Kemenangan

Jepara dan Kotanya

Petisi ini membuat perubahan dengan 8 pendukung!


Jepara, sebuah kabupaten di Jawa Tengah, tak hanya memiliki seorang Raden Ayu Kartini, pejuang dan pelopor kebangkitan kaum perempuan Indonesia. Namun jauh sebelumnya telah melahirkan perempuan hebat lainnya, yaitu Ratu Kalinyamat.

Terlahir dengan nama Retna Kencana, Ratu Kalinyamat adalah salah satu putri dari Raja Demak, Sultan Trenggana, sekaligus cucu dari Raden Patah, pendiri kerajaan Islam pertama di Jawa. Setelah suaminya, Pangeran Hadirin wafat, Ratu Kalinyamat dinobatkan menjadi penguasa Jepara pada 10 April 1549. Meski menjadi penguasa, Ratu Kalinyamat tak melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Tidak hanya cantik, Ratu Kalinyamat juga cerdas, berpengetahuan luas, memiliki jiwa kepemimpinan yang andal dan piawai berdiplomasi.

Di masa pemerintahannya, Jepara merupakan pusat perdagangan, kekuatan militer, pelabuhan utama bagi ekspor impor. Ratu membangun pelabuhan penyokong di sekitar Jepara, sekaligus menginisiasi industri ukiran di Jepara, sehingga bisa berkembang dengan luar biasa. Ratu juga berhasil membangun kekuatan angkatan laut yang besar sekaligus membangun pakta pertahanan dengan Cirebon, Banten, Palembang, Aceh, Malaka di bagian barat, Makassar, Tidore, dan Maluku di bagian timur.

Pemahaman dan visinya mengenai poros maritim membuat industri perkapalan di Jepara - baik kapal perang maupun kapal dagang- tumbuh dan berkembang dengan pesat. Di bawah kepemimpinan Ratu Kalinyamat, Jepara kerap dimintai bantuan untuk mengusir kolonial Portugis yang mulai mencengkram sejumlah wilayah di Nusantara. Setidaknya tercatat, Ratu Kalinyamat tiga kali mengirim pasukan angkatan lautnya ke Malaka pada 1551, Maluku pada 1565, dan ke Kesultanan Aceh pada 1573.

Apa yang dilakukan Ratu Kalinyamat sesungguhnya mencerminkan seorang yang memiliki wawasan bahwa, Nusantara adalah negeri maritim. Ratu sangat memahami konsep Nusantara merupakan negeri kepulauan, dan lautan adalah jantung kehidupan bagi semua wilayah di dalamnya. Tak ayal, di bawah kepemimpinannya selama 30 tahun, Ratu Kalinyamat telah membawa Jepara sebagai kerajaan maritim paling berpengaruh di Nusantara pada abad ke-16, setara dengan kerajaan maritim zaman Sriwijaya pada abad ke-7 dan Majapahit pada abad ke-15. Tak heran jika sejarawan Portugis menjulukinya sebagai Rainha de Jepara, Senhora Poderosa e Rica, de Kranige Dame yang artinya Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani.

Sebagai sosok perempuan hebat yang dimiliki Jepara dan Nusantara, figur Ratu Kalinyamat kerap menjadi tema sentral bahan kajian mahasiswa di sejumlah universitas di Indonesia. Pemikiran, gagasan, dan sepak terjang Ratu Kalinyamat harus kita akui sudah melampaui zamannya. Ratu memiliki visi dan misi yang jauh ke depan. Konsep pentingnya Indonesia sebagai poros maritim dunia kembali digunakan oleh Presiden Joko Widodo. Bila dicermati lebih dalam, sesungguhnya dasar-dasar konsep tersebut telah diletakkan dan dilakukan oleh Ratu Kalinyamat.

Memperhatikan dan menimbang itu semua, sudah sepantasnya gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada Ratu Kalinyamat. Usaha pengusulan yang pernah dilakukan sebelumnya hendaknya diteruskan dan diulang kembali. Pada kesempatan ini, Yayasan Dharma Bakti Lestari, mengajak Pemerintah Kabupaten Jepara dan segenap warga Jepara, serta semua pihak terkait untuk bersama-sama menggelorakan kembali usulan pemberian gelar pahlawan Nasional. Terlebih untuk mengingatkan semua pihak, bahwa sudah pantas dan saatnya gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada Ratu Kalinyamat.

Gelar itu bukan saja penghargaan kepada sang ratu, tetapi penghargaan bagi segenap perempuan Indonesia, dan sebuah bukti bahwa visi poros maritim yang dijalankan oleh Presiden Joko Widodo adalah sebuah keniscayaan.



Hari ini: Lestari mengandalkanmu

Lestari Moerdijat membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Jepara dan pahlawannya". Bergabunglah dengan Lestari dan 7 pendukung lainnya hari ini.