Jadikan Program TVRI Sebagai Patokan Belajar Dari Rumah

Jadikan Program TVRI Sebagai Patokan Belajar Dari Rumah

0 telah menandatangani. Mari kita ke 10.000.


Salam Pendidikan Nasional

Selama pandemi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengharuskan siswa untuk belajar dari rumah. Tapi ada beberapa kendala.

Siswa SD di Bukit Temulawak harus berjalan ke atas bukit untuk mencari sinyal internet agar pembelajaran online bisa berjalan lancar.

Siswa di Sidrat belajar di tepi jurang untuk mendapat koneksi internet yang stabil. Mereka harus belajar bersama karena sejumlah anak tak punya hp atau laptop untuk belajar online.

Siswa SD di flores berjalan kaki 1 jam lebih mencari sinyal untuk pembelajaran online.

Tak mampu beli hp untuk belajar online, guru datang ke rumah murid untuk melakukan proses belajar mengajar.

Kebijakan belajar online memang baik untuk mencegah penularan virus di sekolah. Tapi harus diimbangi dengan cara lain. Karena gak semua rakyat indonesia mampu beli gadget. Gak semua daerah dijangkau sinyal internet. Gak semua orang tua melek teknologi.

Belum lagi biaya kuota internet yang mahal. Kalau dalam 1 keluarga ada 3 orang anak aja, berapa biaya yang orang tua harus keluarkan? Sementara kita belum tahu kapan pandemi akan berakhir dan siswa kembali ke sekolah. Jika ini terus terjadi, maka hanya orang kota dan yang kaya saja yang makin pintar.

Program Kemendikbud “Belajar dari Rumah” di TVRI mungkin bisa jadi jawabannya. Tapi saat ini tayangannya cuma 30 menit setiap hari untuk setiap level pendidikan. Tentu ini gak cukup. Harusnya tayangan belajar dari rumah di TVRI diperbanyak jadwal tayangnya, sehingga bisa benar2 dimanfaatkan guru sebagai patokan pembelajaran setiap hari.

Karena itu saya mengajakmu meminta kepada Mendikbud Nadiem Makarim memperbaiki program Belajar dari Rumah di TVRI.

Saat ini TVRI sudah menjangkau seluruh wilayah Indonesia, sementara internet belum. Harusnya pemerintah bisa memanfaatkan TVRI sebaik-baiknya untuk pendidikan.

Banyak pelajaran-pelajaran yang bisa dilakukan melalui media berita ini, seperti sejarah, biologi, geografi, ekonomi, bahasa inggris, dll. Sistem PR dan pengumpulannya bisa dilakukan di sekolah secara berkala dan diatur dengan ketat, tanpa harus lewat tatap muka.

Sementara untuk pelajaran yang sulit melalui sistem jarak jauh seperti matematika dan fisika mungkin sistem tatap muka bisa dilakukan dengan aturan yang jauh lebih ketat dari aturan umum. Misal dibagi dengan 20% kehadiran secara bergantian. Di sini nanti fungsi pengawasan dari pemerintah dapat lebih diketatkan di lapangan, saya yakin hal ini tidak sulit.

Bantu dukung petisi ya teman-teman, sehingga gak ada lagi siswa yang harus jalan 1 jam hanya untuk cari sinyal, guru-guru yang mendatangi rumah siswa satu persatu, atau siswa yang harus mendaki bukit untuk dapat sinyal.

Salam

Rudi Suardi
Pemerhati Pendidikan Nasional