Atribut Muslim bukan Alat Terorime !

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


DUKUNG! ATRIBUT MUSLIM BUKAN ALAT TERORIS

Semua pasti memahami fenomena peledakan BOM bunuh diri yang telah terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Pergerakan teroris yang ada di akhir-akhir ini banyak yang menggunakan atribut muslim untuk melancarkan aksinya, Kami juga sudah memahami bagaimana pandangan dunia terhadap kaum muslim kini sudah semakin buruk. Dunia memandang kaum muslim bukan seperti masyarakat lainnya. Mereka kini memandang kaum muslim sebagai penjahat. Mereka memandang bahwa kaum muslim adalah kelompok teroris, yang karena fanatismenya terhadap agamanya mereka bertindak agresif terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan dengannya. Orang-orang mengkalim kaum muslim seperti itu, karena mereka melihat dari beberapa peristiwa aksi-aksi terorisme dan agresi yang dilakukan oleh beberapa kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama dan memakai atribut muslim. Dan sampai sekarang pandangan dunia telah mengeneralisasi kaum muslim seperti itu. Padahal tidak semua dari kaum muslim itu seperti apa yang mereka pikirkan. Dengan adanya fenomena terorisme akhir-akhir ini yang ada di Indonesia kekhawatiran itu meluas malah ke sesama masyarakat muslim itu sendiri. Berikut data aksi terorisme yang berjadi di pertengahan tahun 2018 ini.

Selasa 8 Mei 2018

Kabar adanya kerusuhan di Rutan Mako Brimob dikonfirmasi oleh Polisi menjelang tengah malam. Menurut Polisi, kerusuhan tersebut bermula dari cekcok tahanan dan petugas.

Rabu 9 Mei 2018

Lima orang polisi meninggal. Napi teroris merebut senjata petugas dan mengambil alih rutan. Satu polisi masih disandera sejumlah narapidana terorisme. Sementara, seorang teroris ditembak mati oleh aparat polisi saat kerusuhan.

Kamis, 10 Mei 2018

Pagi hari, perlawanan para napi teroris di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, akhirnya dipatahkan. Setelah insiden usai, tampak sembilan bus ke luar dengan kecepatan tinggi dari Mako Brimob, membawa sekitar 145 narapidana terorisme, yang terlibat kerusuhan, ke Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Jumat, 11 Mei 2018

Seorang anggota polisi tewas ditusuk teroris yang ditangkapnya karena bersikap mencurigakan. Teroris tersebut kemudian ditembak di tempat. Seorang terduga teroris berinisial RA ditembak mati setelah melawan petugas polisi yang menangkapnya bersama tiga rekannya di kawasan Stasiun Tambun, Bekasi, Jumat dini hari.

Sabtu, 12 Mei 2018

Dua perempuan, Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah ditangkap polisi karena diduga akan melakukan penusukan kepada anggota Brimob di Mako Brimob.

Minggu 13 Mei 2018, pukul 02.00

Empat orang terduga teroris di Cianjur tewas ditembak polisi. Keempat orang tersebut merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah, pimpinan Aman Abdurrahman, dan diduga akan melakukan serangan terhadap aparat kepolisian, kata juru bicara polisi, Irjen Setyo Wasisto, Minggu (13/05). Mengendarai kendaraan roda empat, empat orang itu hendak menuju Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, tetapi dihadang oleh aparat kepolisian di Cianjur, Jawa Barat, Minggu dini hari, demikian keterangan polisi.

Minggu, 13 Mei 2018, pukul 07.30

Bom meledak di tiga gereja di Surabaya: Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Pantekosta Jalan Arjuna, GKI di Jalan Diponegoro.

Senin, 14 Mei 2018, pukul 08.50

Serangan bom bunuh diri ke Polrestabes Surabaya dilakukan oleh empat orang dengan dua sepeda motor. Dari rekaman CCTV terlihat, pelakunya adalah satu keluarga berisi lima orang yang naik dua sepeda motor.

Dan masih banyak lagi aksi-aksi yang melibatkan kaum muslim. Kejadian-kejadian tersebut semakin membuat masyarakat berpikir bahwa semua orang yang beratribut muslim itu sebagai orang-orang yang kasar, anarkis, dan bahkan sebagai teroris. Mereka seakan-akan telah menilai teman kita yang mengamalkan itu secara menyeluruh dengan label tersebut. Label bahwa muslim anarkis, muslim fanatik, dan muslim teroris.

