Tolong Jangan Eksploitasi Timnas Junior

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.



Animo penonton sepakbola Indonesia tak dapat diragukan lagi antusiasnya untuk memberikan dukungan tim kesayangannya.
Apalagi jika yang bertanding adalah tim nasional baik itu dilevel junior maupun senior.

Di negara-negara yang secara kultur sepakbolanya sudah mapan mungkin heran bin takjub terhadap antusias yang ditunjukan oleh suporter Indonesia dalam memberikan dukungannya terhadap timnas yang notabene masih berada dilevel juniorpun, semangat penonton untuk datang dan menyaksikan pertandingan langsung di stadion tak pernah surut.

Sangat wajar jika suporter timnas Indonesia memberikan dukungan yang begitu tinggi, meskipun yang bertanding cuma anak-anak muda belia, mengingat publik sepakbola tanah air begitu haus akan prestasi timnas kesayangannya.

Harapan akan sebuah prestasi untuk tampil ditingkat duniapun begitu terbuka, manakala beberapa waktu lalu timnas U17 dan U19 mendapatkan kesempatan emas untuk tampil dihajatan bergengsi piala dunia junior.
Namun sayangnya asa menuju Piala Dunia level juniorpun Timnas U9 berakhir setelah Garuda Muda ditebas Samurai Biru Jepang.
Hal yang sama persispun terjadi kala harapan Timnas U17 dipupuskan oleh Australia.

Rasa kecewa demi kecewa tiap kali melihat kegagalan timnas level junior maupun senior, sepertinya sudah menjadi hal yang biasa dan dianggap sesuatu hal yang lumrah untuk disaksikan.
Sebab, memang sepakbola Indonesia seperti sudah ditakdirkan untuk tidak berprestasi.
Sehingga, kegagalan tidak lagi menjadi monster yang menakutkan bagi Timnas Indonesia, ia (kegagalan) sudah menjadi sahabat sejati.

Lain halnya untuk negara sepakbola besar semisal Brazil, kegagalan adalah seperti sosok yang menakutkan yang dapat menghantui kemanapun dan kapanpun mereka pergi. Maka untuk menghindari hantu kegagalan tersebut, maka Timnas Brazil terus melakukan pembenahan agar tidak gagal dikemudian waktu.

Kepentingan segelintir oknum disinyalir menjadi biang keladi kegagalan timnas kita.
Contoh (kepentingan) itu dapat dilihat dengan kasat mata, dimana pemberitaan pemain yang masih junior di eksploitasi besar-besaran oleh media massa menjadi mesin pencetak uang melalui sponsor.

Kita masih ingat kala Evan Dimas dan kawan-kawan yang masih dilevel junior, yang kemudian berhasil menjadi juara AFF U19 saat menaklukan Korsel.
Saat itu, hampir seluruh insan sepakbola tanah air berhayal bahwa generasi emas sepakbola telah lahir. Dan tentunya berharap prestasi demi prestasi akan lahir sesudahnya.

Akan tetapi, harapan tinggal harapan. Seiring berjalannya waktu, Evan Dimas Dkk. lemah tak berdaya seperti kurang darah ditengah perjalanan.
Pertanyaan sederhananya kenapa bisa demikian ?
Jawabannyapun sudah disebutkan diatas. Salah satunya yaitu disebabkan oleh pemberitaan yang demikian hebohnya dari media massa dan sponsor yang mengeksploitasi Timnas junior bak bintang besar layaknya pemain (senior) profesional.
Bahkan ada salah satu stasiun televisi mensponsori kemanapun Timnas U19 berada, baik itu sesi latihan maupun laga uji coba.
Tujuannya tidak lain adalah momentum rating terbilang cukup tinggi yang melekat pada jawara AFF U19 2013 waktu itu.

Pemberitaan dari media massa dan sponsor dibelakang Evan Dimas Dkk. benar-benar memanfaatkan betul momentum keberhasilan Timnas U19 menjadi sebuah mesin pencetak uang melalui pemberitaan yang masif.
Maka, anak-anak muda yang sejatinya masih dalam pemusatan latihan agar fokus dalam meningkatkan mutu dan kualitas permainannya menjadi semakin berkembang, namun karena peran media massa yang menggembar gemborkan cerita Timnas U19 kala itu, akhirnya membuat para Garuda muda terbuai dalam euforia fantasi popularitas.
Belum lagi bonus dan tawaran iklan dari sponsor yang (sepertinya) membuat punggawa Timnas Junior terlena akan hitungan uang yang masuk ke kantong pribadinya kelak.
Maka hal itu tentu saja berimbas pada konsentrasi latihan.
Sehingga, punggawa Timnas U19 Evan Dimas Dkk. yang secara psikologis (sepertinya) sudah merasa menjadi super star, larut dalam hayalan semu tentang poularitas dan masa depan cerahnya akan materi, namun melupakan satu hal yaitu prestasi.
Alhasil dilapangan kemudian Evan Dimas Dkk. melempem bak kerupuk tersiram air.

