.

.