Karena label tersebut sudah melekat pada kaum muslim, banyak kaum-kaum muslim yang menjadi korban rasisme tersebut. Banyak orang-orang yang menghina, mendiskiriminasi, dan bahkan mencurigai kaum muslim.

Banyak tindakan diskriminasi yang dilakukan kepada kaum muslim. Seperti…

Pertama, pria berpeci diminta petugas brimob bongkar isi kardus dan tas di Simpanglima Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Senin (14/5/2018) malam, tepat nya didepan pos Polisi.

Berdasarkan video yang diunggah di akun Instagram @santricommunity, Selasa (15/5/2018), pria yang diperiksa itu membuka kardus dan ranselnya dengan cara kasar. Ia bahkan melampar isi kardus dan isi ransel yang kebanyakan adalah pakaian. Di akun Instagram tersebut, dijelaskan bahwa para polisi mencurigai si pria yang diduga santri itu merupakan teroris  yang membawa bahan peledak. Banyak yang kemudian menyayangkan aksi polisi itu karena terlalu curiga dengan orang yang berpakaian layaknya santri di pondok pesantren. (Semarangpos.com, 16 Mei 2018 10:50).

Kedua, seorang santri berinisial SAN terpaksa diturunkan dari atas bus umum di Terminal Gayatri, Tulungagung, Jawa Timur oleh petugas Dinas Perhubungan, Senin 14/5/2018.

Santri berusia 14 tahun itu diturunkan karena gerak-geriknya yang mencurigakan. Menurut keterangan Kepala Terminal Gayatri, Oni Suryanto, peristiwa penurunan penumpang bercadar itu terjadi pada Senin (14/5/2018). Kecurigaan petugas semakin menjadi lantaran perempuan belia itu tidak pakai alas kaki sejak masuk terminal hingga naik bus jurusan Ponorogo.bSetelah diinterogasi, SAN mengaku sebagai santri Pondok Pesantren Darussalam, Kelurahan Kampungdalem, Tulungagung. SAN mengaku ingin pulang ke Ponorogo. Namun tak ingin usaha pulang kampung tanpa izinnya itu ketahuan pengurus pondok. Kejadian ini menjadi seolah ada diskriminasi perlakuan terhadap wanita bercadar di terminal. (Tribun-Medan.com, Rabu, 16 Mei 2018 08:02).

Jika dikaitkan dengan teori, sudah terjadi “Stereotype” terhadap kaum muslim. Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat. Mereka menyeragamkan kaum muslim sebagai orang-orang yang anarkis, penjahat, dan bahkan sebagai teroris. Karena melihat dengan beberapa peristiwa peritiwa yang melibatkan kaum muslim, yang menguatkan penilaian seperti itu terhadap kaum muslim, walaupun sebenarnya tidak semuanya kaum muslim seperti itu.

Petisi ini merupakan langkah awal dan sederhana kami, warga SURABAYA khususnya, untuk memberikan dukungan moral kepada kawan-kawan kita yang sudah berbuat untuk menjalankan agamanya sesuai sunnah dan ketetapan Al-Qur’an dengan baik.

Memakai atribut muslim secara sempurna itu butuh tekad dan komitmen yang kuat...

Apa kita tidak bisa menghargai dan bersosialisasi dengan mereka??

karena itu petisi ini adalah BENTUK DUKUNGAN KAMI untuk membantu menyerukan keresahan hati kawan-kawan kita yang sudah bersungguh-sungguh untuk berhijrah..

Kami berharap dengan adanya petisi ini, kawan-kawan muslim kita mengetahui bahwa mereka mendapat dukungan penuh dari masyarakat untuk terus menguatkan bahwa kita bisa hidup bersama dan harmonis..

bagi masyarakat SURABAYA khususnya dan seluruh masyarakat INDONESIA, SILAHKAN DENGAN SENANG HATI IKUT BERGABUNG dalam petisi ini. sebagai bentuk dukungan ANDA yang menghargai keberagaman dan kebhinekaan..

Dukungan ANDA berarti untuk membangkitkan MORAL kawan-kawan MUSLIM kita...

 

#SAVEMUSLIM!

#DEENASSALAM!

#ISLAMBUKANTERORIS!

#SAVESURABAYA!

#SAVEINDONESIA!



Hari ini: Fega mengandalkanmu

Fega Ekbiantari membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "ISLAM INDONESIA: Atribut Muslim bukan Alat Terorime !". Bergabunglah dengan Fega dan 260 pendukung lainnya hari ini.