Batalkan Pembangunan Masjid Jami’ Al Faruq, Samarinda butuh Ruang Terbuka Hijau.

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Assalammualaikum, Salam sejahtera buat kita semua.

Sebelumnya berita rencana pak Awang Faroek akan membangun Masjid di Lapangan Kinibalu sudah sempat tayang pada harian KaltimPos medio 3 bulan lalu, tetapi kemudian isu tidak di follow-up. Dan tiba-tiba saja sudah sudah masuk dalam Anggaran 2018, pada Desember ini lapangan Kinibalu sudah ditutup pagar seng. 

Keinginan Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak membangun masjid senilai Rp 70 miliar dari APBD Kaltim, di lokasi lapangansepakbola Kinabalu, di Samarinda, Kalimantan Timur, menuai protes warga setempat. Bukan masalah pembangunan masjid, melainkan lokasinya, yang dipastikan akan menggusur lapangan Kinabalu, yang punya banyak histori tentang Samarinda.

Penolakan warga yang menjadi isu hangat 2 pekan terakhir itu, bukan tanpa alasan. Selain lapangan yang sudah ada sejak 1960 itu, punya banyak histori, lokasi masjid tepat di lapangan itu, juga sangat berdekatan dengan 2 masjid di sekitarnya di areal Makorem 091 ASN dan juga di dalam areal Lamin Etam, sebagai rumah dinas Gubernur Kaltim. (dikutip dari merdeka.com)

Sebenarnya dari anggaran sebesar itu nantinya akan jadi 2 Masjid Besar, di Lapangan Kinibalu dan di sekitar DPRD Provinsi Kalimantan Timur. Padahal dari dua lokasi rencana pembangunan Masjid tersebut juga tidak jauh dari Masjid yang lebih dulu ada.

Untuk di Lapangan Kinibalu sendiri sudah digelontorkan dana 2,8 miliar dari APBD perubahan 2017 untuk memulai pembangunan yang terkesan memaksa. Dan jika merujuk pada pernyataan Gubernur Awang Faroek disini. Beliau mengakui didukung oleh MUI dan tokoh Agama, dan tokoh masyarakat, apalagi ditambah "Apalagi sebentar lagi saya pensiun" . 
Tetapi selang beberapa hari Ketua MUI Samarinda Zaini Naim, mengeluarkan statment pada salah satu media yang intinya menolak pembangunan Masjid Al-Faruq. "Masih ada Masjid di sekitar yang perlu dibantu diramaikan oleh Jamaah" bisa dilihat disini atau thread facebook disini.

Apalagi rupanya Tanah Lapangan Kinibalu adalah Tanah Wakaf yang ditujukan untuk sarana olahraga. Dan berdasarkan berita terakhir belum mengantongi ijin, tetapi sudah melakukan penutupan area Lapangan Kinibalu dengan seng. 

Ditengah defisit APBD 2016 2017, sebenarnya angka Rp 70 miliar akan sangat bermanfaat banyak jika digunakan untuk fasilitas umum yang lain dibeberapa daerah di Kalimantan Timur. Terutama Samarinda sebagai Ibu Kota Provinsi, banyak netizen yang memberikan masukkan sebagian besar menolak, bahkan tokoh Masyarakat, dan masyarakat sekitar Lapangan Kinibalu menolak pembangunan Masjid Al-Faruq.

Anggota DPRD H. Syahrun sudah menerima masyarakat yang menolak, dan akan melakukan monitoring mulai dari meninjau ulang apakah tanah tersebut tanah wakaf atau tidak, kemudian soal ijin dari lingkungan sekitar. Jika tidak memungkinkan proyek akan dihentikan, atau dipindah tempat. Apalagi IMB pembangunan Masjid sendiri belum ada. Bisa dilihat disini

SOLUSI

Jika memang sudah ada pada APBD 2018, dan sudah terlanjur cair di APBD perubahan 2017 (untuk dana awal). Setidaknya bisa dirapat ulang untuk pengalihan pos anggaran dana, untuk renovasi rumah ibadah ditempat lain, peningkatan fasilitas umum, ataupun justru untuk memperbaiki dan merawat lapangan Kinibalu sendiri.
Karena Samarinda, terutama Kalimantan Timur masih banyak sarana dan prasarana pendukung lain yang masih banyak tidak diperhatikan. Sehingga kurang layak. 
Mari tinjau ulang pembangunan Masjid yang akan menghabiskan dana tidak sedikit ini.



Hari ini: Dwi mengandalkanmu

Dwi Kurniawan membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Joko Widodo: Batalkan Pembangunan Masjid Jami’ Al Faruq, Samarinda butuh Ruang Terbuka Hijau.". Bergabunglah dengan Dwi dan 79 pendukung lainnya hari ini.