Selanjutnya ketika punggawa muda tersebut beranjak ke level senior, mereka seperti tidak punya motivasi untuk meraih prestasi.
Sebab, tujuan dasar menjadi pesepakbola yaitu uang dan popularitas sudah didapat di usia prematur. Sehingga ketika para pemain tersebut berada dilevel yang seharusnya matang dan dapat berbuat sesuatu yang jauh lebih baik dalam hal prestasi, sebaliknya justru para pemain tersebut sudah busuk, karena sari patinya sudah diperas terlebih dahulu pada level juniornya.

Menyedihkannya lagi, hal tersebut masih berlanjut pada generasi berikutnya (Timnas U17 dan U19).
Sponsor dengan trengginasnya memanfaatkan calon bintang nasional masa depan semisal Bagus, Bagas dan Supriadi menjadi bintang iklan minuman berenergi.

Kebiasaan buruk media massa juga sponsor yang memberitakan secara masif dan menjadikan bintang iklan pemain binaan yang masih junior harus segera dihentikan.
Sebab, jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka yang terjadi adalah sebuah stagnasi generasi yang hanya sanggup berjaya dilevel junior.
Hal ini tentu saja akan menjadi proyek sia-sia dan juga membuat para pemain timnas junior menjadi bintang karbitan, yang matang oleh glamournya iklan pemberitaan media massa dan akan layu dilevel seniornya nanti.

Pemberitaan bagi timnas tentunya sangat diperlukan, tapi yang sewajarnya dan proporsional.
Bukan berarti kemudian mengeksploitasi pemain muda yang masih dalam taraf pembinaan dengan pemberitaan yang lebay, apalagi hingga merekrutnya menjadi seorang bintang iklan.
Pemberitaan yang sewajarnya bukan berarti menafikan perjuangan Garuda Muda, namun itu dilakukan semata-mata demi menjaga konsentrasi peningkatan mutu dan kualitas pemain muda berpotensi, agar motivasi Garuda Muda dapat terus terpelihara dan dapat mengejar prestasi setinggi mungkin.
Pun demikian dengan sponsor, juga dibutuhkan dalam kesertaannya membina pemain berbakat. Namun tidak lantas memanfaatkannya demi kepentingan bisnis semata. Akan ada masanya dimana sponsor Timnas menuai hasilnya (dalam segi bisnis) disaat para pemain Garuda Muda sudah dalam usia matang atau berada dilevel senior.

Lagi pula tidak pernah terdengar cerita pemain sekaliber Ronaldo, Lionel Messi ataupun Neymar menjadi pembicaraan publik apalagi menjadi bintang iklan saat masih junior.
Biarkan para pemain junior untuk terus belajar dan berlatih, karena justru diusia mudanyalah mereka dapat mengeksploitasi kemampuannya semaksimal mungkin, agar matang secara alami dan berprestasi dikemudian hari.

Ada filosopi dari Mbah Bagong mengatakan "When the stars above your head, they would be following where ever you go"
Jadi, pesan untuk para Garuda Muda adalah jangan khawatirkan tentang uang dan popularitas, karena ketika saat itu tiba, harta dan ketenaran pasti akan mengikuti kemanapun berada. Inilah tipikal kebintangan sejati yang lahir melalui sebuah proses yang alami.

Semoga pengurus PSSI dan seluruh jajarannya beserta Pemerintahan terkait melalui Kemenpora, memperhatikan betul hal ini dan membenahi aturan main sponsor agar tidak terlalu gegabah dengan pemberitaan yang berlebihan dan mengorbitkan pemain binaan junior menjadi bintang iklan.
Agar dikemudian waktu PSSI sebagai induk sepakbola tanah air benar-benar menghasilkan panen yang memuaskan dari para pemain yang sudah matang dilevel senior dan siap mengukir prestasi demi prestasi.



Hari ini: Indrato mengandalkanmu

Indrato # membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Imam Nahrawi: Tolong Jangan Eksploitasi Timnas Junior". Bergabunglah dengan Indrato dan 8 pendukung lainnya hari ini.